Duta Bahasa Sumbar Ajak Anak Muda Jaga Bahasa


Jumat, 29 September 2017 - 20:01:45 WIB
Duta Bahasa Sumbar Ajak Anak Muda Jaga Bahasa

PADANG, HALUAN -- Perilaku generasi muda yang mencampuradukkan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia dan bangga berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia merupakan perilaku yang salah. Perilaku berbahasa seperti itu harus cepat diperbaiki sebelum makin banyak anak muda yang terkena virus tersebut.

Demikian salah satu cuplikan wawancara Haluan dengan Duta Bahasa Sumatra Barat 2017, Khairunnisa Nabila (22). Haluan mewawancarai Nisa sebagai salah satu anak muda yang memiliki perhatian yang besar terhadap pelestarian bahasa. Saat ini, salah satu fenomena berbahasa yang merebak pada kalangan generasi muda adalah mencampuradukkan bahasa Inggris saat berbicara atau menulis dalam bahasa Indonesia, bahkan bangga berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia. Para pemerhati bahasa menilai, generasi muda berperilaku seperti itu karena menganggap berbahasa Inggris sebagai sesuatu yang intelektual maupun keren. Hal tersebut mengancam keberadaan bahasa Indonesia. Pada sisi lain, ada kelompok anak muda memakai bahasa Indonesia saat mereka berada dalam konteks yang mengharuskan mereka memakai bahasa daerah. Fenomena itu merupakan ancaman serius terhadap bahasa daerah. Sesungguhnya, bahasa negara dan bahasa daerah sama-sama harus dijaga keberadaannya tanpa meninggalkan bahasa asing untuk dipelajari. Bagaimana seharusnya generasi muda bersikap terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing? Nisa mengemukakan pandangannya terhadap persoalan itu.

“Perilaku seperti itu menghilangkan identitas kita sebagai orang Indonesia. Sepatutnya kita bangga berbahasa Indonesia, bukannya malah malu berbahasa Indonesia, dan lebih bangga dan terkesan intelek berbahasa asing, apalagi kalau hal itu diterapkan dalam ruang publik, dalam forum formal dalam bahasa Indonesia. Selagi kita masih tahu padanan bahasa Indonesianya, apa salahnya kita menggunakan bahasa Indonesia? Kita ingin membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional, bukan? Salah satu syaratnya adalah penuturnya harus banyak dan bangga terhadap bahasa negaranya. Jadi, mulailah dari diri kita sendiri,” ujarnya di Padang, Jumat (29/9).

Dalam fenomena generasi muda seperti itu atau masyarakat luas pada umumnya, kata Nisa, duta bahasa berperan dan bertugas untuk berupaya mengubah pandangan masyarakat yang berpikir seperti itu. Meski demikian, tugas duta bahasa duta bahasa tidak mengajari, tetapi mengingatkan.

Untuk melakukan tugasnya sebagai duta bahasa guna mengampanyekan pengutamaan bahasa Indonesia, Nisa bersama rekan-rekannya sesama duta bahasa melakukan sosialisasi dan kampanye bahasa dan sastra melalui kegiatan-kegiatan yang mereka sebut dengan krida.

“Krida unggulan kami ada namanya Detektif Bahasa. Untuk melaksanakan krida Detektif Bahasa, kami berdialog dengan masyarakat. Di situ, kami bertanya kepada masyarakat tentang padanan kata bahasa asing dalam bahasa Indonesia yang mereka ketahui selama ini. Contohnyo, kami bertanya padanan bahasa Indonesia dari kata selfie, drive thru, pancake, brainstorming, dan istilah asing lainnyo. Pada akhir percakapan, kami beri tahu mereka bahwa swafoto, layanan tanpa turun (lantatur), panekuk, dan sumbang saran adalah padanan untuk istilah asing tersebut,” tutur perempuan yang dilahirkan di Padang, 17 Juli 1995, itu.

Selain krida Detektif Bahasa, kata Nisa, Duta Bahasa Sumbar memiliki krida Duta Bahasa Masuk Sekolah. Pihaknya rutin pula berkunjung ka kampung literasi, seperti kampung literasi Batang Arau, Padang. Ia mengaku bahwa sudah banyak kegiatan kebahasaan dan kesusastraan yang mereka lakukan di sana.

“Untuk kampanye bahasa di media sosial, kami memanfaatkan Instagram. Sabentar lagi kami merambah ke Youtube. Di Instagram, kami punya program Edukasi Berbahasa. Kami mengajak pengguna Instagram untuak berpantun, mengenal ungkapan-ungkapan dalam bahasa Indonesia, mengenal padanan kata dalam bahasa Indonesia. Pada Sabtu, kami mengajak mereka untuk mengenal idiom dalam bahasa Inggris, sedangkan Minggu adalah waktu untuk mengenal bahasa Minang. Pada beberapa kesempatan, kami membuka diskusi mengenai fenomena kebahasaan,” ucap alumnus Program Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran itu.

Adapun mengenai fenomena generasi muda yang berkomunikasi dengan bahasa Indonesia ketika mereka seharusnya berbahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, Nisa berpandangan bahwa hal itu memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah bahwa setidaknya generasi muda telah mau menggunakan bahasa Indonesia dengan catatan tidak mencampurkannya dengan bahasa asing. Pandangan itu ia kemukakan berdasarkan kenyataan hari ini bahwa generasi muda terbuai dengan modernisasi.

“Kalau anak muda dalam berkomunikasi mampu berbahasa Indonesia tanpa mencampuradukkannya dengan bahasa asing, berarti itu hal positif. Namun, jika dalam kesehariannya anak muda tidak pula mengerti bahasa daerah, misalnya bahasa Minang, di situlah sisi negatifnya. Karena itu, sebagai duta bahasa, Nisa mendukung penuh kongres bahasa Minang yang akan diadakan Dinas Kebudayaan Sumbar pada tahun depan yang akan membahas pelestarian bahasa Minang,” kata pembawa acara pada TVRI Sumbar itu.

Meski punya sikap positif terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah, Nisa tidak serta merta melupakan bahasa asing. Ia menguasai salah satu bahasa asing, yakni bahasa Inggris. Tidak sekadar bisa berbahasa Inggris, ia bahkan sering menjuarai kompetisi komunikasi publik dalam bahasa Inggris.

“Walaupun Nisa sering menjuarai kompetisi komunikasi publik dalam bahasa Inggris, baik tingkat lokal maupun nasional, jika dalam suatu forum formal, Nisa tetap mendahulukan berbahasa Indonesia. Kita harus tahu tempat dan waktunya memakai suatu bahasa. Kita tidak akan terlihat cerdas ketika menggunakan bahasa asing, tetapi melupakan bahasa kita sendiri. Cerdas itu ketika kita tahu menempatkan bahasa sesuai dengan kebutuhannya,” ujar anak pasangan Jhon Edward Rhony dan Elvira Yanti itu.

Menjadi duta bahasa

Nisa mengetahui bahwa ada yang namanya duta bahasa pada tahun lalu dari sepupunya. Setelah tahu, ia mencari informasi pemilihan Duta Bahasa Sumbar 2017 melalui media sosial dan situs Balai Bahasa Sumbar. Ketika pendaftaran dibuka, ia mendaftar. Pada hari puncak pemilihan, ia terpilih sebagai Duta Bahasa Sumbar 2017 bersama Puja Ajunda pada Mei. Pada Agustus, Badan Bahasa menetapkannya sebagai Duta Bahasa terbaik II tingkat nasional.

Nisa mengaku termotivasi menjadi duta bahasa karena ingin ikuit andil dalam sebuah aksi nyata untuak mengatasi pergeseran eksistensi bahasa Indonesia oleh bahasa asing. Dengan pernyataan itu, tidak berarti bahwa sebagai generasi muda, ia menutup diri dari bahasa asing. Menurutnya, generasi muda justru harus lihai berbahasa asing sehingga dapat bersaing pada era yang serba maju ini.

“Yang harus dipahami adalah bahwa kita harus tahu saat harus berbahasa Indonesia, berbahasa daerah, dan berbahasa asing. Selain itu, kita tidak hanya harus bisa berbahasa Indonesia dan berbahasa asing, tetapi juga harus menjaga eksistensi bahasa daerah. Sesuai dengan slogan Badan Bahasa: Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing. Dengan mengikuti pemilihan duta bahasa, Nisa yakin akan lebih mudah bagi Nisa untuk mengampanyekan hal-hal seperti itu karena duta bahasa punya ikatan. Jadi, segala kegiatan akan lebih mudah direalisasikan,” tutur alumnus SMA 3 Padang itu.

Sebagai anak muda, Nisa berpendapat bahwa peran generasi muda sangat besar dalam upaya menjaga bahasa Indonesia dan bahasa daerah karena pemuda adalah agen perubahan. Ia mengutarakan, pemuda memiliki tenaga dan akal pikiran yang memadai.

“Anak kecil tenaganya masih belum mungkin dimanfaatkan. Begitu pula akal dan pikirannya, belum sampai ke titik ini. Sementara itu, orang-orang tua tenaganya sudah mulai berkurang sesuai dengan bertambah usia, dan pikirannya pun telah bercabang karena ia memikirkan banyak hal, seperti keluarga, pekerjaan, anak. Sementara anak muda, tenaganya masih bisa dikuras, akal dan pikirannya masih segar untuk dibawa berdiskusi,” ucapnya.

Nisa adalah salah satu anak muda Padang yang memiliki banyak prestasi. Selain terpilih sebagai Duta Bahasa Sumbar dan terbaik II Duta Bahasa Nasional 2017, ia merupakan juara 1 English Public Speaking Competition oleh JCI Bogor. Ia mewakili JCI Bogor di Bali untuk lomba tingkat nasional 2015. Sebelumnya, ia mewakili JCI Bogor dalam perlombaan English Public Speaking di Solo untuk tingkat nasional pada 2014. Prestasi lainnya, di antaranya, adalah juara 2 Toppo Top Girl Indonesia 2014 yang diadakan oleh Lotte Indonesia, Top 10 XL CEO Challenge tingkat nasional pada 2014. (h/dib)

 

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]