Penyetrika Arang, Bertahan di Tengah Zaman Digital


Rabu, 06 September 2017 - 10:41:52 WIB
Penyetrika Arang, Bertahan di Tengah Zaman Digital Darman (59) menyetrika pakaian menggunakan setrika arang di kedai berukuran 1,5 x 3 meter di komplek Padang Theater, Padang.

Untuk harga upah satu dobian, ia hanya mematok harga sekitar Rp3.000 saja untuk celana dasar. Namun berbeda lagi untuk harga jas misalnya yang dibandrol harga Rp25.000 per helai.

“Kalau untuk jas memang jarang sekali dan tekniknya juga berbeda. Namun untuk celana dasar dan lainnya sekitar Rp3.000 saja,” lanjutnya.

Lanjutnya lagi, saat ini yang mau upah dobi hanya tukang jahit saja. Itupun tidak semuanya karena sudah banyak yang pakai strika listrik meski hasilnya tidak selicin dan seharum dobian arang.

“Setrika listrik dan arang ini jelas berbeda sekali. Terutama dari tingkat kelicinanya. Maka dari itu banyak tukang jahit yang mengupahkan kain selesai jahitannya. Yang perorangan atau umun tidak pernah,” ujar Man dengan logat kota asalnya Pariaman.

Sambil sibuk mendobi setrikaan konsumennya, ia terus bercerita. Setrika arang ini prinsipnya semakin banyak dobian maka semakin irit pemakaian arang. Karena, meski tidak ada yang didobi, arang tetap membara dan terus habis.

“Kalau sedikit dobian maka arangnya habis begitu saja. Karena arang ini tidak dimatikan atau dihidupkan sesuka hati. Sekali hidup di pagi hari maka akan terus hidup sampai sore,” ujarnya dengan gesit terus menggoyangkan setrika nya.

Man juga berceletuk kalau strikaan arang tersebut berat dan membara. Ternyata benar, berat setrika tersebut ada sekitar enam kilo. “Setrika ini terbuat dari kuningan dan beratnya lebih dari enam kilo. Ada dua yang saya punya,” imbuhnya.

Untuk mendapatkan arang ia harus membeli lagi kepada tukang arang yang harganya Rp10.000 per kg. Sehari, ia bisa menghabiskan arang sekitar 3 kg.

Banyak atau sedikit konsumen yang upah dobi, tetap saja yang terpakai sekitar 3 kg itu. Namun, sejak tahun 2016 hingga sekarang konsumen yang mengupah semakin sedikit. Hal tersebut karena terus berkembang nya zaman.

“Meski zaman terus berkembang saya akan tetap pendirian dengan profesi ini. Selagi masih ada tukang jahit saya yakin masih ada yang di dobi dengan arang ini,” ungkapnya sambil menyeka keringatnya. (*)

 

Editor: Rivo Septi Andries

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]