POTRET WARGA MISKIN DI PESSEL

Gubuk Reot Rosmaniar Tak Tersentuh Pemerintah


Kamis, 03 November 2016 - 00:24:47 WIB
Gubuk Reot Rosmaniar Tak Tersentuh Pemerintah KONDISI rumah nenek Rosmaniar (72), warga Kampung Pelangai Kecil Hilir, Kenagarian Pelangai, Kecamatan Ranah Pesisir, Pesisir Selatan. Puluhan tahun tinggal di Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan belum tersentuh bantuan pemerintah. (OKIS MARDIANSYAH)

Sepertinya kisah hidup yang menyedihkan dan memilukan sudah menjadi persoalan klasik bagi kita semua. Di zaman yang katanya sudah modern dan serba canggih ini, ternyata kita belum sepenuhnya merdeka. faktanya masih banyak ditemui disejumlah daerah mereka yang masih terbelenggu oleh kemiskinan.

Seperti kisah seorang nenek yang bernama Ros­maniar (72), warga Kam­pung Pelangai Kecil Hilir, Kenagarian Pelangai, Ke­camatan Ranah Pesisir, Ka­bupaten Pesisir Selatan (Pes­sel). Betapa tidak, diusianya yang semangkin senja, ia terpaksa hidup sendiri dan tinggal disebuah Rumah Ti­dak Layak Huni (RTLH) berukuran sekitar 4X6 meter persegi dengan lantai bera­laskan tanah serta dinding yang terbuat dari papan yang lapuk dimakan usia.

Tidak hanya itu, saat ini nenek Rosmaniar juga tengah menderita penyakit asam urat dan sudah komplikasi, ter­kadang sekujur tubuhnya juga bengkak-bengkak dan sulit untuk digerakkan.

Rifna (32), merupakan anak  perempuan (bungsu), yang selama ini menetap di Jakarta, mendengar kabar orangtuanya sedang sakit-sakitan, akhirnya memu­tuskan untuk pulang kam­pung bersama suaminya Idon (38), dan membawa seorang anak laki-laki yang masih balita.

Kepada Haluan ia me­ngatakan, orangtuanya itu memiliki empat orang anak kandung, yakni tiga laki-laki dan satu perempuan. Namun, kepada saudara laki-lakinya itu tidak bisa berharap ba­nyak, karena juga dibatasi faktor ekonomi. Sedangkan Ayahnya yang bernama Is­mael, sudah lama meninggal sekitar 14 tahun silam.

“Saya sudah dua bulan lebih di kampung, dan berniat ingin membantu ‘Amak’ dan merawatnya sampai sembuh. Saudara laki-laki saya tidak bisa diharapkan lagi, hidup mereka juga serba pas-pa­san,” terangnya kepada Ha­luan, Rabu (2/11).

Diceritakannya, hari ke hari orangtuanya hanya mam­pu mengkonsumsi obat-obatan tradisional dan tablet dari warung. Ini tdilakukan karena faktor biaya. Untuk sehari-hari, beliau tidak bisa lagi karena penyakit yang dideritanya sudah komplikasi hingga ke Jantung.

“Rumah ini dahulunya dibangun dari bantuan juga, dan tanah ini adalah Hibah dari saudara ‘Amak’. Namun, sampai saat ini bantuan ter­sebut sudah jarang kami terima, dan kami tidak bisa lagi berbuat apa-apa, cukup untuk makan dan bertahan hidup saja itu sudah syukur,” ucapnya dengan nada miris.

Meski hidup pas-pasan, lanjutnya, namun dalam hati ia sangat berharap adanya bantuan dari Pemda se­tem­pat, ataupun uluran tangan dari para dermawan yang tersentuh hatinya dengan kondisi tersebut. Sebab, bila masih bertahan lama di da­lam rumah reyot itu, maka suatu saat akan roboh dan ambruk menimpa mereka.

“Padahal seminggu yang lalu, ada orang berpakaian dinas datang ke kampung ini. Mereka terlihat seperti me­ngukur sebuah rumah milik tetangga. Namun, anehnya rumah kami tidak diliriknya, padahal kalau dibandingkan dengan kasat mata, rumah tetangga itu masih layak untuk ditempati, sedangkan rumah kami termasuk tidak layak huni. Saya juga tidak tau alasannya kenapa,” kata­nya dengan nada polos.(*)

 

Laporan: OKIS MARDIANSYAH


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM