Jangan Anggap Remeh Harga Cabai


Rabu, 30 November 2016 - 00:58:22 WIB
Jangan Anggap Remeh Harga Cabai Ilustrasi.

SUDAH menjadi rahasia umum bahwa antara jumlah persediaan dan jumlah permintaan terdapat kaitan erat dengan harga jual. Bila jumlah persediaan dan jumlah permintaan sepadan maka harga jual pun normal. Bila jumlah persediaan lebih banyak dari permintaan maka harga jual pun anjlok. Bila jumlah persediaan lebih sedikit dari permintaan maka harga jual pun melonjak.

Ambil contoh, beberapa hari belakangan harga cabai melonjak. Malah di Jambi dikabarkan harga cabai men­capai Rp 100 per kilogram. Mengapa? Tanpa memerlukan studi mendalam pun banyak orang tahu tidak sedikit orang Indonesia yang memiliki sele­ra makan makanan pedas. Mereka yang memiliki selera makan makanan pedas dipas­tikan akan anjlok selera ma­kan­nya ketika disuguhi ma­kanan yang tidak pedas.

Makanan khas Minang­ka­bau seperti rendang diminati oleh banyak orang Indonesia lainnya mungkin karena ren­dang cenderung memiliki citarasa pedas. Saya tidak berani menjamin rendang akan tetap diminati banyak orang Indonesia lainnya jika rendang cenderung memiliki citarasa manis seperti gudeg.

Lebih jauh, kuah makanan khas Minangkabau lainnya seperti kikil juga terbilang memiliki citarasa pedas. Belum cukup pedas dari rendang plus dari kikil, penyuka makanan khas masakan orang Minang itu lumrahnya meminta sam­bal yang banyak. Malah, jika merasa masih kurang banyak, lumrahnya mereka meminta tambahan.

Seperti kita ketahui, cabai yang digunakan untuk mem­bikin rendang dan kikil berbe­da dengan cabai yang digu­nakan untuk membikin sam­bal. Cabai yang digunakan untuk membikin rendang dan kikil biasanya sudah tua dan sudah berwarna merah. Se­dang­kan cabai yang digu­na­kan untuk membikin sambal bia­sanya sudah tua tetapi ma­sih berwarna hijau.

Artinya, cabai akan dipa­nen dua kali. Sewaktu cabai masih berwarna hijau yakni yang kita kenal sebagai cabai hijau dan sewaktu cabai sudah berwarna merah yakni yang kita kenal sebagai cabai merah. Dengan begitu, khususnya pada musim panen raya cabai di pasar-pasar tradisional kita dapat memilih membeli cabai hijau dan/atau cabai merah sesuai dengan kebutuhan ma­sing-masing.

Masakan khas orang Mi­nang dan orang Indonesia lainnya yang cenderung memi­liki citarasa pedas sungguh tidak tergantikan. Belum lagi mie instan yang menyediakan “bonus” cabai bubuk kering pada masing-masing kema­sannya/bungkusnya. Kita ta­hu, rumah makan padang, ter­sebar di hampir seluruh nu­santara. Bahkan, sudah mulai merambah ke mancanegara.

Belum lagi produk mie instan yang menyediakan “bonus” cabai bubuk kering pada masing-masing kema­san­nya/bungkusnya. Meminjam data lama, perusahaan mie instan di negara kita sudah memproduksi sekitar 1,93 miliar kemasan/bungkus mie instan per tahun. Seandainya satu kemasan/bungkus mie instan menyediakan “bonus” cabai bubuk kering 1 gram beratnya maka diperlukan 1,93 miliar gram (1.930 ton) cabai bubuk kering per tahun atau sekitar 5,3 ton cabai bubuk kering per hari.

Cabai bubuk kering secara konvensional berasal dari cabai segar yang dijemur/dikeringkan sampai kadar airnya kurang dari 5%. Untuk 30 kilogram cabai segar akan menjadi 4 – 5 kilogram cabai kering. Setelah itu, cabai ke­ring dikemas dan dipasarkan. Atau, ada pula yang sebelum dikemas dan dipasarkan cabai kering tersebut digiling ter­lebih dahulu sampai halus se­hingga menjadi cabai bubuk.

Bila kebutuhan cabai bu­buk kering mencapai 1.930 ton per tahun, maka diper­lukan cabai segar sekurang-kurangnya enam kali kebu­tuhan cabai kering yaitu 11.­580 ton per tahun atau 31,8 ton per hari. Dengan begitu, ketersediaan cabai sudah saat­nya dijamin oleh bangsa kita sendiri. Kita usahakan jangan sampai harus impor cabai dari negara lain.

Kalau pun angka tersebut tidak persis sama dengan kebutuhan di lapangan, angka tersebut masih dapat digu­nakan untuk menyadarkan petani kita bahwa Indonesia masih memiliki kesempatan yang luas untuk mengem­bang­kangkan pertanian cabai. Se­kali lagi, lantaran tidak sedikit bangsa kita yang memiliki selera makan makanan pedas.

Ingin saya sampaikan, khu­susnya kepada para petani kita, bertani cabai Insya Allah tidak akan rugi. Lantaran konsumsi cabai bangsa kita diperkirakan tidak akan tergantikan. Men­gu­tip keterangan Kepala Ba­dan Pusat Statistik (BPS), Surahmin, pada 2014 Indo­nesia mengalami kenaikan produksi holtikultura, yak­ni cabai merah (besar), cabai rawit dan bawang merah. Sa­yang­nya, produksi ini tak sebanding dengan tingginya konsumsi non rumah tangga terhadap komoditas itu.

Tercatat, produksi cabai me­rah (besar) sepanjang 2014 men­capai 1,075 juta ton atau na­ik 61,73 ribu ton (6,09 per­sen) dari realisasi 1,013 juta ton di 2013.  Namun Su­rah­min menyatakan, “Un­tuk ke­bu­tuhan rumah tangga 0,38 ju­ta ton terpenuhi, tapi untuk non rumah tangga atau indus­tri seperti bikin sambel dan lain­nya (masih) keku­rangan. Jadi secara total kita ma­sih defisit,” kata dia di kan­tornya, Jakarta, Senin (3/8/2015).

Apalagi, kalau kita lihat harga cabai akhir-akhir ini yang cenderung melonjak terus-menerus. Maka, pilihan menanam cabai diyakini me­mi­liki prospek yang bagus. Ter­lebih karena cabai pada umum­nya bisa dipanen dua kali per tahun. Mau menunggu apa lagi? Memang benar be­nih cabai (terutama bibit ung­gul) terbilang cukup mahal. Tetapi, hemat saya, pemerintah se­harusnya dapat memberikan sub­sidi atau pinjaman modal ke­pada petani hortikultura kita.

Kita tidak boleh kalah atau mengalah kepada petani asing. Apalagi kalau mereka datang di negara kita secara ilegal. Kita kadang baru tersadar dengan petani asing yang secara nekat “menyerobot” lahan bangsa kita untuk dita­nami cabai seperti yang baru-baru ini terjadi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kok bisa?

Petugas Imigrasi Kelas I Bogor, menangkap empat warga negara asing (WNA) asal Tiongkok yang diduga (kuat) melakukan pekerjaan ilegal di area pertanian cabai di Kam­pung Gunung Siem, Desa Su­ka­damai, Kecamatan Suka­makmur, Kabupaten Bogor. Keempat WNA tersebut ada­lah Xue Qinjiang (51 tahun), Yu Wai Man (37 tahun), Gu Zhaojun (52 tahun), dan Gao Huaqiang (53 tahun).

Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Imigrasi Ke­las I Bogor, Arief Hazairin Satoto mengatakan, “Dari hasil pemeriksaan, ada dua WNA yang tidak memiliki paspor dan dua lainnya dinilai mela­kukan penyalahgunaan visa”.

Keempatnya ditangkap setelah Tim Pengawasan Orang Asing (Pora) DKI Jakarta ber­sama kantor Imigrasi Bogor mendapat laporan adanya aktivitas empat WNA asal Tiongkok yang bekerja di sebuah lahan pertanian cabai di Kampung Gunung Siem, De­sa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bo­gor. “Info dari masyarakat se­tempat, mereka (WNA) ini bos-bos di situ (pertanian cabai),” ujar Arief, Rabu (9/11/2016).

Arief menambahkan, di lokasi penangkapan, petugas menyita sejumlah barang buk­ti. Di antaranya berupa dua bu­ku paspor, benih cabai, pe­ralatan pertanian, dan dua unit radio komunikasi handy talky.

Kepada petugas Imigrasi, salah satu di antaranya menga­ku bekerja kepada warga negara Indonesia (WNI) pemilik la­han pertanian berinisial H de­ngan konsep kemitraan. “In­formasi yang kami peroleh, dari 20 hektare yang diajukan ker­ja sama, baru 4 hektare yang ditanami cabai,” kata Arief.

Lebih lanjut dia menje­laskan, pihaknya masih men­dalami dugaan penya­lah­gu­na­an izin tinggal oleh empat WNA asal Tiongkok tersebut. Jika terbukti melakukan pe­lang­garan, sesuai dengan Un­dang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, mereka terancam dideportasi.

Kalau terbukti benar ke­em­pat WNA tersebut nekat me­na­nam cabai di Kampung Gu­nung Siem, Desa Suka­damai, Kecamatan Suka­mak­mur, Ka­bupaten Bogor, bagai­mana dengan petani cabai lo­kal kok “keduluan” sama WNA?. ***

 

MAHMUD YUNUS
(Alumnus Pascasarjana Universitas Islam Nusantara Bandung)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Oktober 2018 - 18:01:44 WIB

    Kisah Haru Indriana Sartika,  Selamat Setelah Puluhan Menit Bertahan dari Terjangan  Tsunami

    Kisah Haru Indriana Sartika,  Selamat Setelah Puluhan Menit Bertahan dari Terjangan  Tsunami HARIANHALUAN.COM-Indriana Sartika Yotokodi terus memanjatkan rasa syukurnya karena masih diberi keselamatan oleh Allah SWT. Bayang-bayang bencana tsunami dan gempa masih tergambar jelas dalam memorinya, bahkan kerap muncul da.
  • Selasa, 02 Oktober 2018 - 10:04:18 WIB

    Begini Kisah Lailla, Perantau Minang di Palu yang Selamat dari Terjangan Tsunami

    Begini Kisah Lailla, Perantau Minang di Palu yang Selamat dari Terjangan Tsunami Keajaiban  itu nyata dialami  Lilla Anggaraini (35), perempuan asal Situjuah Godang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota  yang sudah lama merantau di  Palu, Sulawesi Tengah, kota yang kini  luluhlant.
  • Jumat, 16 Desember 2016 - 01:23:02 WIB

    Jangan Selalu Dikaitkan Dengan Gempa

    Beberapa waktu lalu, terjadi fenomena alam berupa beru bahnya air danau Singkarak menja di hitam. Lalu, ikan bilih yang merupakan ikan khas danau Singkarak ditemukan mengapung di sekitaran danau..
  • Selasa, 06 Desember 2016 - 01:24:07 WIB

    Kampanyelah di Medsos Tapi Jangan Menghina

    Mengkampanyekan pasangan calon kepala daerah yang kita dukung di media sosial (Medsos), tak ada larangan. Kecuali menghina pa­sangan calon yang tidak kita dukung, itu bisa dikenakan pasal fitnah. .
  • Kamis, 22 September 2016 - 04:13:39 WIB

    Pak Ogah Jangan Diberi Uang

    Film seri si Unyil produksi PPFN mulai mengudara di Stasiun TVRI tanggal 5 April 1981. Salah satu tokoh dalam film boneka ini adalah Pak Ogah. Ia dikenal sebagai seorang tunakarya yang kepalanya gundul dan kerjanya sehari-har.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM