Titik Panas Bermunculan di Sumbar


Rabu, 09 Agustus 2017 - 17:37:03 WIB
Titik Panas Bermunculan di Sumbar Sceenshot

Meski begitu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumatra Barat Pagar Negara menilai, pengendalian kebakaran lahan dan hutan di wilayah Sumatra Barat masih tertangani baik. Hal ini lantaran adanya curah hujan yang cukup tinggi dalam sepekan terakhir. BPDB juga berkoordinasi dengan intansi lain, termasuk Dinas PU untuk menyiagakan alat-alat berat yang bisa digunakan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Secara keseluruhan di Indonesia, luas areal kebakaran hutan dan lahan yang ditangani oleh Manggala Agni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sampai 4 Agustus 2017 telah mencapai 4.485,88 hektare. Luasan itu paling dominan terjadi di Sumatera Utara 1.104,13 Ha, Aceh 747,00 Ha, Riau 467,61 Ha, Jambi 110,25 Ha, Sumatera Selatan 542,35 Ha, Kalimantan Tengah 188,08 Ha, Kalimantan Barat 588,82 Ha, NTT 159,83 Ha, Sulawesi Utara 378,80 Ha, serta beberapa daerah lain di Indonesia.

Sejumlah daerah telah menetapkan Status Siaga Darurat untuk mengantisipasi karhutla. Provinsi Riau terhitung sejak 24 Januari 2017 telah menetapkan Status Siaga Darurat, dan diperpanjang dari 1 Mei sampai 30 November 2017. Status yang sama ditetapkan Provinsi Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Jambi terhitung sampai 31 Oktober 2017.

Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi, menyampaikan Kementerian LHK telah bersinergi dengan berbagai pihak melaksanakan upaya-upaya pencegahan karhutla, di antaranya dengan TNI, POLRI, BNPB, dan satgas-satgas provinsi. Djati mengatakan upaya pencegahan dilakukan untuk mencegah agar tidak muncul titik api dan menekan tingkat bahaya karhutla, utamanya di provinsi rawan di Sumatera dan Kalimantan.

"Upaya pencegahan karhutla yang telah dilaksanakan yaitu berupa peningkatan status kedaruratan, patroli terpadu, operasi udara yang meliputi patroli udara, water bombing, pembuatan hujan buatan/Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), dan operasi darat yang meliputi patroli mandiri dan pemadaman dini, " kata Djati, dalam keterangannya kepada Republika.co.id.

Upaya pemadaman karhutla dilakukan melalui operasi udara yang melibatkan 15 pesawat udara gabungan Kementerian LHK dan BNPB. Hingga Jumat (4/8), rekapitulasi total dukungan operasi udara dalam pengendalian karhutla, telah melakukan upaya water bombing sebanyak 32.71.900 liter air dan 74 juta ton garam untuk teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Water bombing dan hujan buatan dilakukan di Riau, Kalbar, Sumsel, Aceh. "Di Sumsel dari 8 Juni 5 Agustus 2017 telah dilakukan 50 penerbangan dan telah disemai 50 ton garam di wilayah Kab. Banyuasin, OKI, Ogan Ilir, PALI, Muara Enim, OKU Timur dan Kota Palembang," ujar Djati.

Pencegahan karhutla juga dilakukan melalui pembangunan fisik yang dikerjakan oleh para pihak di tujuh provinsi rawan karhutla berupa sekat kanal 21.036 unit, embung 2.581 unit,dan sumur bor 11.941 unit. Untuk membantu satgas karhutla, Masyarakat Peduli Api (MPA) dibentuk di desa rawan karhutla di 26 provinsi dengan jumlah anggota 9.963 orang atau 664 regu.

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]