Jangan Selalu Dikaitkan Dengan Gempa


Jumat, 16 Desember 2016 - 01:23:02 WIB
Jangan Selalu Dikaitkan Dengan Gempa

Beberapa waktu lalu, terjadi fenomena alam berupa beru bahnya air danau Singkarak menja di hitam. Lalu, ikan bilih yang merupakan ikan khas danau Singkarak ditemukan mengapung di sekitaran danau.

Masyarakat tradisi di perkampungan sekitar danau, mengaitkan fenome alam itu sebagai tanda-tanda akan terjadinya gempa besar. Benarkah? Bukankah kata BMKG, kapan terjadi gempa tidak bisa diprediksi?

Inilah yang kini jadi bahan keributan di tingkat masyarakat. Media-media social pun ramai membicarakan dan mendiskusikan persoalan tersebut. Malah ada netizen yang seolah memvonis bahwa gempa besar memang akan terjadi dalam waktu dekat melanda bumi ranah minang. Lalu dikaitkan dengan gempa yang baru saja terjadi di Kabupaten Pidie Jaya, Pidie dan Biureun, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Pakar gempa gempa yang juga Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sum­bar, ­Ade Edward, jelas akan senyum-senyum kecil saja melihat kerisauan masyarakat itu. Walau sebenarnya Ade juga khawatir dengan keresahan yang disebabkan ku­rangnya pengetahuan masyarakat. Ma­syarakat seringkali memaknai fenomena alam secara mitologi dan cenderung meng­ambil kesimpulan sendiri meski hal itu belum tentu benar.

Menurut Ade, fenomena perubahan warna air Danau Singkarak lebih disebabkan arus konveksi karena cuaca ekstrim yang terjadi di sekitar kawasan itu. Arus konveksi ini yang membawa lumpur dasar danau ke permukaan, sehingga ternjadi perubahan warna. Ini mirip dengan fenomana di Danau Maninjau.

Fenomena ini tak ada kaitannya dengan gempa seperti yang dikatakan warga sekitar. Meski demikian, perlu ada hipotesa se­mentara terkait dengan kemungkinan penyebab terjadinya.

Ade juga tidak menampik adanya aktif­itas volkanik kecil atau proses tektonik berupa getaran gempa mikro.

Sementara pakar perikanan dan ilmu kelautan Prof Hafrijal Syandrimengatakan terjadinya perubahan warna danau karena fenomena Upwelling atau yang disebut pembalikan massa air.  Penyebab munculnya Upwelling karena adanya angin kencang (badai) mendung, dan hujan, sehingga suhu permukaan danau menjadi dingin. Semen­tara suhu di dasar danau hangat atau panas dan mengandung belerang (sulfur). Sehingga perbedaan suhu yang drastis tersebut menyebabkan massa air menjadi terbalik.

Air yang dibawah akan muncul ke atas atau yang disebut Upwelling, bercampurnya air dengan belerang menyebabkan warna menjadi gelap. Penelitian saya tahun 2015 di dasar Danau Singkarak dengan kedalaman 60 meter dite mukan endapan belerang hitam. Nah dasar inilah yang naik ke atas dan fenomena ini hampir berulang setipa tahun­nya.

Penjelasan kedua pakar ini, hendaknya jadi pencerah bagi masyarakat. Bahwa ancaman gempa di Sumbar, tetap akan selalu ada. Karena Sumbar memang masuk wilayah jalur gempa. Namun kapan terjadinya gempa, nah ini yang belum bisa terjawab meski menggunakan metode teknologi yang canggih. 

Jadi, agar tak menimbulkan kerisauan dan kecemasan di tengah masyarakat, pihak-pihak terkait perlu cepat tanggap. Turun ke lokasi dan beri penjelasan dan pemahaman pada masya rakat. Kita memang harus selalu waspada terhadap kemung kinan terjadinya gempa. Karena gempa bisa terjadi kapan saja tanpa ada tanda tanda permulaannya. Waspadalah. ***

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]