KUASA HUKUM SOAL PENANGKAPAN 5 AKTIVIS HMI

Ada Upaya Pengalihan Isu Kasus Ahok


Rabu, 09 November 2016 - 00:29:41 WIB
Ada Upaya Pengalihan Isu Kasus Ahok KOORDINATOR Tim Kuasa Hukum PB HMI M Syukur laporkan polisi ke Komnas HAM, Selasa (8/11) terkait penangkapan 5 aktivis HMI.

JAKARTA, HALUAN — Tim kuasa hukum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) me­nyatakan ada upaya pengalihan isu terkait upaya penangkapan paksa 5 anggota HMI oleh polisi. Menurut mereka, isu yang ingin dialihkan adalah kasus penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Polda Metro Jaya menang­kap 5 anggota HMI terkait aksi demo yang berujung ricuh tersebut. Kelimanya adalah Sekjen HMI Amijaya Halim, serta 4 anggota HMI yakni Ismail Ibrahim, Rahmat Muni, Romadon Reubun dan Mu­hammad Rizki Berkat.

Keempatnya ditangkap di lokasi berbeda di kawasan Jakarta Pusat dan Jakarta Sela­tan pada dini hari tadi. Mereka dijerat dengan Pasal 214 jo 212 KUHP karena melawan perintah petugas yang melakukan pe­nga­manan demo.

“Jangan ada pengalihan isu dong. HMI tetap tegas terhadap masalah penistaan agama ter­hadap Ahok. Itu penting, se­hingga kita tegaskan bahwa ini bukan kami tuntut cara me­ngadilinya. Tapi perbuatan itu berkonsekuensi terhadap sakit­nya perasaan umat Islam. Bu­kan tata cara menyelesaikan atau gelar perkara itu dilakukan secara live (terbuka), bukan itu yang kita maksud. Yang kita permasalahan adalah substansi dari pernyataan itu (pidato Ahok),” kata koordinator tim kuasa hukum PB HMI M Syukur Mandar di Kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhari, Jakarta Pusat, Selasa (8/11) seperti dilansir detik.com.

Terkait surat penangkapan kepada 5 anggota HMI yang sudah dijadikan tersangka oleh Polda Metro Jaya, Syukur me­ngatakan, seharusnya surat pe­nangkapan tersebut bisa diserah­kan kepada pihak keluarga, bila yang bersangkutan tidak mau menerima. Dirinya juga menang­gap adanya upaya untuk mem­bungkam kelompok yang di­anggap kritis terhadap proses hukum yang dijalani Ahok.

“Inikan suatu hal yang sebe­narnya biasa. Harusnya surat penangkapan itu diserahkan ke­pa­da keluarganya. Kalau yang bersangkutan tak menerima ya harus kekekeluarganya, supaya keluarganya tahu. Nah kalau keluarganya tidak tahu terus terjadi apa -apa, terus gimana. Yang terjadi adalah keluarganya tidak tau. Jadi hanya menangkap orang secara paksa,” ujar Syukur.

“Saya melihat ini adalah upaya untuk menekan kecilnya tensi pergerakan. Sehingga kelompok yang dianggap kritis soal per­nyataan Ahok itu kemudian me­ngambil posisi untuk tidak ber­gerak. Padahal kan yang paling kritis itu HMI,” imbuhnya.

HMI sendiri mengaku tidak kapok dengan penangkapan 5 anggotanya oleh polisi. Syukur mengatakan, HMI sudah menjadi bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia, sehingga tidak mung­kin mereka berhenti berjuang hanya karena ada 5 anggotanya yang ditangkap oleh polisi.

“Kami tidak pernah kapok dalam urusan begituan. Ini urusan umat urusan negara. HMI sudah menjadi bagian dari sejarah bang­sa ini, yang ikut memerdekan bangsa ini. Mereka (5 orang yang ditangkap dan dijadikan ter­sangka) ini hanya bagian kecil dari cerita. Tidak mungkin kita akan kendor. Satu orang diganggu dengan cara tidak manusiawi, itu membuat ribuan orang bergerak,” ujarnya.

Dalam aduannya kepada Siti, Syukur mengatakan ada beberapa hal yang dianggapnya janggal pada penangkapan 5 pengurus HMI yang saat ini sudah di­tetapkan menjadi tersangka oleh polisi.

“Pertama, keluarga besar HMI merasa tersinggung dengan tin­dakan sewenang-wenang kepo­lisian yang datang ke kantor pusat PB HMI pada pukul 22.00 WIB. Kemudian, membawa secara paksa Sekjen HMI, Amijaya. Ada sekitar 30 personel polisi yang tidak pakai seragam resmi dan tidak dalam kondisi sebagai mana yang normal,” kata Syukur kepada Siti di Kantor Komnas HAM.

Kondisi tidak normal yang dimaksud oleh Syukur adalah polisi datang, memaksa, mem­ben­tak dan bawa secara paksa ke Polda Metro Jaya. Setelah mendatangi kantor pusat HMI, lanjut Syukur, polisi mendatangi kantor cabang HMI Jakarta untuk melakukan penangkapan.

“Sebelumnya ada rangkaian peristiwa yang menyinggung HMI, ada 2 kader yang ditangkap di jalan, yaitu di Tugu Pro­kla­masi, Jakarta Pusat. Mereka adalah Ismail Ibrahim dan Rizal Berhed,” lanjut Syukur. (h/ald)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM