Mengenal Kusta, Penyakit Kulit yang Populer di Indonesia


Rabu, 26 Juli 2017 - 21:23:04 WIB
Mengenal Kusta, Penyakit Kulit yang Populer di Indonesia ilustrasi Kusta/NET

Selain penyebab utamanya, ada juga faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap penyakit ini. Beberapa faktor risiko tersebut meliputi:

  • Melakukan kontak fisik dengan hewan penyebar bakteri kusta tanpa sarung tangan. Beberapa di antaranya adalah armadilo dan simpanse afrika.
  • Melakukan kontak fisik secara rutin dengan penderita kusta.
  • Bertempat tinggal di kawasan endemik kusta.
  • Menderita cacat genetik pada sistem kekebalan tubuh

Pengobatan kusta

Baca Juga : Tanaman di Sekitar Rumah, Sumber Udara Bersih Pencegah Covid-19

Mayoritas penderita kusta yang didiagnosis secara klinis akan diberi kombinasi antibiotik sebagai langkah pengobatan selama 6 bulan hingga 2 tahun. Dokter harus memastikan jenis kusta serta tersedianya tenaga medis yang mengawasi penderita untuk menentukan jenis, dosis antibiotik, serta durasi pengobatan.

Pembedahan umumnya dilakukan sebagai proses lanjutan setelah pengobatan antibiotik. Tujuan prosedur pembedahan bagi penderita kusta meliputi:

Baca Juga : Ada Sekitar 93 Unit IPPKH Aktif di Kalimantan Selatan

  • Menormalkan fungsi saraf yang rusak.
  • Memperbaiki bentuk tubuh penderita yang cacat.
  • Mengembalikan fungsi anggota tubuh.

Risiko komplikasi kusta dapat terjadi tergantung dari seberapa cepat penyakit tersebut didiagnosis dan diobati secara efektif. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi jika kusta terlambat diobati adalah:

  • Mati rasa atau kebas. Kehilangan sensasi merasakan rasa sakit yang bisa membuat orang berisiko cidera tanpa menyadari dan rentan terhadap infeksi.
  • Kerusakan saraf permanen.
  • Otot melemah.

Cacat progresif. Contohnya kehilangan alis, cacat pada jari kaki, tangan dan hidung

Baca Juga : Lagi, Rafflesia Tuan-Mudae Mekar Sempurna di Cagar Alam Maninjau

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 26 Januari 2021 - 13:35:33 WIB

    Tanaman di Sekitar Rumah, Sumber Udara Bersih Pencegah Covid-19

    Tanaman di Sekitar Rumah, Sumber Udara Bersih Pencegah Covid-19 Udara yang bersih dan sirkulasi yang lancar, sangat  dibutuhkan dalam  mencegah penularan virus Covid-19. Pemeliharaan tanaman di sekitar rumah adalah salah satu cara mendapatkannya..
  • Sabtu, 23 Januari 2021 - 19:50:43 WIB

    Ada Sekitar 93 Unit IPPKH Aktif di Kalimantan Selatan

    Ada Sekitar 93 Unit IPPKH Aktif di Kalimantan Selatan Secara umum, luas total kawasan hutan di Provinsi Kalsel kurang lebih 1.664.000 Ha, dimana seluas kurang lebih 950.800 Ha merupakan kawasan hutan lindung dan produksi..
  • Kamis, 21 Januari 2021 - 22:43:48 WIB

    Lagi, Rafflesia Tuan-Mudae Mekar Sempurna di Cagar Alam Maninjau

    Lagi, Rafflesia Tuan-Mudae Mekar Sempurna di Cagar Alam Maninjau Satu individu bunga langka dan dilindungi jenis Rafflesia Tuan-Mudae mekar sempurna di kawasan hutan Cagar Alam Maninjau, Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan, Rabu (20/1/2021) kemarin. .
  • Selasa, 19 Januari 2021 - 18:15:59 WIB

    DLH Tanam Ribuan Bibit Produktif di 19 Taman Kota Padang

    DLH Tanam Ribuan Bibit Produktif di 19 Taman Kota Padang Dalam rangka untuk memanfaatkan ruang terbuka hijau bernilai ekonomis, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang mengupayakan bibit tanaman produktif di Kota Padang..
  • Ahad, 17 Januari 2021 - 23:17:49 WIB

    Terumbu Karang Rusak, Nelayan di Tiku Mengeluh

    Terumbu Karang Rusak, Nelayan di Tiku Mengeluh Sejumlah nelayan di Tiku, Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam mengeluh banyaknya terumbu karang yang rusak. Akibatnya, hasil tangkapan mereka mengalami penurunan. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten, Agam Ar.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]