BAHAYA ABAIKAN IMUNISASI ANAK

Kasus Difteri Mulai Mengintai di Duri


Ahad, 13 November 2016 - 00:25:10 WIB
Kasus Difteri Mulai Mengintai di Duri Bupati Bengkalis, Amril Mukminin didampingi Ketua TP PKK Bengkalis, Kasmarni beberapa waktu lalu memberikan imunisasi pada balita di Kecamatan Pinggir.

DURI, HALUAN —Mengabaikan imunisasi pada anak balita, ternyata berdampak fatal bagi ketahanan tubuh setelah dewasa. Salah satunya adalah terkena “difteri”, yang dikembangkan oleh dua jenis bakteri, yaitu Corynebacterium diphtheriae dan Corynebacterium ulcerans.

Kasus anak yang terkena difteri ini di Duri, Kecamatan Mandau sudah mencapai empat orang di Kelurahan Duri Barat, di Kelurahan Air Jamban, dan sekolah dasar, dengan usia berkisar 6-10 tahun.

Untuk itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabu­paten Bengkalis, Fidel Fuadi mengimbau agar para orangtua dapat membawa anaknya ke posyandu untuk imunisasi. Selain itu, juga membawa anak-anak yang belum lengkap imu­nisasi ke lokasi-lokasi dilaku­kan­nya imunisasi massal oleh UPT Kesehatan setempat.

“Dari temuan empat anak itu berhasil dilakukan pengo­batan, namun dampak dari penyakit ini jika terlambat diobati akan menyebabkan kematian. Untuk itu, kami menegaskan kepada orangtua agar tidak mengabaikan imu­nisasi pada anaknya,” kata Fidel Fuadi, Minggu (13/11).

Menurutnya, difteri ini kasus luar biasa (KLB) yang sudah lama sekali tidak ditemukan di Mandau, khususnya Kabupaten Bengkalis. “Setelah 30 tahun, baru kali ini kita temukan lagi. Kita sangat sayangkan sekali masih ada orangtua yang eng­gan membawa anaknya untuk mendapatkan vaksin yang leng­kap,” ujarnya.

Didampingi Novi Novera, ia menjelaskan, mengenai penya­kit difteri ini di mana penyakit yang menyerang selaput lendir pada hidung, serta tenggorokan dan terkadang dapat mempe­ngaruhi kulit.

Penyakit ini, sangat menular dan termasuk infeksi serius yang dapat me­ngan­cam jiwa jika tidak segera ditangani. Masa inkubasi (saat bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul) penyakit ini umumnya dua hingga lima hari.

Gejala-gejala yang mengin­dikasikan penyakit ini meliputi terbentuknya membran abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel, demam dan meng­gigil, sakit tenggorokan dan suara serak, sulit bernapas atau napas yang cepat, pembeng­kakan kelenjar limfa pada leher, lemas dan lelah.

Selanjutnya, hidung ber­ingus. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang berdarah. Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan bisul. Bisul-bisul tersebut akan sem­buh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

“Jika ada gejala-gejala terse­but, segera periksakan diri ke dokter. Penyakit ini harus di­oba­ti secepatnya untuk men­cegah komplikasi,” sebutnya.

Ditambahkan Novi, jika ada temuan kasus ini di suatu wila­yah, maka dinas kesehatan akan melakukan imunisasi massal di daerah tersebut, guna menekan terjadinya penularan pada yang lain. Seperti yang sekarang sedang berjalan, imunisasi di sekolah dan kelurahan yang ditemukan masyarakatnya men­derita difteri itu.

Biasanya, bagi penderita yang mengalami kesulitan ber­na­pas karena hambatan mem­bran abu-abu dalam tenggo­rokan, dokter akan menganjur­kan proses pengangkatan mem­bran.

Sedangkan penderita difteri dengan gejala bisul pada kulit dianjurkan untuk mem­bersihkan bisul dengan sabun dan air secara seksama.

“Memang belum ada satu­pun penderita ini di Duri yang meninggal dunia, karena cepat penanganan.

Tetapi, jangan abaikan penyakit yang masuk KLB ini. Harus segera dilaku­kan untuk mencegah penye­baran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak,” ungkapnya. (h/nas/net)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]