Munir Oh Munir!


Selasa, 01 November 2016 - 01:16:38 WIB
Munir Oh Munir! Ilustrasi.

Di negeri kelahirannya, Indonesia, Said Munir Thalib atau lebih dikenal dengan sebutan Munir masih diselubungi kabut misteri. Bahkan kini, dengan sangat tragis, berkas-berkas penelusuran fakta terkait tewasnya Munir diberitakan hilang. Karena itu, dapat dipastikan, penelusuran kebenaran terkait ini akan semakin sulit. Ibarat menelusuri bagaimana dinosaurus akhirnya punah, begitulah kisah Munir ke depan. Bedanya, kisah dinosaurus punah karena tidak ada saksi hidup, sedangkan kisah Munir “punah” karena enggannya saksi untuk hidup. Logikanya sederhana sekali, tak mungkin Munir tidak dibunuh.

Fakta-fakta sudah banyak mengarah ke situ. Lebih jauh, ti­dak mungkin sang pem­bu­nuh tidak tahu alasan me­nga­pa dia membunuh. Barang­kali, seperti kisah-kisah kon­spiratif yang sering kita tonton di film, sang pembunuh kini diancam atau dikunci mulut­nya dengan berbagai bonus dan guyuran fee. Taktiknya seperti inti­mi­dasi lunak, beri­kan ancaman sekaligus tawa­ran. Walhasil, Munir tetap men­jadi teka-teki abadi di negerinya.

Tetapi tidak di Belanda. Ta­hun lalu, nama Munir di­aba­dikan sebagai nama jalan dan sejajar dengan nama be­sar, seperti Martin Luther Jr, Mo­­ther Teresa, M. Gandhi, dan se­­­­bagainya. Tidak mudah mem­­­­­buat nama seseorang men­­­­jadi nama jalan. Perlu per­se­­tujuan, identifikasi, dan pe­ne­litian lebih dalam. Lebih ti­dak mudah lagi kalau sampai me­ngabadikan nama se­se­orang yang bukan dari nega­ra­nya. Maka, ketika Belanda me­ngabadikan nama orang yang bu­kan dari Belanda, hal ini ten­tu menjadi sebuah isya­rat bah­wa Munir bukan orang sem­barangan.

James Bond dan Detektif Conan

Dia orang disegani yang sejatinya harus mendapat peng­­­hormatan lebih tinggi di ne­gerinya. Pertanyaannya, mengapa Munir justru men­jadi “kelinci”, bahkan dicoba dihilangkan dari ingatan bang­sanya di negerinya? Inilah yang saya sebut tadi sebagai kisah konspirasi, mungkin serupa film James Bond atau­pun Detektif Conan. Tentu saja secara universal film itu sangat berkesan dan sangat menyenangkan. Bahkan bagi orang Inggris, film ini meru­pakan lambang kebanggaan.

Bagaimana tidak, James Bond pada akhirnya selalu menyelamatkan aset negara da­ri berbagai serangan. Sama hal­nya dengan James Bond, De­tek­­tif Conan pun kurang lebih membicarakan hal yang sama. La­lu, apa relevannya dengan kisah Munir? Bukan­kah Mu­nir merupakan kisah nyata, se­mentara Detektif Conan dan Ja­mes Bond hanya dunia fiksi? Bu­­kankah pula apa yang dipe­cah­­kan oleh Ja­mes Bond dan De­­tektif Co­nan adalah hal yang berbe­da de­ngan apa yang akan di­pe­cahkan oleh negara ter­­ha­dap teka-teki Munir? Be­tul, me­reka adalah kisah yang sangat berbeda. Tokoh dan tek­­nolo­ginya saja sudah ber­be­da.

Akan tetapi, jika negara benar-benar tidak mau melem­par batu sembunyi tangan, kita yakin, kisah Munir tidak seribet masalah yang dihadapi James Bond dan Detektif Conan. Kita yakin pula, kisah ini tidak akan sampai setua ini: hampir 12 tahun tanpa jejak. Celakanya, setelah sela­ma ini, dipastikan karakter mereka yang terlibat dalam “pembantaian” Munir sudah mungkin berbeda. Mereka yang dulu gendut barangkali kini sudah kurus. Atau, me­reka yang dulu bugar barang­kali sudah mulai oleng.

Bisa saja daya nalar dan ingatannya yang dulu masih kuat, sekarang malah lemot atau sengaja dan pura-pura dilemotkan. Atau, jangan-jangan beberapa dari mereka kini sudah tiada sehingga kumpulan informasi yang sejatinya dapat kita peroleh pun menjadi tiada. Artinya, ki­sah Munir kini mendesak un­tuk diselesaikan. Kalau tidak, beberapa tahun ke de­pan, mereka yang dulu ikut berpar­tisipasi “membantai” sudah akan tiada pula. Apabila skema ini terjadi, seperti Supersemar yang masih samar-samar, kisah Mu­­nir pun akan se­lamanya men­jadi misteri yang samar yang kelak menjadi pudar sehingga generasi pe­nerus akan membacanya se­bagai kekejaman negara yang meng­hilangkan jejak sejarah.

Hal itu semakin tegas kare­na Munir bukan semata Mu­nir. Dia sudah menggejala menjadi personifikasi dari hilangnya HAM. Dia sudah beranjak pula menjadi masa­lah internasional. Jadi, Munir bukan semata Said Munir Thalib, bukan semata istri dari Suciwati, bukan pula sekadar ayah dari Alif dan Diva. Di baliknya, ada tubuh dan nya­wa yang meregang yang mela­hirkan ketakutan “massal”. Seperti kata Al Araf, pem­bunuhan terhadap Munir bu­kan sekadar pembunuhan ter­hadap abah dari Alif dan Diva, melainkan tindakan amoral yang mencederai kehidupan politik yang demokratis.

Maka, kasusnya tentu ha­rus menjadi agenda prioritas di antara yang prioritas. Benar, ba­rangkali kisah Munir penuh de­­ngan kelam dan bercak-ber­cak sejarah. Masalahnya, pan­tas­­kah kita mencuci ber­cak-ber­­cak sejarah itu dengan da­rah-darah anak bangsa? Pan­tas­kah sejarah juga disim­pang­siur­kan oleh hanya ka­re­na ala­san kekelaman kisah? Pan­tas­kah negara berdiam diri mem­biarkan rakyat yang me­nan­­ti-nanti keterangan seja­rah?

Percayalah, sekali saja kita mem­buka keran untuk me­neng­­gelamkan kisah, kita se­be­narnya sudah membuka pe­luang untuk meneng­ge­lam­kan kisah un­tuk kedua ka­li, ke­tiga ka­li, dan selan­jutnya. Artinya, tidak ada to­leransi bagi siapa pun, ter­ma­suk negara untuk meneng­gelamkan sejarah. Semuanya harus serba terbuka. Nelson Mandela mengatakan, We For­give, but not forgotten.

Peran Heroik dan Protagonis

Nah, atas dasar itulah ke­mu­dian kita mendesak agar pemerintah Jokowi-JK sese­gera mungkin mengusutnya dan jangan ketinggalan kapal terlalu jauh dari negeri lain, seperti Belanda. Buat jadwal semacam target yang tetap, kapan harus memulai, men­da­lami, dan mengkahirinya de­ngan terang. Saya yakin, kisah ini tidak seribet kisah James Bond dan Detektif Conan. Hanya butuh kejer­ni­han hati untuk menun­tas­kannya.

Di atas segalanya, kita ya­kin pula, Jokowi-JK adalah so­­sok yang mendengar rakyat. Me­­­mang ada keraguan dan ke­ke­­­cewaan ketika pada akhir­­nya tim ini malah me­nem­­pat­kan politisi sebagai Ke­­men­kum­ham dan Jaksa Agung. Hal ini barangkali men­jadi “sa­ran” tersirat dari  Hen­dro Pri­yo­­­no, sosok yang ma­sih aktif di BIN ketika Munir “diban­tai”, yang be­be­ra­pa wak­tu lalu men­­jadi orang penting di Ru­mah Transisi. Akan tetapi ha­rus digemakan lagi bahwa peng­­harapan kita pada Joko­wi-JK bukan tanpa ala­san dan da­­­sar. Jokowi-JK selalu meng­as­­ta­kan, menolak negara le­mah.

Maka, setelah Pollycarpus bebas, setelah 12 tahun ber­lalu, setelah menjelang 18 tahun reformasi bergulir, sete­lah Belanda menghagai Mu­nir, kita berharap kisah Munir bukan lagi sesuatu yang tabu untuk dibuka sebab suara yang dulu digaungkan Munir bu­kanlah suara sumbang, me­lain­kan suara kritis.

Dan kita ketahui bersama, suara-suara kritis itu bukanlah ancaman keamanan nasional, melainkan kekayaan pemi­kiran yang menghidupkan politik itu sendiri. Jokowi-JK tidak perlu setangguh James Bond dan Detektif Conan, tetapi cukup dengan kejer­nihan hati karena ini tidak semata atas nama bangsa, tetapi juga atas nama kema­nusiaan, kehidupan, kete­rangan sejarah, dan kepastian hukum masa depan! Tegasnya, Munir harusnya mendapat penghargaan setimpal di ne­gerinya. Masalahnya adalah, apa kita mau. Buktinya, berkas yang sudah dicari, bahkan ada tim pencari fakta untuk itu, malah hi­lang begitu saja. Bukankah ini lucu untuk ti­dak me­nyebut men­­jeng­kal­­kan se­ka­­li­gus tak ber­adab? ***

 

RIDUAN SITUMORANG
(Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Medan)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 07 November 2016 - 00:45:25 WIB

    Menemukan Munir yang Hilang

    Menemukan Munir yang Hilang Dua belas tahun silam, tepatnya pada tahun 2004, Indonesia dikejutkan oleh meninggalnya seorang aktivis HAM, Munir Saib Thalib. Kematianya menimbulkan kegaduhan politik yang menyeret Badan Intelijen Negara (BIN) dan instituti.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM