Cabai Makin ‘Pedas’


Kamis, 03 November 2016 - 00:46:07 WIB

Cabai bukanlah termasuk Sembilan kebu­tuhan pokok. Namun, ketika harga cabai terus merangkak naik, para ibu-ibu rumah tangga pada terpekik. Saat ini, harga cabai di pasar-pasar tradisionil di  Kota Padang dan sejumlah kabupaten/kota di Sumbar, sudah mencapai Rp.80 ribu per kilo gram (KG). 

Makin pedasnya harga cabai, menurut  Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dis­perindag), disebabkan oleh kekurangan stok. Faktor yang menyebabkan kurangnya stok adalah faktor cuaca atau cuaca ekstrim yang terjadi akhir-akhir  ini di Sumbar.

Tapi, benarkah curah hujan yang tinggi mengakibatkan  panen cabai berkurang? Ternyata tidak juga.  Banyak varietas cabe keriting lokal Indonesia yang tahan terhadap hujan. Hal ini karena varietas ini telah diturunkan secara turun-menurun sehingga sangat sesuai untuk daerah lokal penanaman. Varietas keriting lokal yang tahan terhadap hujan misalnya keriting lokal Kudus, Rem­bang, Lampung, Sumatera Barat, Garut, Ka­ro, dan sebagainya. Selain cabe local daerah, ada cabe keriting local yang telah diseleksi perusahaan benih misalnya laris (East West seed), cemeti (Chia-Thai seed), select keriting (selektani), tampar (sang Hyang Seri), andal, prima, dan sebagainya.

Bahkan cabai varietas cemeti yang merupakan cabe keriting seleksi dari cabai keriting lokal yang banyak ditanam di Indonesia, lebih tahan penyakit. Varietas ini sangat baik dan sangat sesuai untuk ditanam dimusim hujan. Bentuk buah kecil, panjang, dan keriting. Warna buah merah cerah pada saat masak dengan rasa buah yang sanga pedas. Panen perdana dapat dilakukan pada 75-85 ton/ha.

Dari kajian itu, sebenarnya factor  cuaca seharusnya tak jadi alas an menaikkan harga cabai. Karena, cabai yang ditanam petani di Sumbar saat ini, rata-rata bervarietas keriting local dan varietas cemeti sehingga ketakutan akan kekurangan stok juga tak tepat. Namun faktanya, stok cabai di pasar memang jauh lebih sedikit, tapi diyakini bukan karena berkurangnya hasil panen.

Dari pengamatan yang dilakukan, faktor lain yang menyebabkan stok minim adalah karena ketidakmampuan pemerintah meng­atur tata niaga cabai. Akibatnya, cabai hasil pertanian Sumbar lebih banyak dibawa ke provinsi tetangga seperti Riau. Mungkin harga cabai di Riau masih jauh lebih tinggi dari di Sumbar, sehingga para pedagang lebih memilih menjual cabainya ke Riau daripada menjual ke pasar-pasar tradisionil di Sumbar, dengan harapan dapat untung besar.

Kondisi ini persis sama dengan pemba­hasan soal kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP). Kalau bisa memilih, para pekerja mungkin lebih suka pemerintah mengatur tata niaga kebutuhan pokok dari pada menaikkan UMP yang tak lebih Rp.150 ribu per bulan.   Bayangkan, harga normal cabai biasanya hanya berkisar Rp.15-20 ribu per kg. Jika di bandingkan harga saat ini yang mencapai Rp.80 ribu per kg, maka ada selisih harga Rp.60 ribu per kg. Sedikitnya, kebu­tuhan cabai sebulan untuk satu keluarga minimal 3 kg. Artinya, untukmembeli cabai saja, kenaikan UMP itu sudah tidak cukup. Belum lagi, bila harga kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan pokok lainnya juga naik. Maka, dapat dipastikan, kenaikan UMP tak ada artinya. Ini yang mesti kita pahami bersama. ***


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 25 April 2019 - 21:32:42 WIB

    20 Petani Sumbar dan Banten Dilatih Penanganan Cabai Segar di Balitbangtan

    20 Petani Sumbar dan Banten Dilatih Penanganan Cabai Segar di Balitbangtan JAKARTA, HARIANHALUAN.COM – Cabai selama ini lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk segar. Namun, terkadang penyimpanan produk segar menjadi masalah tersendiri bagi petani. .
  • Rabu, 30 November 2016 - 00:58:22 WIB

    Jangan Anggap Remeh Harga Cabai

    Jangan Anggap Remeh Harga Cabai SUDAH menjadi rahasia umum bahwa antara jumlah persediaan dan jumlah permintaan terdapat kaitan erat dengan harga jual. Bila jumlah persediaan dan jumlah permintaan sepadan maka harga jual pun normal. Bila jumlah persediaan l.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM