JARUM SUNTIK DAN TABUNG INFUS BERSERAKAN DI PANTAI PESSEL

Usut Pembuang Limbah Medis di Laut


Rabu, 28 Desember 2016 - 02:11:15 WIB
Usut Pembuang Limbah Medis di Laut LIMBAH medis di pantai.

Rumah sakit mana pemilik limbah medis yang berserakan di Pantai Tan Sridano, Pesisir Selatan? Sampai sekarang belum terjawab secara pasti, meski ada plastik pembungkus obat yang bermerek RSI Siti Rahmah di antara sampah tersebut. Aparat terkait masih melakukan penyelidikan. Sanksi tegas menunggu pelakunya. 

PADANG, HALUAN  — DPRD Sumbar meminta pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) bersama dinas terkait menyelidiki dan mengambil tindakan tegas terhadap rumah sakit yang terbukti membuang

Baca Juga : Kesembuhan Pasien Covid-19 di Sumbar Bertambah 158 Kasus, Didominasi dari Kota Padang

limbah medis secara sembarangan di pantai Tan Sridano, Batang Kapas, Kabupaten Pessel. Ada sekitar 5-6 ton limbah medis berupa jarum suntik, tabung infus, pembalut dan sebagainya yang berserakan di sepanjang pantai tersebut. Diduga, limbah tersebut dibuang di tengah laut, lalu dihanyutkan ombak ke pantai.

Anggota DPRD Sumbar, Sa­brana mengatakan sesuai aturan kementerian kesehatan, setiap rumah sakit harus memiliki ince­nerator (alat pengolah limbah padat di rumah sakit) serta IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah).

Baca Juga : Kematian Karena Covid-19 di Sumbar Bertambah 7 Orang

“Jika ada rumah sakit yang membuang limbah mereka de­ngan sembarangan, sama halnya tak taat aturan. Pemerintah se­tempat harus menyelidiki dan memberi surat peringatan pada pihak-pihak yang tak ber­tang­gung­jawab seperti itu,” kata Sa­brana saat ditemui diruangannya, Selasa (27/12).

Lebih lanjut ia menyebut, khusus IPAL, hukumnya adalah wajib. Tak boleh ada rumah sakit yang tidak memiliki. Sementara untuk incenerator, jika tak mam­pu menyediakan karena persoalan biaya, rumah sakit yang ada bisa menumpang menghancurkan limbah medis mereka di rumah sakit lain. “Jika tak dilakukan, itu akan mengganggu lingkungan sekitar,” kata Sabrana.

Baca Juga : Positif Covid-19 di Sumbar Mencapai 25.887 Kasus

Tak hanya membuat lingku­ngan tercemar, menurut anggota DPRD yang pernah bekerja seba­gai PNS di Dinas Kesehatan Pro­vinsi Sumbar tersebut, pem­bua­ngan limbah medis secara sembarangan juga berpotensi merusak lingku­ngan dan menye­barkan penyakit. Hal itu karena sampah medis ini umumnya me­ngandung zat kimia. Dari sisi pariwisata, jika dibuang pada kawasan yang banyak di­datangi, keberadaan sampah medis tadi akan mengurangi minat orang-orang berkunjung pada objek wisata yang ada.

“Maka dari itu, kami meng­himbau pada setiap rumah sakit, jangan sampai limbahnya di­buang sembarangan. Pikirkan dampak yang ditimbulkan di tengah masyarakat akibat dari itu,” tegas anggota DPRD dari Fraksi Gerindra tersebut.

Baca Juga : Gandeng ACT, Pemprov Sumbar Kirim Ribuan Ton Bantuan Pangan ke Sulbar dan Kalsel

Senada Anggota Komisi IV DPRD Sumbar, Erman Mawardi meminta pemerintah kabupaten/kota bertindak tegas terkait per­soalan ini.

“Jika memang merugikan masyarakat, pemerintah kabu­paten/kota harus turun tangan. Beri surat peringatan terha­dap rumah sakit yang kedapatan mem­buang limbah mereka de­ngan sembarangan se­perti itu,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Merry Yu­liesday berjanji akan memanggil pihak rumah sakit Siti Rahmah untuk membicarakan terkait penggelolaan limbah B3 atau sampah medis. Karena, dari bung­kusan limbah medis yang bersera­kan di Pantai Tan Sridano, ter­dapat merek Rumah Sakit Siti Rahmah.

Merry menjelaskan dalam waktu dekat dia akan mengum­pulkan pemilik dan pengelola rumah sakit swasta yang ada di Sumbar untuk mengkoor­dinasi­kan bagaimana solusi untuk limbah medis.  Kalau dalam aturan seharusnya rumah sakit swasta harus bekerja sama dengan pihak lain untuk memusnahkan limbah medis.

“Mereka harus kerjasama de­ngan pihak yang memiliki in­seniator. Karena harga alat yang terbilang mahal, tidak mungkin bisa dibeli sendiri-sendiri. Satu alat bisa mencapai sekitar Rp6 Miliar” tutur Merry pada Haluan Selasa (27/12) usai dilantik Gu­bernur Sumbar sebagai Kadis Kesehatan Sumbar.

Tidak hanya sampai pengo­lahan limbah medis yang diper­hatikan. Bahkan proses penge­masan limbah medis harus dilaku­kan secara hati-hati. Limbah medis yang telah dibakar di inseniator, debunya tidak boleh dibuang secara langsung. Harus dibuang ke tempat tertentu. Bah­kan mobil box pengangkut debu limbah harus tertutup secara penuh agar tidak berserakan.

“Untuk pengolahan limbah medis itu juga ada aturannya, bahkan dinkes sudah menge­luarkan banyak dana untuk per­masalahan ini, “ ujarnya.

Ditegaskan Merry, rumah sakit yang tidak memenuhi aturan terkait pengolahan limbah medis akan ada sangsi, bahkan bisa pencabutan izin operasional. Hal ini harus dilakukan agar rumah sakit tidak serampangan dalam pengelolaan limbah medis.

Sedangkan pihak Rumah Sa­kit Islam (RSI) Siti Rahmah seba­gai pihak yang terduga mem­buang limbah medis tersebut, mengaku masih mencari infor­masi terkait limbah tersebut.

“Kami masih mencari in­formasi selanjutnya. Sejauh ini, untuk pengelolaan limbah medis kami, kami menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan khusus pengelolaan limbah me­dis,” kata Humas RSI Siti Rahmah Yori Rahma Diyanti kepada Ha­luan, Selasa (27/12).

Meskipun mengaku penge­lolaan limbah dilakukan oleh pihak ketiga, Yori enggan menye­butkan nama perusahaan tersebut. Namun, ia mengatakan pihak ketiga untuk urusan tersebut adalah salah satu perusahaan yang berkedudukan di Jakarta.

“Nanti kalau sudah dapat informasinya akan kami kon­firmasi ke media,” katanya singkat lewat pesan Whatsapp.

Sebelumnya diberitakan, mas­ya­rakat Kenagarian Taluak, Kecamatan Batang Kapas Pesisir Selatan, yang notabenenya be­kerja sebagai nelayan, dikagetkan atas temuan tumpukan sampah medis di sepanjang pantai di lokasi tempat mereka tinggal. Masyarakat yang geram langsung membuat laporan kepada pihak terkait atas temuan tersebut.

“Ini kalau dikumpul sampah medisnya bisa sampai satu mua­tan truk, 5 sampai 6 ton. Padahal lokasi ini salah satu objek wisata, limbah medis ini kami khawa­tirkan menghadirkan penyakit untuk kami yang sehari-hari berkegiatan di sini,” kata Jupri (42), salah seorang warga setempat.

Di antara sampah medis yang bertebaran di Pantai Tansridano seperti jarum suntik, tabung infus, pembalut, kotak obat, dan seba­gainya. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pesisir Sela­tan, Syahrizal Antoni menye­butkan, pihaknya sudah meng­ins­truksikan kepala Puskesmas Kecamatan Batang Kapas untuk mencari tahu asal-usul sampah medis yang bertebaran dise­panjang pantai itu.

“Kita sudah perintahkan ke­pala Puskesmas setempat untuk segera melakukan koordinasi dengan Polsek setempat. Supaya limbah tersebut bisa diamankan untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” ucapnya. (h/mg-mel/isq/len)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]