Ribuan Mahasiswa Terancam Gagal Wisuda


Kamis, 23 Februari 2017 - 09:12:51 WIB
Ribuan Mahasiswa Terancam Gagal Wisuda ilustrasi

PADANG, HALUAN -- Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Prof Mohamad Nasir menginstruksikan 86 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang berada di lingkungan Kopertis Wilayah X, Sumbar, Riau, Jambi, dan Kepri, untuk segera mengurus akreditasinya. Paslanya, bagi PTS yang belum terakreditasi tidak boleh mewisuda lulusannya.

"Tolong segera diajukan akreditasi. Kalau tidak akan menjadi masalah ke depannya. Perguruan tinggi yang belum terakreditasi, dalam peraturan tidak boleh meluluskan mahasiswa prodi tersebut," ujarnya saat memberikan arahan dan kebijakan baru Kemenristekdikti di Kantor Kopertis Wilayah X, Sumbar, Riau Jambi, dan Kepri

Dilanjutkannya, upaya untuk meningkatkan kualitas juga telah dilakukan Kemenristek Dikti salah satunya melalui usulan merger bagi (PT) yang terdapat dalam satu yayasan agar pengelolaan dan kualitasnya menjadi lebih baik.  "Supaya makin kuat dan makin sehat kita usulkan merger saja. Terutama bagi yayasan yang berbeda," ujarnya.

Upaya lainnya, juga dengan meninjau peraturan-peraturan serta kebijakan mana yang relevan dan mana yang perlu diperbarui. Peraturan baru yang akan diimplementasikan terutama untuk mendongkrak jumlah publikasi melalui Permenristekdikti Nomor 20 tahun 2017. Permen ini diterbitkan guna meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.

Dari data Kemenristek dan Dikti per 31 Desember 2017 jumlah guru besar sebanyak 5.216 dan lektor kepala sekitar 33.298. Sementara jumlah publikasi ilmiah Indonesia masih berada di angka 9.989. Hal ini dinilai masih kurang dan masih kalah dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. "Maka dari itu perlu ada usaha yang harus dilakukan untuk terus meningkatkan publikasi," imbuh Nasir. 

Lanjutnya, diperlukan sekitar 7.817 jurnal nasional terakreditasi bagi publikasi lektor kepala dan para mahasiswa S2 dimana asumsi masing-masing LK dan mahasiswa S2 mempublikasikan satu paper satu penulis.  "Sementara saat ini jumlah jurnal nasional baru terdapat 471. Dan jumlah jurnal yang terakreditasi terindeks global hanya sebanyak 28," pungkasnya. 

Kemenristek Dikti juga melakukan upaya guna mengantisipasi hal tersebut melalui program akselerasi jurnal dan penggunaan Science and Technology Index (Sinta).  Sistem akreditasi nasional sebelumnya hanya memiliki dua kelas kelas A untuk nilai 85-100 dan kelas B untuk nilai 70-85. Maka kini untuk mengakselerasikan jumlah jurnal yang dibutuhkan akan dibuat sistem grading baru melalui clustering SINTA 1-6. "Kalau nilainya ada di SINTA 1, itu pasti sudah bisa masuk ke Scopus," jelas Nasir. (h/isr)

 

 

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]