Malewakan Gala Sako Datuak Hakim Bangso Dirajo Nan Sati

Peran Datuak di Antara Profesi dan Adat


Selasa, 07 Maret 2017 - 12:05:35 WIB
Peran Datuak di Antara Profesi dan Adat Letnan Kolonel Laut Rismubeda Datuak Hakim Banso Dirajo Nan Sati. RIVO SEPTI ANDRIES

AGAM, HALUAN—Puluhan bendera marawa (khas adat minangkabau) berwarna merah, kuning dan hitam tertancap di kiri kanan memenuhi jalan menuju Nagari Tiku V Jorong, Kecamatan Mutiara Agam, Kabupaten Agam. Dari dalam satu tenda berukuran dua kali lapangan bulutangkis Letnan Kolonel Laut Rismubeda berjalan keluar dengan pakaian adat berwarna hitam dan berhias warna emas lengkap dengan keris.

 

“Alhamdulilah saya sudah diangkat menjadi datuak. Program ke depannya, sebagai datauk saya harus kerja ikhlas dulu. Artinya seorang penghulu ke depannya harus bisa seusia petapatah kusuik menyalasaian karuah mampajaniah. Selain itu saling kordinasi di semua sektor dan tentunya berpijak pada ABS-SBK,” terang Rismubeda diangkat menjadi Datuak Hakim Banso Dirajo Nan Sati, dalam acara Malewakan Gala Sako, Minggu (5/3).

 

Mendapat gelar atau Malewakan Gala merupakan tradisi di Minangkabau dalam mengangkat seorang mamak menjadi datuak atau penghulu di kaum atau sukunya. Dalam tradisinya, masyarakat setempat tidak lagi memanggil dengan nama orang mendapat gelar tersebut, tetapi dengan panggilan gelar yang didapatnya atau datuak.

 

Acara malewakan gala berlangsung selama tiga hari, dimulai tanggal 3 hingga 5 Maret. Berbagai prosesi pengangkatan mewarnai acara tradisional itu, diantaranya memetong kepala kerbau, hingga gandang  tasa.

 

Rismubeda merupakan anggota TNI yang berdinas di Oditur Militer Palembang, dan merupakan putra asli Nagari Tiku V Jorong. Nagari tersebut berada di tengah-tengah pekebunan sawit, atau berjarak sekitar 7 kilometer dari jalan utama Lintas Lubuk Basung-Pariaman.

 

Meski jorong ini berada di tengah perkebunan sawit. Namun, antusias warga yang hadir begitu terasa. Terlihat mayoritas ibu-ibu dari berbagai daerah membawa dulang (tempat mebawa kue dan sambal) sebagai tanda penghargaan unuk sang penghulu yang baru saja diangkat.

 

“Saya melihat nagari ini mempunyai potensi yang bagus terutama ini daerah perkebunan. Dan bagaimana saya selaku datuak di kaum ini bisa mendorong kemajuan, dan kesejahteraan masyarakat. Dan ini tanggung jawab saya,” paparnya.

 

Ia menjelaskan, profesinya sebagai TNI dan mendapat gelar datuak tidak menghalangi dalam memimpin kaum atau sukunya. Karena menurut Rismubeda, sebagai anak nagari gelar yang ia dapat adalah amanah yang harus dijalankan.

 

“Ini amanah bagi saya, sabagai datuak kalau ada permasalahan di kaum harus diselasaikan dengan baik “Seperti kusuik manyalasaian dan karuah mampajaniah,”. Karena kepala yang sama hitam tapi pandangan kita berbeda-beda. Tapi yang jelas kita semua saling sinergi. Di militer pakai sistem komando tapi sebagai datuak harus berbeda sistem yang dianut,” tuturnya.

 

Terkait dengan datuak yang tidak berada di kampung halaman karena memunyai prosesi lain, Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Agam Yul Arnis Datuak Maleka menjelaskan, khusus di Minangkabau memiliki kekhususan dalam pengangkatan pemimpin. Salah satunya datuak yang diangkat oleh anak dan kemenakannya tidak ada satu pun yang bisa masuk (orang lain).

 

“Harapan saya, kalau Datuak Hakim Bangso Dirajo Nan Sati pergi menjalankan tugasnya sebagai TNI, maka “Painyo tampak pungguang, tibonyo tampak muko,” Mendudukan kembali ninik mamak siapa yang mewakili tongkatnya.  Sehingga “Badaun layua balapiak usang” itu yang diadatkan di Minangkabau,” ungkapnya.

 

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]