Kenaikan Harga Cabai Picu Inflasi


Kamis, 03 November 2016 - 01:35:28 WIB
Kenaikan Harga Cabai Picu Inflasi Kepala Bank Indonesia (BI) Sumbar Puji Atmoko.

PADANG, HALUAN – Kenaikan harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Sumbar sejak beberapa hari terakhir, diprediksi akan menjadi penyumbang inflasi di daerah dalam beberapa bulan ke depanini. Pan­tauan hingga Rabu (2/11), harga cabai merah di pasaran menembus angka Rp80 hingga Rp90 ribu per kilogramnya.

“Cabai merah kembali menjadi komoditas utama penyumbang inflasi di Sum­bar. Tingginya curah hujan menjadi penyebab sejumlah sentra produksi cabai merah khususnya di Jawa mengalami gagal panen. Pro­duksi cabai lo­kal yang ter­ba­tas disertai gang­guan cua­ca, turut me­me­nga­ruhi ke­terse­diaan jumlah pa­sokan ko­mo­ditas stra­tegis tersebut di Sumbar,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) Sumbar Puji Atmoko, Rabu (2/11).

Dikatakan, laju inflasi Sum­bar telah berada di level yang tinggi, bahkan berada di atas laju inflasi nasional. Laju Inflasi bulanan Sumbar pada Oktober 2016, tercatat sebesar 0,54 persen. Meskipun sedikit menurun diban­dingkan dengan laju inflasi September 2016, yang mencapai 0,64 persen.

Berdasarkan pantauan TPID Prov. Sumbar, selama tahun 2016 (Januari-Oktober), terdapat be­berapa komoditas yang sering muncul sebagai komoditas pe­nyumbang inflasi, yaitu cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, dan beras. Untuk momen tertentu, tiket pesawat dan ko­moditas jengkol turut menjadi penyumbang inflasi khususnya pada saat lebaran, musim liburan sekolah dan tahun baru.

“Komoditas-komoditas ter­sebut selalu muncul setiap ta­hunnya sehingga membutuhkan upaya pengendalian yang lebih intensif,” katanya.

Terpisah, Kepala Dispe­rin­dag­tamben Kota Padang, Hen­drizal Azhar mengatakan, kelang­kaan cabai dan harga melambung tinggi ini sudah diprediksi sebe­lumnya. Hal ini sama seperti tahun lalu yang mengalami ke­langkaan di akhir tahun.

“Kami sudah prediksi ke­langkaan cabai ini akan seperti sekarang ini. Sama seperti tahun kemarin dan faktornya akibat cuaca dan distribusi yang banyak tersendat di jalan. Pasalnya, Kota Padang bukan produsen cabai, melainkan konsumen yang terus meminta pasokan dari luar dae­rah,” kata Hendrizal kepada Haluan, Rabu (2/11).

Dijelaskannya, faktor cuaca dikarenakan pada akhir tahun ini Indonesia sedang dilanda musim hujan. Akibatnya, banyak tana­man cabai yang gagal panen. Sedangkan distribusi terkendala pada truk ekspedisi. Dimana daerah-daerah yang dilalui oleh truk juga mengalami kekurangan stok cabai. Jadi banyak daerah yang meminta agar truk tersebut juga menurunkan beberapa bagian cabai.

“Kami tetap meminta tam­bahan cabai dari berbagai daerah seperti Kabupaten Agam, Lima­puluh Kota, Tanah Datar dan Solok. Bahkan di luar provinsi seperti Sumut, Sumsel, Lampung dan dari pulau Jawa. Memang di daerah ini sedang banyak gagal panen cabai karena musim hujan. Disamping itu, truk yang me­ngangkutnya juga banyak yang menurunkan persediaan untuk daerah yang dilaluinya. Karena kelangkaan cabai hampir merata di seluruh Indonesia, bukan hanya di Kota Padang saja,” katanya.

Mengantisipasi hal ini, Dis­perindagtamben telah berkoor­dinasi dengan Bulog dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk mengantisipasi kelangkaan dan harga cabai yang terus me­lam­bung. Kemudian, berkoor­dinasi kepada distributor agar truk pembawa cabai ke Kota Padang tidak mengalami gangguan sela­ma melakukan distribusi.

“Saat ini saja harga cabai di pasaran sudah melampaui Rp80 ribu. Kami sudah berkoordinasi dengan Bulog dan TPID untuk melakukan operasi pasar. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat sudah bisa direalisasikan. Di­samping itu, Kami juga akan memantau dan mengawasi truk ekspedisi selama melakukan dis­tri­busi dengan bekerja sama dengan distributor,” tuturnya.

Sementara itu Walikota Pa­dang, Mahyeldi Ansharullah meminta kepada seluruh masyarakat Kota Padang untuk menanam cabai di rumahnya. Jika setiap Kepala Keluarga (KK) menanam 10 poliback cabai dan langkah ini direalisasikan oleh 100.000 KK, bisa menghasilkan 1 juta poliback cabai. Hal ini bisa mengantisipasi kelangkaan cabai yang diprediksi hanya berlang­sung selama 3 bulan ke depan.

 

Gunakan Jalur Udara

Kepala Disperindag Provinsi Sumatera Barat, Aben Hendri melalui Kepala Bidang Perda­gangan dalam Negeri Sumbar, Zaimar mengatakan kekurangan cabai tidak hanya terjadi di Kota Padang. akan tetapi kondisi sudah melanda seluruh daerah di Sum­bar. Untuk itu, Pemprov Sumbar akan melakukan distribusi cabai dari provinsi lain maupun pulau Jawa melalui jalur udara.

“Karena persoalan cabai su­dah sangat gawat, kami berini­siatif untuk mendistribusi cabai dari provinsi lain melalui jalur udara. Tadi pagi sudah masuk cabe dari pulau Jawa sebanyak 15 ton dengan menggunakan pesa­wat. Ditambah lagi dari Curup, Provinsi Bengkulu sekitar 500 kilogram,” kata Zaimar kepada Haluan, Rabu (2/11).

Untuk kebutuhan masyarakat, dalam satu hari Sumatera Barat harus memiliki persediaan sekitar 20-24 ton cabai. Rata-rata daerah yang selalu mengirim cabai dalam skala besar adalah Pulau Jawa, Bengkulu dan Sumatera Utara. Namun, ketiga daerah ini juga sedang mengalami kesulitan karena faktor alam.

“Seperti Sumatera Utara. Yang paling banyak menghasilkan cabe itu adalah Kabupaten Karo dan disana sedang dilanda erupsi gunung Sinabung. Sedangkan Bengkulu dan Jawa sedang musim hujan. Jadi banyak gagal panen cabe didaerah yang selalu mengi­rimkan cabe ke Sumbar ini,” katanya. “Kami berharap pelaku usaha tidak memanfaatkan situsi ini,” tutupnya.

Sebelumnya Kepala Perwaki­lan KPPU Medan, Abdul Hakim Pasaribu mengatakan, produsen cabai merah Sumatera Barat lebih memilih menjual produksinya ke Provinsi tetangga seperti ke Riau dan Kepulauan Riau.(h/win/mg-ang)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM