SANDANG GELAR DOKTOR KEHORMATAN DARI UNP

Megawati Terpukau Ranah Minang


Kamis, 28 September 2017 - 09:57:49 WIB
Megawati Terpukau Ranah Minang Presiden ke 5 Indonesia Megawati didampingi Rektor UNP Prof Ganefri di Kampus UNP, Rabu (27/9). JULI ISHAQ

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Presiden Republik Indonesia (RI) ke-5, Megawati Soekarnoputri mengaku jauh-jauh hari sudah terpukau dengan ranah Minang. Baik secara adat, budaya dan pemikiran. Namun, dia merasa sedih karena dewasa ini jarang sekali ada lagi tokoh dari Minangkabau yang berani tampil di pusat setelah era kemerdekaan.

Padahal dulunya banyak tokoh Minang yang berani tampil dan bahkan menjadi pemikir pendiri bangsa ini. “Seperti Minang ini. Banyak lo, tokoh nasionalnya. Tetapi kenapa setelah kemerdekaan itu justru tidak keluar lagi. Saya sengaja membawa salah satu menteri kabinet kerja yaitu Wamen ESDM, Archandra Tahar. Beliau ini anak negeri ini. Saya bilang, tumben ya orang Padang ada yang jadi menteri,” kata Megawati di depan ribuan peserta yang hadir dalam Rapat Senat terbuka pemberian penghargaan Doktor Kehormatan di Auditorium UNP Kamis (27/9).

Dikatakan Megawati, banyak dari teman ayahnya (Seokarno, red) yang ia kenal, seperti Mohammad Hatta, KH Agus Salim, dan Bung Syahrir yang merupakan orang Minang. Bahkan, salah seorang tokoh perempuan yang sangat ia kagumi, Rohana Kudus, juga berasal dari Minangkabau.

“Bahkan seorang KH Agus Salim yang tak lepas dari cerutunya, bisa pintar menggunakan tujuh bahasa. Itu lah mereka para pendiri bangsa yang selalu harus ditiru,” terangnya.

Dikatakan Mega bahwa sejarah selalu dinamis dan selalu ditandai dengan perubahan. Dan perubahan yang terjadi selalu dipengaruhi oleh pemikiran pada pendiri bangsa. “Sejarah mengajak kita untuk tidak pasif dan larut pada keadaan yang mengekang dan membelenggu. Sejarah menuntut kita untuk  berdialektika,” katanya.

Para pendiri bangsa, kata Mega sangat percaya terhadap korelasi antara pengetahuan dan politik. Mereka percaya bahwa pembangunan sebagai wujud dari demokrasi politik dan ekonomi, wajib berbasis kepada riset dan kajian ilmiah. “Science Based Policy yang bukan dimaknai  teknokrasi semata,” ujarnya.

Pada tahun 1959 sebuah perencanaan pembangunan ilmiah untuk Indonesia mulai diperkenalkan Bung Karno, bernama pole pembangunan nasional semesta berencana. Perencanaan pembangunan tersebut merupakan hasil kerja sekitar 600 pakar dari berbagai cabang ilmu termasuk perguruan tinggi. “Dalam konteks ini terlihat jelas bahwa ternyata politik pembangunan pun harus berbasis pada pengetahuan,” ujarnya.

Agar jelas tujuan, target, dan sasaran, maka kebijakan pembanguna tidak boleh berdasarkan asumsi. Pembangunan harus dapar dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Keilmuan itu yang tetap berorientasi dan dedikasi kepada kepentingan rakyat dan bangsa sendiri.

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 28 September 2017 - 10:02:38 WIB

    Megawati: Dahulu Banyak Orang Minang Jadi Pendiri Bangsa

    Megawati: Dahulu Banyak Orang Minang Jadi Pendiri Bangsa PADANG, HARIANHALUAN.COM – Presiden Republik Indonesia (RI) ke-5, Megawati Soekarnoputri, menilai bahwa tidak ada lagi tokoh dari Minangkabau yang berani tampil di pusat setelah era kemerdekaan. Padahal dulunya banyak tokoh.
  • Senin, 23 Januari 2017 - 20:43:01 WIB

    Audiensi dengan DPRD Sumbar, FMM Minta Megawati Ditangkap

    Audiensi dengan DPRD Sumbar, FMM Minta Megawati Ditangkap PADANG, HALUAN- -Forum Masyarakat Minang (FMM) mengecam keras pidato Megawati pada HUT ke 44 PDIP yang berbunyi, kelompok-kelompok antikeberagaman sebagai penganut ideologi tertutup, bertentangan dengan Pancasila sebagai ideo.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]