700 Perusahaan Rambah Hutan Riau


Selasa, 29 November 2016 - 00:25:17 WIB
700 Perusahaan Rambah Hutan Riau

PEKANBARU, HALUAN — Panitia Khusus Dewan Per­wa­kilan Rakyat Daerah Provinsi Riau menemukan 700 peru­sahaan sawit dan hutan meram­bah hutan di Riau secara ilegal. Hal ini juga rentan menyebabkan kebakaran hutan dan lahan yang selalu terjadi di daerah itu.

Ketua Komisi A DPRD Riau Suhardiman Amby mengatakan hal tersebut ditemukan setelah pihaknya memerika izin hutan tanaman industri, hak guna usaha, hak pengusahaan hutan dan lainnya.

“Pansus DPRD menemukan 2,1 juta ha hutan sudah dirambah 700 perusahaan, baik perusahaan dalam negeri maupun luar negeri. Mereka melakukan hal ini selama puluhan tahun,” katanya, Senin (28/11/2016).

Suhardiman mengatakan hal ini juga membuat negara merugi karena tidak menapatkan pajak Rp34 triliun dan penerimaan bukan pajak senilai Rp72 triliun. Perusahaan tersebut tidak mem­bayarkan retribusi kepada daerah dan negara karena melakukan operasional secara illegal.

Temuan dan perhitungan total lost retribusi tersebut berdasarkan la­poran dari pihak lemabaga swa­daya masyarakat dan lem­baga-lembaga terkait yang mela­porkan hal itu kepada DPRD Riau.

Tidak hanya itu, Pansus terse­but juga mengumumkan ada 199 pabrik kelapa sawit yang tidak menyertakan izin. Suhardiman mengatakan hal tersebut akan dilaporkan ke Kementerian Ke­hu­tanan agar ditindak. Pansus juga akan menyampaikan hal ini kepada Polda Riau dan mem­perkarakan hal ini ke pengadilan negeri setempat.

Selain itu, aktivis lingkungan hidup Wahana Lingkungan Hi­dup (Walhi) Riau, Jaringan Kerja Penyelamat Kawasan Hutan Riau (Jikalahari) dan World Wide Fund for Nature (WWF) mela­porkan 49 perusahaan kehutanan dan sawit ke Mapolda Riau karena diduga membakar hutan dan lahan.

Wakil Koordinator Jikalahari Made Ali mengatakan 30 peru­sahaan diantaranya merupakan pe­rusahaan kehutanan pemegang izin Hutan Tanaman Industri dan 19 perusahaan merupakan pe­ru­sahaan kelapa sawit pemegang izin hak guna usaha (HGU). “Selain membakar hutan, mereka juga merambah hutan melebihi izinnya,” kata Made.

Dia juga menyinggung in­struksi Kapolri Jenderal Tito Kar­navian yang menegaskan tidak ada lagi surat perintah peng­hentian penyidikan (SP3) perkara lingkungan.

“Intinya salah satu tujuan kami melaporkan ini ingin turut menjaga Riau bebas dari ben­cana Karhutla di masa men­datang,” katanya.

Komit Berantas Ilog

Kapolda Riau Brigjen Pol Zulkarnain mengatakan akan menindaklanjuti laporan tersebut. Namun, penyidik memerlukan waktu lama untuk mencari bukti-bukti yang kongkret. “Lapo­rannya akan ditindaklanjuti,” kata Zulkarnain singkat.

Kapolda Riau Brigjen Pol Zulkarnain berjanji menuntaskan pembalakan liar di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB), Kabupaten Beng­kalis, yang kembali terjadi.

“Saya sudah tekankan agar ja­ngan sampai terjadi lagi (pem­­ba­lakan liar). Saya akan tindak lanjuti,” tegas Kapolda kepada Antara di Pekanbaru, Senin (28/11).

Sejumlah warga Dusun Sido­dadi, Desa Bukit Kerikil, Keca­matan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, pada Senin siang, mendatangi Direktorat Kriminal Khusus Polda Riau. Mereka mempertanyakan tindak lanjut pemberantasan pembalakan liar yang dilakukan jajaran Polda Riau dan Kementerian Ling­kungan Hidup dan Kehutanan beberapa waktu lalu.

Meski sempat berhenti ber­aktivitas selama beberapa wak­tu, menurut mereka para pem­balak liar mulai berani kembali dan menebangi hutan lindung ter­sebut. Kapolda mengaku cu­kup terkejut setelah men­da­patkan informasi tersebut dari wartawan.

Polda Riau bersama dengan KLHK telah berupaya se­mak­simal mungkin untuk meng­hentikan aktivitas pembalakan liar. Salah satunya dengan me­nutup kanal-kanal yang digu­nakan mengangkut kayu hasil pembalakan liar. “Saya agak aneh ini kok terjadi lagi. Namun sejak awal saya (tegaskan) sikat,” ujarnya.

Sahat Mangapul, tokoh Pe­muda Dusun Sidodadi, Bukit Kerikil mengatakan, aktivitas pembalakan liar di Cagar Biosfer GSK-BB kembali terjadi dalam sepekan terakhir.

Saat ini kondisi kanal yang sebelumnya telah ditutup dige­nangi air tinggi seiring mening­katnya curah hujan. Akibatnya kanal bisa dilalui perahu ber­mesin untuk menarik kayu-kayu dari zona inti Cagar Biosfer GSK-BB.

“Mereka mulai mengambil kayu yang kemarin sempat disita. Kan tidak semua kayu dimus­nahkan, jadi kayu sisa itu mereka bawa keluar lewat kanal. Kemu­dian mereka juga mulai mene­bangi hutan. Jelas terdengar aktivitas pembalakan liar di sana,” ujarnya.

Untuk itu, dia berharap Polda Riau dan jajaran dapat me­ngambil tindakan tegas terkait adanya dugaan pembalakan liar yang masih terjadi di wilayah setempat.

Bukit Kerikil adalah sebuah desa yang berjarak sekitar 350 Kilometer dari Kota Pekanbaru ke arah pesisir Riau. Daerah itu diketahui berbatasan langsung dengan area cagar Biosfer GSK-BB yang terkenal akan kekayaan flora dan fauna serta keindahan panorama.

Polda Riau dan KLHK ber­sama TNI sebelumnya mela­kukan penindakan tegas dengan menutup kanal-kanal, memus­nahkan sebagian barang bukti berupa kayu dan gubuk-gubuk liar pembalakan liar di Cagar Biosfer GSK-BB. (h/okz)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]