Madan, Kisah Duka Bocah Pejuang dari Pesisir Selatan


Selasa, 08 Agustus 2017 - 09:41:29 WIB
Madan, Kisah Duka Bocah Pejuang dari Pesisir Selatan Ita menunggu Madan yang tergolek lemah di RSUP M Djamil Padang. IST
anak lainnya, yang penuh keceriaan. Masa kanak-kanak Madan suram. Terlahir sebagai anak keempat dari delapan bersaudara, Madan memiliki keterbatasan fisik. Sebab itu dia tak diterima di Sekolah Dasar (SD). Pun demikian, hatinya keras juga sekolah. Ita juga begitu. Dia ingin anaknya berseragam. Madan lalu didaftarkan di SDLB Balai Selasa. Bergabung dan terkadang berbagi keterasingan dengan murid-murid lainnya.

Walau punya kekurangan, Madan penuh semangat. Tidak canggung bergaul. Dia riang-riang saja, walau acap sendiri. Makanya, dia disenangi orang di Pasar Balai Selasa. Ketika Malin, mendiang ayahnya masih ada, hidup Madan tidak sulit-sulit amat. Setidaknya, untuk makan sehari-hari bisa dicari sang ayah. Madan dan saudaranya tinggal makan. Tapi, semuanya terbalik. Sang ayah tiada. Hidup Madan dan keluarganya mulai tak normal. Keceriaan masa kanak-kanaknya perlahan redup.

 Ita, ibunya yang kalang kabut ditinggal suami. Tidak ada sawah nan akan dikelola, atau ladang yang diwariskan suaminya. Dia hanya “diwarisi” delapan anak yang harus dihidupinya sendiri. Kepanikan Ita semakin menjadi karena dia tidak punya keahlian apa-apa. Walau tinggal dekat pasar, naluri niaga tak dia punyai. Sehabis akal, Ita akhirnya menjadi pesuruh di acara baralek (kenduri-red). Jadi buruh cuci piring, yang di setiap hajatan diupah Rp50 ribu. Dengan uang itu dia menyambung hidup. Sayangnya, tidak setiap hari orang baralek. Paling sekali seminggu. Untuk menghidupi anaknya, Ita kadang terpaksa berhutang.

Beranjak dari kepedihan itulah hati Madan akhirnya tergerak. Walau masih kecil, dia tidak ingin hidup begitu saja, dan menampung uang dari ibunya. Tanpa sepengetahuan ibu, sepulang sekolah, Madan bekerja serabutan di Pasar Balai Salasa. Dia jadi pesuruh di warung-warung, dan akhirnya menetap bekerja di kedai santan, sebagai pemarut kelapa. Sehari, dia diupah Rp15 – Rp20 ribu per harinya.

Bertahun-tahun pekerjaan itu dilakoninya, tanpa dia sadari

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]