Memplintir ‘Info Intelijen’ SBY


Jumat, 04 November 2016 - 00:43:59 WIB

Mantan Presiden RI keenam, Susilo Bam­bang Yudhoyono (SBY) langsung jadi sasaran tembak berbagai pihak terkait jumpa jumpa persnya di kediamannya di Cikeas, Bogor, Kamis (03/11). Kecaman SBY soal info intelijen soal penggerak demo yang bertajuk Aksi Bela Islam II, yang didanai oleh pihak tertentu atau partai politik, jadi berbalik arah. Niat baik SBY itu justru diplintir berbagai pihak  ‘terkesan sengaja dikon­disikan’ seolah SBY lah yang keba­karan jenggot soal info intelijen itu.

Dalam jumpa pers itu, SBY menyatakan berbahaya kalau ada informasi intelijen bahwa rencana aksi demo digerakkan atau didanai oleh pihak tertentu atau partai politik. Meski tidak menyebut siapa pihak yang dituduh menggerakkan aksi tersebut, SBY menyatakan, “Kalau ada info atau analisis intelijen seperti itu, saya kira ber­bahaya menuduh seseorang, kalangan, par­pol, melakukan seperti itu” SBY meng­anggap informasi tersebut fitnah.  Pertama, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kedua, menghina, rakyat bukan kelompok bayaran.

Reaksi SBY itu dituduh terlalu berlebihan.  SBY yang awalnya mencoba membela partai politik dan pihak-pihak yang dituduh men­danai rencana demo, Jumat,  4 November 2016, dinilai sudah melakukan blunder.

Padahal, demo yang digelar di sekitar Kompleks Istana Kepresidenan itu bertujuan untuk menuntut proses hukum terhadap calon gubernur DKI Jakarta nomor urut dua, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang dituduh melakukan penistaan agama. Demo itu merupakan respon atau aplikasi dari kemarahan umat Islam terhadap Ahok, tidak ada kepentingan politik di sini. Walau secara kebetulan, di DKI tengah berlangsung tahapan pemilihan gubernur/wakil gubernur, dimana Ahok dan anak SBY, Agus Yudhoyo­no sama-sama maju sebagai calon.

Presiden Jokowi justru mengatakan bah­wa yang namanya manusia (intelijen, red), kadang-kadang nggak benar. Bisa error, bisa ng­gak error. Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla menganggap pernyataan SBY itu ada­lah hal biasa yang tidak perlu ditanggapi ber­lebih.

Namun anehnya, yang bak cacing kepa­na­san itu justru kalangan pengamat atau praktisi. Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menilai, reaksi SBY yang seolah dituduh mendanai demonstrasi itu justru membuat masyarakat tahu bahwa Presiden keenam RI itu memang memiliki kepentingan. Terlebih lagi, reaksi SBY soal demonstrasi 4 November itu disampaikan SBY dengan nada yang emosional. Emosi itu menandakan bahwa SBY memang sebagai pihak yang berke­pentingan dalam demo tersebut.

Sama halnya dengan Julius dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLB­HI). Dia menilai, pernyataan itu afiliasi dari politik SBY. Sebab, informasi intelijen merupakan bahan mentah bagi peme­rintahan dalam menyatakan sikap politik. Untuk itu, pihak lain tidak berkepentingan bagi menyampaikan informasi tersebut.

Masyarakat juga tak perlu terprovokasi dengan pihak-pihak yang memplintir per­nya­taan SBY tersebut. Hanya akan mem­perkeruh suasana dan upaya pengalihan isu. Aksi ini untuk kepentingan Islam, bukan politik. Demo ini diawali ‘kekebalan’ hukum yang dimiliki Ahok. Karena itu perlu aksi untuk mendorong proses hukum agar bisa ditegakkan di Negara yang selalu dipro­kla­mirkan sebagai Negara hukum ini. ***


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM