Elpiji 3 Kg Langka Akibat Pemakai Membengkak


Selasa, 19 September 2017 - 17:34:49 WIB
Elpiji 3 Kg Langka Akibat Pemakai Membengkak Dokumentasi Haluan

PADANG, HARIANHALUAN.COM—Kelangkaan gas elpiji 3 Kg di Sumbar diduga terjadi akibat pembengkakan jumlah pemakai. Sebab data penerima gas elpiji 3 Kg yang dipedomani Pertamina dalam penyaluran si melon tersebut adalah data tahun 2014 saat diberlakukannya konversi minyak tanah ke gas elpiji. Karena itu, perlu dilakukan revisi data masyarakat yang berhak menerima gas elpiji 3 Kg ini. 

“Selain itu, juga diduga pemakai gas elpiji 3 Kg tidak tepat sasaran. Sebab untuk mendapatkan elpiji 3 Kg itu sangat mudah, bisa dibeli di warung atau mini market,” terang Syafrizal Ucok, Sekretaris Tim Koordinasi Pembinaan dan Pengawasan Pendistribusian Tertutup Elpiji 3 Kg di Sumbar, Senin (18/9) usai menggelar rapat dengan stakeholder terkait di ruang kerjanya.

Rapat tersebut, lanjut Ucok, dihadiri perwakilan Hiswana Migas, para agen gas elpiji 3 Kg di daerah ini, pangkalan, Biro Perekonomian Setdaprov Sumbar, Dinas Perhubungan, Dinas Perindag dan Dinas ESDM Sumbar.

Ucok yang didampingi anggota tim Azwar menjelaskan, dalam pertemuan tersebut Pertaminan tidak hadir. Namun Pertamina menyerahkan data melalui Hiswana Migas yang menyebutkan, saat ini terjadi peningkatan pemakai elpiji 3 Kg dari kelompok Usaha Mikro Kecil (UMK).

Sedangkan dalam aturannya ditetapkan bahwa alokasi elpiji 3 Kg untuk setiap rumah tangga sasaran itu hanya 2 tabung/bulan/KK. Namun dalam kenyataannya, di kalangan kelompok UMK mereka menggunakan elpiji 3 Kg itu hingga 3-4 tabung/bulan.

Sementara berpedoman pada data konversi minyak tanah ke elpiji 3 Kg tahun 2014, penerima gas elpiji 3 Kg itu sebanyak 6.906.000 tabung, atau sebanyak 22.000 tabung hingga 23.000 tabung yang didistribusikan setiap hari.

Selain itu, di lapangan juga ditemukan alokasi elpiji 3 Kg untuk suatu kabupaten/kota ternyata ditemukan di kabupaten/kota lainnya. Hal itu bisa diketahui dari warna segel elpiji 3 Kg itu. Misalnya untuk Padang, warga segel elpiji berwarna kuning, tetapi elpiji dengan segel kuning ini dijumpai pula di Painan. “Hanya saja, kami tidak bisa melakukan penindakan terhadap berbagai temuan tersebut karena tim ini tidak memiliki kewenangan demikian,” katanya.

Begitu pula dengan praktek penjualan elpiji di warung dan mini market. Sebab kewenangan untuk menjual elpiji itu secara berjenjang dari SPBE, distributor, agen hingga pangkalan. Masyarakat bisa mendapatkan elpiji mestinya dari pangkalan. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

“Karena itu, dari pertemuan tadi, kita sepakati akan melanjutkan rapat dengan mengundang OPD terkait di kabupaten/kota untuk mendapatkan data konkrit distribusi elpiji di daerah masing dan rencana revisi data 2014 tersebut. Selanjutnya, akan dikirim data tersebut ke Kementerian ESDM,” terang Syafrizal Ucok. (h/vie)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]