Kemesraan Jokowi-Prabowo


Selasa, 22 November 2016 - 00:38:35 WIB

Sejak unjuk rasa Aksi Bela Islam Jilid II, 4 No­vomber 2016 lalu, Presiden Joko Widodo mu­lai membuka diri terhadap sejumlah pi­hak. Jokowi secara intens membangun ko­munikasi dan silaturahmi dengan sejumlah alim ulama, para kyai, aktivis organisasi massa (Or­mas) Islam, hingga ke sejumlah pimpinan par­tai.

Satu yang menarik dan menjadi perhatian publik adalah kunjungan Presiden Jokowi ke kediaman Prabowo di Hambalang. Muncul berbagai tanggapan bahwa kunjungan Presiden Jokowi ke rumah Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu, disebut-sebut sebagai upaya Jokowi untuk meredam aksi lanjutan dari gerakan Tolak Ahok yang dianggap telah melakukan penistaan agama Islam. Ada juga spekulasi, Partai Gerindra akan bergabung sebagai pendukung peme­rintan Jokowi-Jusuf Kalla.

Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon menepis spekulasi tersebut. Dia memastikan Gerindra konsisten berada di luar pemerin­tah. Kata Fadli, “Pak Prabowo sudah sampai­kan bahwa kita tetap berada di luar pemerin­tah. Kemudian kita sampaikan bahwa sikap Gerindra akan tetap kritis, sebagai bagian dari check and balance, dan demokrasi kita,” kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (21/11).

Fadli menjelaskan pihaknya mendukung pro­gram pemerintah yang menyangkut ma­salah kenegaraan dan kepentingan nasional. Na­mun dia tetap akan mengkritik bila pro­gram itu dinilai merugikan masya­rakat. Dia ti­dak mau bangsa yang sudah dirawat lebih da­ri 71 tahun ini terpecah belah. Untuk Nasio­nal, satu NKRI, Pancasila. Bahkan Prabowo sam­paikan usulan-usulan, kalau terkait kebi­ja­kan itu bagus didukung, tapi kalau kebi­ja­kan merugikan rakyat akan tetap dikoreksi dan dikritik.

Sikap Prabowo yang tetap konsisten berada di luar pemerintahan, setidaknya menampik bila kedekatan Prabowo dengan Jokowi untuk meminta jabatan di pemerin­tah. Karena, Gerindra secara tegas menya­takan tidak pernah minta-minta jabatan.

Soal pertemuan antara Jokowi dan Pra­bowo hanyalah bentuk harmonisnya hu­bungan kedua belah pihak. Gerindra selalu siap membantu pemerintah, tetapi jangan diartikan Gerindra meminta jabatan tertentu.

Meski Prabowo tampak mesra dengan Jokowi, namum Gerindra konsisten berada di luar pemerintahan. Gerindra membantu dengan tugas dan perannya di parlemen.

Jadi, apa yang sebenarnya diinginkan Jokowi terhadap mantan rivalnya di Pe­milihan Presiden 2014 tersebut? Apakah karena ingin meredam Prabowo yang diprediksi bakal maju lagi sebagai Calon Presiden di 2019?

Semua prediksi itu, tentu tidak bisa dijawab sekarang. Tapi perjalanan waktu akan menjelaskan target Jokowi yang dalam rentang waktu cukup dekat, menyediakan waktu bertemu dan menjamu Prabowo makan siang bersama.

Tapi, jawaban yang mendekati kebenaran da­ri pertemuan demi pertemuan yang digelar Pre­siden Jokowi dengan sejumlah pihak ter­sebut adalah keinginannya agar pemerin­ta­han­nya bisa berjalan dengan lancar mi­nimal hing­ga pilpres berikutnya. Jokowi berusaha menepis riak yang akan merusak popu­la­ritasnya. Bagaimanapun, Jokowi tentu ingin menjadi presiden dua periode. Ya nggak. ***

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]