Gaji Tak Cukup, Salesman Kalap Gelapkan Uang Perusahaan


Selasa, 08 November 2016 - 08:57:37 WIB
Gaji Tak Cukup,  Salesman Kalap Gelapkan Uang Perusahaan ilustasi

PADANG, HALUAN -- Mengaku gaji sebagai sales (bagian pemasaran) di perusahaan distribusi Proviand and Drank (P&D) tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Irvan, seorang warga Kota Padang, memilih menggelapkan uang majikannya mencapai kurang lebih Rp33 juta. Akibatnya, ia mesti duduk sebagai terdakwa, di 'bangku panas' Pengadilan Negeri (PN) Padang, Senin (7/11).

 

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Anita menghadirkan empat saksi di persidangan yang dipimpin Sutedjo selaku hakim ketua, serta Yose Ana Rosalinda dan Nasorianto bertindak sebagai hakim anggota. Keempat saksi, antara lain Pemimpin Perusahaan Surya Garuda Mas Jalan AR Hakim nomor 35, Indra, serta empat karyawannya, Veronica, Rahmi dan Lisa.

 

Di hadapan hakim, Indra mengaku terdakwa telah bekerja sebagai sales di perusahaannya sejak Agustus 2015, dengan gaji pokok Rp1,8 juta/bulan, uang makan Rp10ribu/hari, dan uang bensin seharga dua liter setiap hari.

 

"Saya memberi gaji sesuai upah minimum provinsi (UMP). Kerja terdakwa adalah mencari pelanggan untuk memasukkan barang, seperti minyak goreng, kecap, tepung dan lain-lain. Selain itu, terdakwa juga bertugas mengambil tagihan ke pemesan untuk disetor ke kantor. Tagihan ini yang digelapkan,” kata Indra di depan hakim.

 

Menurut Indra, cara pembayaran di perusahaan miliknya menggunakan lembar faktur. Setelah pesanan diambil ke gudang dan diantar ke pemesan, sales yang berhubungan langsung dengan pemesan wajib menjemput tagihan dan mengantarnya ke kantor. Untuk yang belum membayar tagihan, faktur yang diserahkan ke kantor berwarna putih.

 

“Faktur warna putih ini artinya pemesan belum membayar. Biasanya memang ada yang begitu, tapi biasanya hanya dua-tiga minggu. Lalu, waktu saya cek faktur putih, ada yang sudah satu-dua bulan masih belum bayar. Total ada enam belas faktur seperti itu. Waktu saya cek ke pemesan, sebagian mengaku sudah bayar ke terdakwa, sebagian ada yang mengaku tidak pernah pesan, bahkan ada sebagian pemesan yang fiktif,” kata Indra lagi.

 

Di antara 16 faktur pemesanan itu, terdapat beberapa nama kafe dan restoran, seperti Cafe Karambia, Kinol Bistro, Coffetoffe, dan Happy Family. Namun, saat dicek ke kafe tersebut, pihak kafe mengaku telah lama membayar tagihan kepada terdakwa Irvan.

 

“Saya tanya ke terdakwa, diakuinya memang uangnya dipakai untuk keperluan. Habis itu saya lapor ke polisi,” tukas Indra.

 

Sementara itu, saksi Lisa yang bekerja sebagai kasir di Surya Garuda Mas, mengaku memang beberapa kali menyerahkan kembali faktur tagihan kepada terdakwa untuk diurus pembayarannya ke pemesan. Namun, terdakwa kembali menyerahkan faktur putih padanya, tanda pemesan belum bisa membayar. Selain itu, dua saksi lain, Veronica dan Rahmi, hanya bertugas sebagai staf pemesanan dan rekan sesama sales bagi terdakwa di lapangan.

 

Atas keterangan para saksi, terdakwa Irvan mengakui perbuatannya menggelapkan uang majikan (perusahaan). Namun, bapak dua anak itu berharap diberi kesempatan untuk menyicil utang ke perusahaan, dan bersedia bekerja kembali dengan posisi apapun.

 

Atas perbuatannya, Anita selaku JPU menilai terdakwa melanggar pasal 374 KUHP tentang penggelapan dengan ancaman penjara maksimal lima (5) tahun. Majelis hakim memutuskan melanjutkan persidangan pekan depan dengan agenda pembacaan tuntutan. (h/isq/mg-rul)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM