Di Sijunjung, Seorang Bapak Gauli Anaknya Sejak Umur 10 Tahun


Kamis, 23 Februari 2017 - 09:17:25 WIB
Di Sijunjung, Seorang Bapak Gauli Anaknya Sejak Umur 10 Tahun ilustrasi

SIJUNJUNG,HALUAN—  Miris benar nasib Melati (18) – nama samara –. Sejak usia 10 tahun, Melati jadi korban nafsu setan ayahnya. Dia diperkosa berpuluh kali. Dijadikan budak seks sampai menginjak usia 18 tahun. Perbuatan asusila ini akhirnya terkuak, pelaku SY (42), yang merupakan ayah kandung korban, dijebloskan ke sel tahanan Mapolres Sijunjung. 

Kejadian memiriskan tersebut berawal sekitar tahun 2009 lalu, saat itu sang ayah seperti kerasukan setan tanpa belas kasihan mencabuli anak kandungnya saat rumah yang mereka huni dalam kondisi sepi. Usai disetubuhi, korban diancam dibunuh jika bercerita kepada orang lain.

Baca Juga : Brutal! Aksi Penembakan Membabibuta Tewaskan Delapan Orang di Indianapolis AS

Ancaman itu membuat korban takut melapor ke ibu atau keluarganya yang lain. Apalagi, SY yang merupakan warga warga Kecamatan Kamang Baru, Sijunjung dikenal tempramen dan suka melakukan kekerasan kepada anggota keluarga. Korban hanya bisa memendam perasaan pedihnya dan pasrah diperlakukan serupa budak seks selama delapan tahun.

Perbuatan sang ayahnya tersebut akhirnya terbongkar di pertengahan Februari 2017. Merasa sudah tidak tahan, sang korban curhat kepada sepupunya lewat SMS. Melati yang berada di luar Sijunjung menyebut takut pulang ke rumah kepada sepupunya itu.

Baca Juga : Pentagon Konfirmasi Kemunculan UFO, dari Bulat hingga Lonjong

Saat ditanyakan oleh sepupunya kenapa dirinya tidak mau pulang, korban kemudian menceritakan awal dari pengalaman pahit yang dialaminya sejak masih kecil hingga saat ini. Sontak saja, sang sepupu yang mendengar pengakuan korban terkejut dan marah. Kemudian, cerita korban sampai ke ibunya, SW (42). Pengakuan tersebut secara otomatis membuat keluarga korban, terutama SW marah dan benci kepada pelaku, meskipun pelakunya sendiri adalah suaminya.

 

Baca Juga : Gawat! RS India Kewalahan Hadapi Ledakan COVID-19, Seranjang Ditempati 2 Pasien

Kemudian, pada hari Senin (13/2), SW membuat laporan resmi ke Mapolsek Kamang Baru. Pada hari yang sama, petugas langsung menggelandang pelaku yang tengah bekerja di dalam kebun sawit. Saat diperiksa di kantor polisi, awalnya pelaku sempat menampik dan mengelak dari perbuatan yang disangkakan oleh anaknya tersebut, tetapi setelah diperlihatkan bukti SMS dan keterangan dari saksi, pelaku tidak bisa mengelak lagi dan mengakui perbuatannya.

Kapolres Sijunjung AKBP Dodi Pribadi yang dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. “Pelaku sudah ditahan. Sekarang kasusnya sedang dalam penyidikan lanjutan. Korban akan diperiksa, termasuk juga saksi, seperti sepupu dan ibu korban,” terang Kapolres.

Baca Juga : Gara-gara Ritual 'Balimau', Lebih 1.000 Orang Kena Corona

Dijelaskan Kasatreskrim Iptu Chairul Ridha yang didampingi kanit PPA Bripka Sepman Hadi, perbuatan itu memang sudah bertahun dilakukan pelaku. “Setelah mendapat laporan, pelaku langsung kita amankan dan kita bawa ke Mapolsek Kamang untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dari pengakuan sang korban, ayahnya tersebut diduga sudah 8 tahun melampiaskan nafsu birahinya,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu (22/2) di Polres Sijunjung.

Atas perbuatan tersebut, Chairul Ridha menambahkan pelaku terancam hukum kebiri serta UU perlindungan anak, karena korban merupakan anak kandung dari si pelaku.

 Sementara itu, pekerja sosial (Peksos) kementerian Sosial RI yang bertugas di wilayah Kabupaten Sijunjung Winda dan Melisa yang bertugas mendampingi korban menyebutkan, bahwa korban sempat dua kali pingsan akibat trauma yang dialaminya saat memberikan keterangan kepada pihak kepolisian. saat ini kondisi korban sangat membutuhkan tenaga ahli seperti psikolog untuk menghilangkan trauma.

Namun, untuk mendatangkan seorang psikolog masih terkendala biaya. Dirinya juga menuturkan bahwa pelaku tidak hanya menyetubuhi korban saja, tetapi juga sering memukul korban. Diketahui pelaku memang memiliki temperamental dan sering marah-marah dan berbuat kasar pada anaknya  maupun anggota keluarga yang lainnya termasuk ibu kandungnya. “Banyaknya kasus persetubuhan dengan korbannya anak di bawah umur membuat Sijunjung sangat membutuhkan tenaga Psikolog untuk mengobati para korban dari rasa trauma, namun masih terkendala biaya, karena kita dari kementerian tidak memiliki biaya untuk menggaji seorang Psikolog, dan ini sangat perlu perhatian kita bersama, karena para korban rata-rata memiliki rasa taruma yang berat,” sebut Melisa. (h/ogi)

 

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]