Saksi Banyak Mengaku Tidak Tahu


Jumat, 21 Juli 2017 - 10:02:05 WIB
Saksi Banyak Mengaku Tidak Tahu KETERANGAN SAKSI—Seorang saksi dalam kasus dugaan pemalsuan dokumen Direktur Basko Grup di Pengadilan Negeri Klas IA Padang, Kamis (20/7). Pada sidang kali ini jaksa menghadirkan sebanyak tujuh orang saksi. RIVO SEPTI ANDRIES

Keterangan Saksi Nazar

 

Jaksa              : Kenapa Bapak bisa membangun rumah di situ?

Saksi Nazar    : Yang mengurus ini istri saya. Kakaknya ada bekerja di PT KAI karena kakaknya ada tanah PT KAI yang disewakan kepada kami. Itulah salah satu sebab kami di sana.
Jaksa              : Tahu bapak berapa di sewa? Per bulan, per tahun, atau bagaimana?

Saksi Nazar    : Kalau tidak salah per tahun disewa.

Jaksa              :  Tahu Bapak berapa?

Saksi Nazar    : Ndak jelas saya. Surat-suratnya sudah saya kasih sama PT KAI.

Jaksa              : Tapi, Bapak jelas rumah itu memang menyewa?

Saksi Nazar    : Iya

Jaksa              : Rumah bapak di situ permanen atau semi permanen?

Saksi Nazar    : Permanen itu?

Jaksa              : Tahun berapa bapak pindah dari situ?

Saksi Nazar    : Pindah tahun 1994.

Jaksa              : Kenapa keluar dari situ?

Saksi Nazar    : Waktu itu Camat Padang Utara datang ke rumah saya mengatakan tanah ini mau dipakai, Pak. Saya katakan, berapa mau diganti rugi. Kalau sesuai, saya terima. 

Jaksa              : Tadi camat yang mendatangi Bapak. Katanya mengatakan tanah mau dipakai. Tahu Bapak siapa yang memakai?

Saksi Nazar    : Siapa yang memakai tidak tahu saya.

Jaksa              : Kemudian Bapak tadi bilang meminta ganti rugi Rp25 juta waktu itu. Diganti rugi Bapak?

Saksi Nazar    : Diganti rugi Rp15 juta.

Jaksa              : Siapa yang memberikan ganti rugi kepada Bapak?

Saksi Nazar    : Camat. Di suruh saya ke balai kota. Di sana diberikan ganti rugi.

Jaksa              : Tahu Bapak dari mana sumber uang untuk ganti rugi rumah Bapak itu?

Saksi Nazar    : Tidak tahu. 

Jaksa              : Tahu Bapak bekas rumah Bapak tanah rumah Bapak itu dibangun apa sekarang?

Saksi Nazar    : Ndak tahu saya. Cuma, tanah itu saya tinggalkan kosong. Siapa yang membangun tak tahu saya.

Jaksa              : Sampai sekarang tak tahu Bapak?

Saksi Nazar    : Tidak tahu saya. Setelah rumah itu dibongkar, saya tinggalkan tanah itu kosong. Tak thau saya siapa yang membangun. Sejak rumah saya dibongkar, saya berangkat, tak pernah saya tengok lagi.

Jaksa              : Selain Bapak, ada orang lain ndak yang juga tinggal dan membuat rumah di situ?

Saksi Nazar    : Di sebelah rumah saya itu ada Ibuk pensiunan BPN (ragu). Di sebelahnya ada Mak Etek namanya, tapi ga jelasnya orangnya sama saya. Sebelahnya lagi orang keling. Sebelahnya sopir bemo

Jaksa              : Apakah Bapak tahu bagaimana mereka bisa mendirikan rumah di situ?

Saksi Nazar    : Saya ndak pula tahu. Istri saya beurusan sama orang KAI. PT KAI yang kasih surat, surat izin, surat itu.

Jaksa              : Saya ulangi lagi. Jadi, ada berapa rumah yang tinggal di sekitar rumah Bapak itu?

Saksi Nazar    :  Sama rumah saya empat kalau ga salah.

Jaksa              : Itu rumah yang katanya pensiunan BPN (ragu) itu di sebelah kanan rumah Bapak atau sebelah kiri rumah Bapak?

Saksi Nazar    : Sebelah kiri.

Jaksa              : Rumah Bapak menghadap ke mana itu?

Saksi Nazar    : Menghadap ke jalan besar pas di belakang kantor PBB.

Jaksa              : Oh, kantor PBB itu ya?

Pengacara      : Apak tingga di situ. Tadi apak mangicekan manyewo? Ado perjanjian sewa- menyewa antaro bini Apak jo PT KAI?

Saksi Nazar    : Ado surek-sureknyo.

Pengacara      : Lah apak agiahan ka PT KAI?

Saksi Nazar    : Alah ambo agiahan ka PT KAI. Ambo simpan surek-surek tu sadonyo. Datang urang PT KAI mananyoan, “Surek apak ma”. Ambo agiahan ka PT KAI.

Pengacara      : Waktu dipareso polisi, ado Apak agiahan surek-surek tu ka polisi?

Saksi Nazar    : Ka PT KAI surek tu ambo agiahan

Pengacara      : Waktu dipareso polisi, ado surek-surek tu diminta polisi?

Saksi Nazar    : Ndak ado do. Ambo dipareso bantuak itu se dek polisi nyo.

Pengacara      : Apo kicek polisi mamereso Apak?

Saksi Nazar    : Tu ambo kicekan ambo tingga di sinan, di Jalan Hamka Nomor 2. Kini ambo digusur. Tu se nyo. Sia yang datang, yang datang camaik ka rumah ambo maminta tanah ko dipakai. Tu se nyo. Carito-carito lain ndak ado do.

Jaksa              : Apak tau tanah tu tanah PT Kereta Api?

Saksi Nazar    : Tau.

Pengacara      : Bapak tau groonkart?

Saksi Nazar    : Groonkart maksudnyo?

Jaksa              : Tau atau tidak?

Saksi Nazar    : Ndak tau do.

Pengacara      : Jaksa mendakwa Basrizal Koto dengan pemalsuan evendom. Bapak tau evendom?
Saksi Nazar    : Ambo tau pernah dangatapi ndak mangarati artinyo do.

Pengacara      : cukup.

Pengacara      : Pak. Bapak kan diminta datang ke balai kota. Siapa saja yang ada di sana selain Pak Camat.

Saksi Nazar    : Saya sendirian datang ke sana. Kebetulan saya pengen ketemu. Waktu dikasih uang itu saya bilang saya tak mau terima. Saya bilang saya mau bicara sama wali kota. Kebetulan wali kota ini saya kenal baik sama dia. Saya bilang, “Buk, kok segini uang dikasih, sedangkan perjanjian sama Pak Camat Rp25 juta, sekarang dikasih Rp15 juta”. Jadi, sampai sekaramg saya tak pernah bertemu sama wali kota.

Pengacara      : Sekarang yang saya tanyakan gini, Pak: waktu Bapak datang ke balai kota, siapa saja yang ada selain Pak Camat?

Saksi Nazar    : Ada asistennya.

Pengacara      : Terus siapa lagi? Selain asistennya siapa lagi? Bapak Basrizal Koto ada ndak?

Saksi Nazar    : Yang jelas sama saya satu orang, asisten tiganya kalau ndak salah.

Pengacara      : Pak Basrizal Koto ada ndak di kantor balai kota saat Bapak datang?

Saksi Nazar    : Ndak ada. Ndak pernah saya ketemu Basrizal Koto. 

Pengacara      : Bapak Nazar tadi manyewa, yo? Tahun berapa menyewa?

Saksi Nazar    : Tahun 1989 sampai 1994.

Pengacara      : Bapak tahu nama camatnya siapa?

Saksi Nazar    : Kalau ndak salah nama camatnya Alfian.

Pengacara      : Tetangga tadi yang empat dapat ganti semua?

Saksi Nazar    : Apa? 

Pengacara      : Tetangga Bapak yang empat rumah apakah dapat ganti rugi semua?

Saksi Nazar    : Ndak tahu saya. Waktu saya pulang dari haji, orang itu tak ada lagi. Sudah digusur. Rumah saya saja yang tinggal.

Pengacara      : Tapi, waktu di balai kota, orang yang empat tadi. Orangnya datang ke balai kota ndak?

Saksi Nazar    : Tidak, saya sendiri.

Pengacara      : Kemudian Pak Camat dan Wali Kota tadi yang memberi ganti rugi  bertindak sebagai atas nama pribadi, atas nama KAI, atau atas nama negara?

Saksi Nazar    : Orang kereta api tak pernah tahu. Saya pun tak pernah dihubungi oleh dari PT Kereta Api perihal tanah ini diambil.

Pengacara      : Tapi, tadi bapak terima surat dari PT Kereta Api?

Saksi Nazar    : Itu dulu, saat tanahnya dikembalikan ke PT Kereta Api saat 1994. Setelah itu, saya tak pernah bertemu lagi dengan orang kereta api.

Pengacara      : Ketika Bapak di sana, Bapak pernah bayar pajak ndak? Bayar PBB?

Saksi Nazar    : Sampai sekarang saya bayar pajak.

Pengacara      : Bukan atas tanah yang ditempati itu bapak pernah bayar pajak ndak?

Saksi Nazar    : Sekarang saya bayar pajak, tapi yang lama itu ndak jelas sama saya lagi.

Hakim             : Gimana keterangan Bapak ini? Ada yang benar atau ada yang salah?

Basrizal Koto : Saya memang belum pernah ketemu Bapak ini. Tapi, dari keterangan yang disampaikan Bapak ini ada yang salah.

Hakim             : Yang salah tentang apa?

Basko              : Yang salah dikatakan dia mengatakan ada sewa menyewa dengan PT KAI. Sekiranya itu yang salah. Karena ketika pembebasan tanah itu saya sudah datang bersama dengan Bapak Camat dan Wali Kota. Tak mungkin Bapak ini sewa menyewa dengan PT KAI.
Hakim             : Bapak sewa atau gimana dengan PT KAI?

Saksi Nazar    : Saya menyewa. Ada surat-suratnya. Tidak saya tempati saja.

----------------------------------------------------------------------------------------

Keterangan Saksi Dasrul

 

Hakim             :  Tugas di PT KAI sejak tahun berapa? 

Saksi Dasrul   : 1983 sampai sekarang. Pertama penempatan di Solok.

Hakim             : Sebagai apa di PT KAI?

Saksi Dasrul   : Sebagai pelaksana perawatan pembangunan.

Hakim             : 1983 sampai 1994 di bagian apa?

Saksi Dasrul   : Di bagian bangunan. Bagian dalamnya, Pak.

Hakim             : Yang ngontrol?

Saksi Dasrul   : Bukan. Sebagai pelaksana. Di kantor, SK sebagai staf.

Jaksa              : Berhubungan dengan aset PT KA, khususnya tanah, apa yang menjadi bukti dari PT KA atas kepemilikan tanah itu?

Saksi Dasrul   : Bukti otentiknya sertifikat sama groonkart.

Jaksa              : Mana yang dulu dibuat sertifikat atau groonkart?

Saksi Dasrul   : Groonkart, Pak.

Jaksa              : Khusus tanah yang dilokasi lewat Jalan Hamka, khususnya yang di Basko sekarang. Berdasarkan peta groonkart berapa meter dari rel? 

Saksi Dasrul   : Bervariasi, Pak. Ada yang 40 meter, ada yang 20 meter.

Jaksa              : Kenapa berbeda-beda?

Saksi Dasrul   : Oh, kalau alasannya kita ndak tahu juga. Kita udah adanya begitu dari zaman Belanda sampai sekarang.

Jaksa              : Khusus tanah yang di belakang Basko, berapa meter dari as rel kereta api?

Saksi Dasrul   : 40 meter.

Jaksa              : Bapak punya peta groontkart?

Saksi Dasrul   : Kalau saya ga ada, Pak. PT Kereta Api ada. 

Jaksa              : Tanah yang bisa disewakan PT Kereta Api itu berapa meter dari rel?

Saksi Dasrul   : 12 meter dari rel.

Jaksa              : Bapak pernah dengar ada masalah dengan penyewaan ini?

Saksi Dasrul   : Ada, Pak. Yang dengan Basko ini masalah kontrak. Dulu terbit kontrak atas nama Basko. Intinya, ada masalah kontrak dengan penyewa, yang mana, ini sungai, ini lokasinya, Pak. Ini rel.

Jaksa              : Tanah yang disewakan oleh PT KA ke pihak lain?

Saksi Dasrul   : 12 meter dari as rel, boleh disewakan.

Jaksa              : Berhubungan dengan Bapak katakan tadi ada permasalahan di sini. Ada permohonan dari Basrizal Koto. Ia mengatakan bahwasanya tanah yang ada di lokasi everdon porbonding.
Saksi Dasrul   : Ndak tahu saya itu, Pak. Saya tahunya ini tanah PT KAI dikontrak, tiba-tiba sudah terbit sertifikat

Jaksa              : Bagaimana dengan isinya yang mengatakan tanah evenden porbonding.

Saksi Dasrul   : Yang jelas, setahu saya ini dikontrak, tiba-tiba sudah terbit ini.

Jaksa              : Pernah Bapak ukur itu?

Saksi Dasrul   : Ndak pernah. Waktu mengukur saya tahu, tapi saya ndak pernah ikut mengukur.

Jaksa              : Kapan Anda ikut? 2016 ada?

Saksi Dasrul   : 2016 saya rasa ndak, Pak. Kalau ndak salah saya, waktu pecahnya perkara waktu PT Kereta Api menuntut Basko. Saya ikut, tapi 2016 saya tak ikut. 2016 saya sudah aktif di perawatan bangunan. Tak ada lagi di aset.

Jaksa              : Saudara saksi pernah diperiksa polisi?

Saksi Dasrul   : Pernah

Jaksa              : Saat ada pemeriksaan di kepolisan, Anda mengatakan, perkara Basko ini dikatakan Basko membuat surat palsu, memalsukan surat, atau melakukan penggelapan tanah milik negara. Apa itu benar?

Saksi Dasrul   : Saya jelaskan sedikit, ya, Pak. Pas ada kasus Basko, saya ditanya oleh polisi, “Bapak tahu ini tanah kereta api?” Tahu. “Tahu kontraknya?” Tahu. Sekarang terbit sertifikatnya. Itu yang saya tahu, Pak.

Jaksa              : Kata-kata memalsukan itu, apakah sudah dibuat polisi Anda tanda tangan atau jawaban Anda sendiri?

Saksi Dasrul   : Yang masalah palsunya itu, Pak. Yang mengatakan palsu itu ndak itu, Pak. Yang jelas, tanah itu dulu dikontrak, sekarang terbit sertifikat. Itu yang saya katakan.

Jaksa              : Kata-kata palsunya ada atau tidak?

Saksi Dasrul   : Saya rasa tidak, Pak.

Jaksa              : Anda mengerti ndak dengan vendon vorending.

Saksi Dasrul   : Tidak mengerti saya, Pak.

Jaksa              : Yang mengatakan hak milik dari tanah itu selain kantor BPN dan PT KAI tahu Anda?

Saksi Dasrul   : Ndak tahu saya, Pak.

Jaksa              : Dalam surat penyewaan 1994, tanah PT KAI ini dinyatakan berlokasi di air tawar timur seluas 1.200 hektare. Dalam penyewaan tanah tersebut bertempat di Air Tawar selatan. Bisa Anda membedakan Air Tawar timur dan selatan?

Saksi Dasrul   : Ndak tahu saya, Pak.

Jaksa              : Tadi saksi mengatakan, 

Saksi Dasrul   : Ada kontrak. Iya.

Jaksa              : Dalam pemeriksaan pertanyaan nomor 5, Anda  ditanyakan bagaimana cara Basko memakai aset PT Kereta Api. Anda mengatakan, adapun caranya PT Basko memakai tanah kereta api adalah sepengetahuan saya harus ada surat permohonan dari orang yang akan menggunakan aset PT KAI, pernyataan C, semacam surat pernyataan atau perjanjian.

Saksi Dasrul   : Prosedur itu, Pak.

Jaksa              : Sekarang nomor 5. Coba Saudara jelaskan rincian perjanjian PT Basko Minang Plaza dengan PT KAI. Satu adanya surat permohonan dari yang bersangkutan. Dua pernyataan C, pemakaian aset dan tanah, kontrak sewa kedua belah pihak dengan ketentuan. Surat permohonan dari bersangkutan pernah lihat? 

Saksi Dasrul   : Pernah lihat, tapi saya tidak membacanya.

Jaksa                : Apa yang tertera di sana?

Saksi Dasrul   : Saya lihat, tapi saya tidak thau isinya. Saya tidak tahu itu, Pak. Saya ga ingat.

Jaksa              : Saya minta, kalau saksi tahu, bilang tahu. Pernyataan C ini masalah apa? 

Saksi Dasrul   : Ga jelas saya, Pak, tapi itu prosedur. Tapi, pernyataan C itu apa, 
ya saya pernah lihat sekilas, tapi ga baca semua.

Jaksa              : Pernah lihat sekilas memang ngerti maksudnya?

Saksi Dasrul   : Ya, saya tahunya model C. Itu saja.

Jaksa              : Pada pertanyaan nomor 6 ditanyakan pada saudara, berapa kali PT Basko Minang Plaza melakukan pembayaran sewa tanah? Jawabannya, setahu saya PT Basko Minang Plaza telah melakukan sewa tanah sebanyak tiga kali, yaitu tahun 1994, 1997, 2001. Tapi, setelah 2001 itu sampai sekarang PT Basko Minang Plaza tidak mau melakukan pembayaran lagi. Apakah demikian keterangan saudara?

Saksi Dasrul   : Betul.

Jaksa              : Siapa orang yang melakukan pembayaran tiga kali? Anda tahu?

Saksi Dasrul   : Saya mendengar, bukan melihat. Sebab, gini: saya waktu itu staf biasa. Jadi, saya tak terlibat langsung di sana. Saya hanya mendengar. Siapa orangnya? Banyaklah istilahnya, Afrizal B, Ar Rahim, dan banyak lagi.

Jaksa              : Pertanyaan nomor 7. Apakah upaya yang dilakukan PT Kereta Api kepada PT Basko Minang Plaza yang mana tidak membayar kewajibannya. Adapun upaya yang dilakukan PT KAI adalah memberi surat pemberitahuan tunggakan sewa, menberi surat peringatan agar tanah itu dikosongkan, kemudian memberi peta tanah peninggalan Belanda.
Benar ini?

Saksi Dasrul   : Benar.

Jaksa              : Saat surat pemberitahuan dikirim ke PT Basko Minang Plasa ada yang menerima?
Saksi Dasrul   : Ada.

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 13 Juni 2019 - 00:54:31 WIB

    Hendak Transaksi Ganja, Pria UP Diciduk Satres Narkoba  Polres Bukittinggi

    Hendak Transaksi Ganja, Pria UP Diciduk Satres Narkoba  Polres Bukittinggi BUKITTINGGI, HARIANHALUAN.COM-Ketika hendak melakukan transaksi atau menjual barang haram tersebut, di Jalan Angku Basa, Kelurahan Puhun Tembok, Pria berinisia UP  keburu  tercidukTim Operasional Satuan Reserse Narkoba Polr.
  • Rabu, 20 Februari 2019 - 10:32:37 WIB

    Dugaan Korupsi di Hotel Balairung, Polisi Sudah Periksa 21 Saksi

    Dugaan Korupsi di Hotel Balairung, Polisi Sudah Periksa 21 Saksi PADANG, HARIANHALUAN.COM—Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumbar, terus menyelidiki pengaduan masyarakat terkait dugaan korupsi terhadap biaya operasional Hotel Balairung. Hingga saat ini, polisi tel.
  • Selasa, 12 Februari 2019 - 10:32:09 WIB
    KEMUNGKINAN PEMANGGILAN TERKAIT KASUS BALAIRUNG

    Bupati dan Wako di Sumbar Siap Bersaksi

    Bupati dan Wako di Sumbar Siap Bersaksi PADANG, HARIANHALUAN.COM – Rencana Direktorat Reskrimsus Polda Sumbar untuk memanggil sejumlah kepala daerah sebagai saksi dalam pengusutan dugaan korupsi dalam pengelolaan Hotel Balairung, menuai ragam komentar dari bebera.
  • Rabu, 06 Februari 2019 - 12:40:36 WIB

    Dugaan Korupsi Hotel Balairung, Polda Sumbar Periksa Tiga Saksi Pekan Ini

    Dugaan Korupsi Hotel Balairung, Polda Sumbar Periksa Tiga Saksi Pekan Ini PADANG, HARIANHALUAN.COM – Polda Sumbar terus mendalami pengaduan masyarakat terkait dugaan korupsi terhadap biaya operasional Hotel Balairung, hotel milik Pemprov Sumbar di Jakarta yang dibangun dengan anggaran daerah, dan.
  • Kamis, 03 Januari 2019 - 13:09:03 WIB

    Sejumlah Saksi Didatangkan, Polisi dan Jaksa “Kepung” Balairung

    Sejumlah Saksi Didatangkan, Polisi dan Jaksa “Kepung” Balairung Sudah sepuluh orang saksi yang dimintai keterangannya oleh Kejati Sumbar terkait dugaan korupsi dalam pengelolaan Hotel Balairung Jakarta. Polda Sumbar pun mengaku telah melakukan pemanggilan dan segera melakukan BAP pekan de.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]