BANTAH ADANYA PELECEHAN

Petinggi PT TKA Polisikan Pasutri


Senin, 07 November 2016 - 01:13:46 WIB

PADANG, HALUAN — Ke­pala Divisi Pengamanan PT Tidar Kerinci Agung (Kadiv PAM PT TKA) Dedi Su­prianto membantah dirinya melakukan pelecehan sek­sual terhadap salah se­orang office girl PT TKA ber­inisial UPK (40). Tak hanya membantah, Dedi juga melapor ke polisi karena merasa difitnah.

Dikatakan Dedi, dia me­ra­sa difitnah oleh UPK, karena telah melakukan perbuatan asusila. Selain itu, UPK telah mencemarkan nama baiknya akibat pem­beritaan tersebut. “Itu fitnah. Itu semuanya tidak benar dan bohong,” jelas Dedi, Minggu (6/11).

Dedi menjelaskan, per­soalan tersebut bermula pada tahun 2015, di mana beredar pesan gelap dari sebuah nomor 08217035 xxx yang tidak diketahui siapa sumbernya dan pe­milik nomor tersebut, yang menyebarkan fitnah bahwa dirinya dituduh telah ber­buat asusila terhadap ba­wahannya berinisial UPK.

Selain dia menerima SMS itu, katanya, ternyata SMS tersebut juga sampai kepada atasannya, yang menjabat sebagai Asisten Direktur Utama Bidang Hukum. Kemudian atasannya itu, langsung mengonfirmasi dengan menanyakan kepada yang ber­sangkutan UPK.

“Hasilnya, UPK menjelaskan tentang SMS tersebut tidak benar, fitnah. Dia mengaku tidak pernah terjadi hubungan apa-apa, antara UPK dengan saya,” ujarnya, meni­rukan yang disampaikan atasannya.

Dirinya juga pernah menanya­kan langsung kepada suami UPK, berinisial JN (43) yang juga bahawannya, kenapa sampai ada SMS yang memfitnahnya. “JN menjawab, bahwa pesan singkat tersebut berasal dari orang-orang yang tidak senang terhadap bapak (Dedi,red),” ujarnya.

Tidak sampai di situ, pada tanggal 20 September 2016, atasannya kembali mendapatkan pesan singkat dari nomor yang sama dengan tuduhan yang sama, bahwa dirinya mencabuli bawa­hannya.

Atas kejadian itu, lanjut Dedi, dia merasa telah dirugikan dan telah menyebarkan berita bohong dan pencemaran nama baik, maka dia mengambil langkah hukum, dengan membuat laporan polisi dengan nomor LP/203/X/2016/Polres Solok Selatan pada tanggal 3 November 2016, terhadap UPK dan JN.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Solsel, AKP Doni Arianto pada Haluan, Minggu (6/11) mem­benarkan adanya laporan pence­maran nama baik yang dilaporkan oleh Dedi Suprianto. “Ya benar, tak terima atas laporan UPK dugaan pelecehan seksual atau pemerko­saan, ia lapor balik atas pencemaran nama baik,” kata Doni.

Menurutnya, saat ini pihak­nya tengah melakukan penyeli­dikan dan telah meminta ketera­ngan saksi dari suami UPK. “Kita sudah periksa saksi korban dan suaminya. Untuk pembuktiannya butuh waktu, sebab kejadian sudah lama, sekitar satu tahun lalu dan telah terjadi sebanyak enam kali sejak November 2015 hingga Maret 2016,” lanjutnya.

Seharusnya, jika memang terjadi tindak perkosaan atau pelecehan seksual, semestinya korban langsung lapor dan tidak berlangsung berulang-ulang, sehingga untuk proses hukum dan pembuktian bisa cepat. “Ini laporan kok baru masuk sekarang, setelah lama sejak kejadian ter­akhir kalinya pada Maret 2016. Udah sekitar enam bulan baru lapor,” lanjutnya.

Sebelumnya, dugaan pelece­han seksual menimpa seorang ibu rumah tangga (IRT) yang bekerja sebagai office girl di PT Tidar Kerinci Agung (TKA), berinisial UPK. UPK mengaku sudah enam kali ditiduri paksa oleh atasannya di ruangan kantor.

Suami korban, JN (43) kepada Haluan, Jumat (28/10) mencerita­kan, perlakuan tidak senonoh terhadap istrinya tersebut, diduga dilakukan atasannya sendiri dengan inisial DS, yang menjabat sebagai kepala salah satu divisi di PT TKA.

Tidak terima dengan perla­kuan DS, lalu dia yang bekerja sebagai securiti PT TKA bersama istri serta keluarganya melaporkan pelaku ke pihak polisi dengan nomor LP/199/X/2016/Polres Solok Selatan, dengan tindakan pengancaman dan pelecehan sek­sual oleh pelaku terhadap istrinya. (h/mg-adl/jef)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 19 September 2016 - 03:57:01 WIB
    KPK BONGKAR KASUS GULA DI SUMBAR

    Petinggi Kejati Perlu Diperiksa

    Petinggi Kejati Perlu Diperiksa PADANG, HALUAN – Kasus suap yang melibatkan Farizal, Ketua Jaksa Penuntut Umum (JPU) perkara gula tanpa label SNI di Pengadilan Negeri (PN) Padang, tampaknya bakal berbuntut panjang. Pakar hukum Universitas Andalas (Unand) .
  • Selasa, 05 Mei 2015 - 18:44:58 WIB

    2 Eks Pejabat Sumbar Jadi Petinggi Kemen PU

    Dua orang eks pejabat Sumbar dilantik menjadi petinggi di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Keduanya a.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM