Dari ‘Rahim’ Siapa Lahir Pengusaha di Sumbar?


Selasa, 01 November 2016 - 01:12:40 WIB

PADANG, HALUAN — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatra Barat bekerja sama dengan Bank Mandiri menyelenggarakan diskusi publik bertema “Peranan Wirausaha Muda Mendorong Perekonomian Daerah” di Hotel Bumi Minang, Selasa (31/10). Salah satu hal yang mengemuka dalam diskusi tersebut adalah rendahnya jumlah pengusaha di Indonesia.

Praktisi kewirausahaan, Hen­­­­maidi, salah satu pem­bi­cara dalam diskusi itu me­nge­­mu­kakan data mengenai jum­lah pengusaha di sejumlah ne­ga­ra dari total penduduk di ne­gara bersangkutan. Di Ame­ri­ka Seri­kat terdapat 12 persen pe­­ngusaha, di Jepang 10 per­sen, di Cina 7 persen, Korea Se­la­tan 4 persen, dan Malaysia 2,1 persen. Sementara di Indo­ne­sia, jumlah pengusahanya 1,6 per­sen dari jumlah pendu­duk.

Menurut dosen Fakultas Tek­nik Universitas Andalas itu, ne­gara maju memiliki seti­dak­nya 2 persen pengusaha. Se­ma­kin banyak pengusaha, se­ma­kin maju sebuah negara. Ka­re­na itu, Indonesia mesti me­la­hir­k­an banyak pengusaha ba­ru.

Bicara soal lahir-mela­hir­kan, tentu ada “rahim” yang men­jadi pelaku kelahiran itu. Sia­pakah “rahim” yang mela­hirkan pengusaha di Sumatra Ba­rat? Ha­luan menanyakan per­ta­nya­an ini kepada sejumlah pem­bicara yang berasal dari la­tar belakang yang berbeda-beda.

Menurut Henmaidi, “ra­him” yang melahirkan pengu­saha dari sudut pandang aka­demik adalah pengetahuan. Menu­rutnya, tanpa penge­tahuan tentang usaha, se­seorang tidak bisa menjadi pengusaha. Ber­kai­tan dengan itu, perguruan tinggi di Indo­nesia sudah mengajarkan mata kuliah kewi­ra­usahaan. Namun, kurikulum kewirausahaan ter­sebut me­muat materi yang tidak menga­jar­kan mahasiswa menjadi pe­ngu­saha, tetapi menjadi kon­sultan bisnis. Se­lain itu, kuri­kulum tersebut terlalu banyak wa­cana dan sedikit praktik. Ka­rena itu, ia berpendapat bahwa kurikulum tersebut mes­ti dire­visi karena upaya pembe­kalan harus di­mulai dari kuriku­lum.

Sementara itu, Ketua Him­pu­nan Pengusaha Muda Indo­nesia (Hipmi) Sumbar, Zigo Rolanda, saat diajukan perta­nyaan tersebut menuturkan, “rahim” yang melahirkan pe­ngu­saha adalah mental dan iklim. Karena itu, Himpi me­miliki berbagai program untuk men­cip­takan tiga hal itu.

Beberapa program terse­but, antara lain Hipmi Go To School untuk pelajar SLTA, dan Hipmi Go To Campus untuk mahasiswa. Anggota DPRD Sumbar itu menjelaskan, pela­jar dan mahasiswa adalah calon pengusaha. Karena itu, pihak­nya berusaha membangun men­­­tal pengusaha pada pelajar dan mahasiswa.

Mengenai iklim, kata Zigo, hal itu berkaitan dengan ling­ku­ngan. Bila ingin menjadi pengusaha bertemanlah de­ngan pengusaha untuk mencip­takan iklim sebagai pengusaha.

Jika mental dan iklim men­jadi pengusaha sudah ter­ben­tuk, menurut Zigo, barulah seseorang bisa melihat dan memanfaatkan peluang usaha.

Acara diskusi tersebut juga dihadiri Kepala Cabang Bank Mandiri Padang, Taufik Am­rullah, yang mewakili Bank Mandiri Sumbar. Menurutnya, sa­lah satu hal yang melahirkan wirausaha adalah modal (ka­pital). Bicara soal modal, pi­hak­nya sudah membantu ba­nyak pelaku usaha di Sumbar melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) de­ngan program Wirausaha Muda Mandiri (WMM) sejak 2007.    

Ia menjelaskan, Bank Man­diri menyeleksi pengusaha muda yang sudah menjalankan bisnis minimal setahun untuk diberi modal. Namun, Bank Mandiri tak puas dengan hasil­nya. Sejak 2012, Bank Mandiri mengajak anak muda ber­ga­bung dengan WMM. Syarat­nya, usahanya berbasis digital agar pemasaran produk tak terbatas daerah. Dari program WMM itu, Taufiq mengklaim bahwa Bank Mandiri sudah menciptakan rrahiman pengu­saha muda di Sumbar.

Sementara itu, Wakil Wali Ko­­ta Padang, Emzalmi, yang di­undang sebagai narasumber pa­­da diskusi itu mengatakan, pe­merintah memiliki peran me­motivasi, memfasilitasi, dan membuat regulasi untuk pe­ngu­­saha.

Mengenai fasilitas, me­nu­rut Emzalmi, pasar adalah sa­lah satu fasilitas yang dise­dia­kan pe­merintah untuk mela­hir­kan pengusaha. Di Padang, pa­sar merupakan tempat awal se­se­orang menjadi pengusaha. Anak-anak muda awalnya be­ker­ja pada usaha familinya di pa­sar. Setelah memiliki pe­nga­laman, mereka kemudian mem­ba­ngun usaha sendiri. De­mi­kian juga dengan ma­ha­siswa yang memanfaatkan lrahimr se­mes­ter untuk ber­dagang di pa­sar dengan mem­buka lapak-la­pak kecil.

Karena menyadari kebe­ra­da­an pasar penting, kata Em­zal­mi, pihaknya membenahi pa­sar-pasar di Padang. Di kota itu ada satu pasar pusat, yakni Pa­sar Raya Padang, dan 7 pasar sa­telit yang diupayakan men­ja­di pasar yang representatif. Sa­at ini, di pasar-pasar tersebut ter­dapat 80 rrahim pelaku UM­KM. Pembe­nahan pasar adalah sa­lah satu upaya menambah jum­lah pe­laku UMKM terse­but.

Mengenai kebijakan dari segi regulasi, Emzalmi menga­takan, Pemko Padang memiliki perda investasi bebas pajak selama dua tahun. Perda ter­sebut merupakan bentuk Pem­ko Padang melahirkan pe­ngusaha karena memberikan waktu untuk pengusaha ber­kembang dan berdiri kuat. Setelah dua tahun, barulah pengusaha tersebut diwajibkan membayar pajak. (h/dib)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 24 Maret 2020 - 19:14:29 WIB

    Apes! Dana Asing Rp125 T Minggat dari RI

    Apes! Dana Asing Rp125 T Minggat dari RI JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang keluar (capital outflow) dari dalam negeri mencapai Rp125,2 triliun sepanjang tahun ini. Aliran dipicu kekhawatiran investor atas penyebaran.
  • Jumat, 13 Maret 2020 - 10:16:02 WIB

    Dampak Corona, Harga Nangka Muda Lebih Mahal Dari Ayam

    Dampak Corona, Harga Nangka Muda Lebih Mahal Dari Ayam JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Ketakutan akan virus corona dirasakan oleh seluruh masyarakat dunia. Sayangnya ada banyak kabar yang membuat orang salah paham, termasuk soal makanan..
  • Senin, 09 Maret 2020 - 18:28:06 WIB

    Fantastis..! Aset Sitaan dari Tersangka Jiwasraya Capai Rp13,7 Triliun

    Fantastis..! Aset Sitaan dari Tersangka Jiwasraya Capai Rp13,7 Triliun JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Kejaksaan Agung (Kejagung) menyatakan nilai aset yang disita dari para tersangka tindak pidana korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) mencapai Rp13,7 triliun. Nilai aset para tersangka ini masi.
  • Selasa, 03 Maret 2020 - 13:15:25 WIB

    Virus Corona Picu Modal Asing Hengkang dari RI

    Virus Corona Picu Modal Asing Hengkang dari RI JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Penyebaran virus corona (Covid-19) menimbulkan kekhawatiran di pasar saham. Imbasnya, investor asing beramai-ramai melarikan modalnya kepada aset-asetsafe haven seperti emas dan surat utang (.
  • Senin, 24 Februari 2020 - 07:59:33 WIB

    Indonesia Dicoret dari Negara Berkembang, Bantuan Bea Masuk Terancam

    Indonesia Dicoret dari Negara Berkembang, Bantuan Bea Masuk Terancam JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menilai keputusan Amerika Serikat mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang berpotensi membuat RI kehilangan fasilitas perdagangan ekspor.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM