Walhi Sumbar: Proyek Geothermal Berpotensi Merusak


Ahad, 17 September 2017 - 23:04:09 WIB
Walhi Sumbar:  Proyek Geothermal Berpotensi Merusak Ratusan warga demo menolak pembangunan pembangunan proyek geothermal yang akan dilaksanakan di Nagari Batu Bajanjang, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok, Rabu (13/9).

PADANG, HALUAN-Berdasarkan hasil studi potensi resiko,  rencana pembangunan geothermal di Gunung Talang, Bukit Kili Kabupaten  Solok,  berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi masyarakat.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumbar Uslaini Chaus  menyatakan itu dalam   Dialog Akademis yang diinisiasi oleh Pascasarjana Universitas Andalas bertajuk "Pro- Kontra Rencana Pembangunan Geothermal di Gunung Talang Bukit Kili", Sabtu (16/9/2017).

Faktor dampak adalah aktivitas Hydraulic Fracturing (fracking), kata Uslaini kepada haluan, yaitu upaya memperbesar permeabilitas batuan reservoir dengan cara menyuntikkan fluida ke dalam reservoir, sehingga dapat meloloskan uap air dan gas diantara celah-celahnya. Fracking juga menjadi alasan geothermal menjadi energi terbarukan, karena uap air dapat didaur ulang dan disuntikkan kembali. Namun fracking adalah kegiatan yang berisiko tinggi terhadap lingkungan. "Kemudian posisi pembangkit yang secara topografi berada diketinggian, diatas pemukiman warga dan perladangan serta berada di zona merah ancaman letusan gunung api, dan berada di patahan semangko ," kata Uslaini.

Resiko lain yang akan muncul akibat bahan pencemar yang dihasilkan berupa caustic soda, benzena, toluena, arsenik, antimon, boron serta limbah gas penyebab emisi berupa CO2, H2S, CH4 dan NH3.

Dijelasan, berdasarkan literatur dan kejadian-kejadian di daerah lain, secara ekologi faktor dampak tersebut, emnurut hasil kajian Walhi,   akan berpotensi menimbulkan gempa bumi minor, aktivitas tektonik, amblesan yaitu peristiwa turun atau lolosnya permukaan tanah dan manifestasi liar atau munculnya kawah atau fumorolla baru (masyarakat setempat menyebutnya Gabuo) yang tidak bisa dikendalikan. Juga pencemaran air dari kebocoran fluida dan kehilangan debit air (kekeringan) akibat tingginya serapan air untuk pembangkit ataupun kesalahan pemboran dan perubahan sistem hidrologi bawah tanah.

Secara ekonomi,  kata dia, faktor dampak tersebut berpotensi menyebabkan kehilangan lahan, menurunnya priduktifitas lahan dan gagal panen, serta peningkatan biaya hidup (biaya perbaikan properti bangunan karena kerusakan seng atap rumah dari hujan asam).

"Dan, secara sosial dampak yang berpotensi muncul adalah dampak ikutan mengelola sumber daya lahan yang terdapat di  Gunung Talang , karena secara psikologis masyarakat sebagai komunitas asli merasa  memiliki hak kelola  yang lebih besar pada kawasan teritorialnya, kemudian dampak berubahnya sistem sosial, adat dan budaya. Dan yang paling dikhawatirkan adalah konflik horizontal dalam masyarakat karena adanya benturan antara  pro dan yang kontra dari rencana pembangunan ini," jelasnya.

 Prof. Ardinis Arbain saat menyampaikan tanggapannya juga mengatakan bahwa Geothermal bukanlah energi yang benar2 bersih. Banyak hasil riset dari geothermal di Itali dan Selandia Baru ditemukan bahwa Geothermal memghasilkan gas buang Karbondioksida dan Metan dalam jumlah besar. Disamping juga menghasilkan zat kimia berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan mayarakat disekitarnya berupa Mercury, Boron dan Arsenik.

Ardinis  menyarankan sebelum proyek ini dilanjutkan sebaiknya dilakukan Kajian Lingkungan Hidup Strategis ( KLHS) untuk wilayah ini. Hal ini karena Geothermal adalah proyek besar yang berada dikawasan lindung, dekat dengan pemukiman masyarakat dan memiliki dampak yang sulit diprediksi.

Selain itu Prof Syafrudin Karimi seorang Ekonom dari Fakultas Ekonomi Universitas Andalas mengatakan bahwa perlu dilakukan kajian Valuasi Ekonomi Lingkungannya. Kita harus pastikan apakah nilai ekonomi ekosistem yang saat ini dirasakan oleh masyarakat saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai ekonomi yang dihasilkan oleh geothermal nantinya.  Di akhir Dialog Akademis ini tidak ada kesimpulan yang disepakati namun kita harus menyadari karena pembangunan ini berdampak luas, Walhi Sumatera Barat berharap pemerintah dapat memperhatikan pendapat masyarakat dan para ahli ini serta menghentikan semua proses dilapangan saat ini. Pemerintah perlu melakukan kajian lingkungan hidup strategis dan kajian Valuasi Nilai Ekosistem sebelum proyek ini dilanjutkan.  (h/dn)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 09 Januari 2020 - 12:50:01 WIB

    4 OPD Sumbar Digugat WALHI, Ada Apa Ya?

    4 OPD Sumbar Digugat WALHI, Ada Apa Ya? PADANG, HARIANHALUAN.COM - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumatera Barat (WALHI Sumbar), melayangkan gugatan keterbukaan informasi publik ke Komisi Informasi Provinsi Sumatera Barat..
  • Senin, 20 Februari 2017 - 09:23:50 WIB

    Tercemar, Walhi Minta Keramba di Maninjau Dihentikan

    Tercemar, Walhi Minta Keramba di Maninjau Dihentikan PADANG, HALUAN – Pencemaran Danau Maninjau karena limbah pakan ikan, sudah sangat parah. LSM Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menilai, pencemaran itu diperkirakan sudah terjadi sejak tahun 2.000-an. Namun hingga kini tak per.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]