Logika Bahasa dan Pergeseran Makna


Kamis, 15 Desember 2016 - 01:28:49 WIB

Menarik membaca tulisan praktisi media sosial, Iqbal Aji Daryono di kolom detik.com, Selasa (13/12) lalu yang berjudul “Front Pembela bahasa Indonesia”. Dalam tulisannya itu, Iqbal mengulas tentang judul berita di salah satu media nasional. “Pengacara: Ada Pertanyaan Penyidik yang Tak Mau Dijawab Sri Bintang Pamungkas”.

Kalau dicermati kalimatnya, jelas pokok bahasan yang sedang dibicarakan oleh si pengacara adalah ‘pertanyaan penyidik’. Nah, ternyata pertanyaan dari penyidik itu tidak mau dijawab (oleh Sri Bintang). Jadi yang tidak mau bukan Sri Bintang-nya, melainkan pertanyaannya. Ia adalah sebuah pertanyaan, tetapi ia tidak mau dijawab!

Amburadulnya logika sebuah kalimat, apalagi berposisi sebagai judul berita yang akan ditangkap jutaan pasang mata, memang tak bisa dianggap enteng. Masih beruntung tema berita tersebut sekadar tema politik biasa. Bagaimana jika ternyata terkait topik sensitif yang belakangan ini begitu mudah menyulut emosi ratusan ribu orang?

Pendidikan Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah kita tampaknya harus ditata ulang. Entah bagaimana bentuk penataannya.

Sebagai mantan murid sekolah yang pernah mendapatkan ratusan jam pelajaran Bahasa Indonesia, Iqbal mengaku tidak pernah mendengar penekanan dari guru-guru, juga dari buku-buku cap Depdikbud, bahwa Bahasa Indonesia adalah sebuah sistem logika.

Wallahualam, karena bahasa Indonesia yang kita ketahuis elama ini, hanyalah seputar soal-soal subjek-predikat-objek, anak kalimat pengganti ini pengganti itu, majas ini majas itu, juga yang terpenting di antara segala yang penting: berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Sementara, berbahasa yang baik hanya dimaknai sebagai berbahasa sesuai tempat, konteks sosial, serta konteks ‘suasana’ perbincangannya, sedangkan berbahasa yang benar cuma berkhidmat kepada kebakuan.

Bahasa adalah instrumen utama dalam berkomunikasi. Komunikasi melibatkan minimal dua pihak, bisa lebih. Agar kedua pihak atau lebih itu nyambung, nggak tulalit, memang kata-kata yang digunakan semes­tinya yang sesuai dengan kesepakatan makna. Penggunaan kata-kata yang berada di luar kesepakatan rentan memicu misko­munikasi. Pusat Bahasa menyikapi itu dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), dan dengan Kamus Besar sebagai inven­tarisasi untuk kata-kata yang disepakati. Kata-kata baku, begitu istilahnya. Itu semua masuk dalam domain berbahasa yang benar.

Memang, Bahasa Indonesia tak bisa dimaknai kata per kata saja. Apalagi sudah terbentuk dalam satu struktur kalimat. Karena itu, jangan maknai sepotong-sepo­tong karena rentan terjadinya pergeseran makna.

Akhir-akhir ini banyak orang ber­ban­tahan soal logika bahasa. Termasuk soal kasus dugaan penistaan agama oleh mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, juga mengundang perdebatan pan­jang, termasuk sesama ahli bahasa.

Tentunya hal ini akan jadi catatan penting bahwa bahasa itu terkadang butuh pene­kanan untuk memperjelas maknanya. Bah­kan kesalahan meletakkan tanda koma saja, berpotensi merubah makna. Karena itu, hati-hatilah berbahasa. Kata peribahasa, mulutmu harimaumu yang akan menerkam kepala mu. Artinya, kesalahan penggunaan bahasa, bisa membuat kita berurusan dengan hukum.  Ahok contohnya.***

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 16 Agustus 2016 - 03:59:05 WIB
    (TANGGAPAN ATAS TULISAN HOLY ADIB)

    Berbahasa Itu Bukan Berlogika Saja

    Berbahasa Itu Bukan Berlogika Saja Saya sepakat dengan Holy Adib terkait tulisannya yang berjudul “Logika Berbahasa” di harian ini, Haluan pada 12 Agustus kemarin. Bahwa bahasa memang pada momen-momen tertentu hanyalah alat untuk mengantarkan pesan. Ketika.
  • Sabtu, 09 April 2016 - 04:06:01 WIB

    Logika Ekonomi Politik Seorang Anggota Dewan

    Logika Ekonomi Politik Seorang Anggota Dewan "Channel tv ini jangan Selalu menghujat, mereka (baca: anggota dewan) juga manusia”, ujar salah seorang penelpon dalam acara editorial sebuah channel tv yang pada saat itu sedang asyik-asyiknya membahas perilaku anggota dew.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]