Orang Minang Dianggap Lupa Beradaptasi


Rabu, 19 Juli 2017 - 11:18:02 WIB
Orang Minang Dianggap Lupa Beradaptasi Ilustasi/Haluan

PADANG, HARIANHALUAN.COM—Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menilai orang Minang tertinggal di pentas nasional karena melupakan pasar, pendidikan, dan surau. Sejumlah tokoh di Sumatera Barat menanggapi dan menerjemahkan penilaian urang sumando Minang itu.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Prof Firwan Tan menjelaskan, dulu orang Minang maju dalam bisnis karena yang dibutuhkan dunia bisnis pada masa lalu adalah orang pandai mengaji dan orang berani, antara lain, berani berdagang, berani berpolitik, karena dulu pasar belum begitu bersaing.

“Kita terlambat mengubah pola berbisnis seperti itu sehingga kita, misalnya, tidak mengikuti perkembangan zaman. Kini, orang berbisnis mengandalkan teknologi informasi, sementara kita masih bereuforia dengan masa lalu. Berbisnis pada masa kini istilahnya tidak lagi berdagang, tetapi industri. Orang Jawa sudah melakukan industri. Mereka berinovasi dalam berbisnis, yakni menggabungkan pengetahuan akademik dengan bisnis. Dunia bisnis saat ini membutuhkan orang berinovasi. Sementara itu, orang Minang pada zaman ini masih berbisnis dengan sistem lama, sistem kekeluargaan. Dalam berbisnis, manusia harus lebih cepat daripada perkembangan zaman. Kalau tertinggal dari perkembangan zaman, kita akan kalah,” ujarnya di Padang, Selasa (18/7).

Seharusnya, kata Firwan, orang Minang tidak tertinggal dalam perkembangan zaman, dalam hal ini bisnis, karena punya falsafah adat yang merupakan modal lebih maju daripada orang lain. Falsafah tersebut, misalnya, alun takilek alah takalam, atau takilel ikan dalam aia, alah jaleh jantan batinonyo. Namun, falsafah itu tidak dipraktikkan dalam kehidupan.

Selain hanya mengandalkan sistem kekeluargaan, kata Firwan Tan, orang Minang memiliki kelemahan lain dalam berbisnis, yakni tidak meregenerasi bisnisnya. Ia berpendapat, salah satu penyebab tidak adanya regenerasi tersebut adalah ketiadaan kepercayaan dari generasi pendahulu kepada generasi selanjutnya. “Misalnya, ayahnya tidak percaya kepada orang lain untuk melanjutkan bisnisnya, termasuk kepada anaknya. Ketika dia meninggal, bisnisnya tidak berjalan lagi. Entah kenapa orang Minang tidak suka anaknya mengikuti polanya. Misalnya, kalau dia pedagang, dia ingin anaknya jadi PNS. Seharusnya anak disiapkan untuk melanjutkan bisnis ayahnya tadi, seperti yang dilakukan pengusaha Minang, Basrizal Koto, itu bagus karena bisnis modern harus mendelegasikan kepercayaan orang lain,” tuturnya.

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]