Eksepsi Eks Dirut Suwarnadwipa Ditolak


Ahad, 01 Oktober 2017 - 18:18:21 WIB
Eksepsi Eks Dirut Suwarnadwipa Ditolak Sidang kasus perusakan terumbu karang oleh direktur Suwarnadwipa di PN Padang, Rabu (27/9). YUHENDRA

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Majelis hakim Pengadilan Negeri kelas I A Padang menolak eksepsi Eks Direktur Utama PT. Suwarnadwipa Wisata Mandiri Irawan Gea, yang diajukan oleh Penasehat Hukum (PH), AM. Mendrofa atas dugaan perusakan terumbu karang di kawasan Pulau Suwarnadwipa beberapa waktu lalu.

Penolakan nota pembelaan atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) ini dibacakan majelis hakim, dalam sidang yang beragendakan putusan sela, Jumat (29/9).

Hakim ketua Soetedjo menyebutkan dalam amar putusan selanya, menolak eksepsi terdakwa dan menetapkan pemeriksaan dilanjutkan terhadap terdakwa.

"Diperintahkan kepada penuntut umum untuk menghadirkan para saksi di persidangan," kata hakim ketua yang didampingi hakim anggota Suratni dan Leba Max Nandoko.

Namun demikian Mendrofa meminta kepada majelis hakim agar menangguhkan penahanan tehadap kepada terdakwa. Namun, majelis hakim belum dapat mengabulkan karena masih musyawarah.

Untuk sidang lanjutan dengan agenda pemeriksaan saksi, majelis hakim menunda sidang hingga selasa depan tanggal 3 Oktober 2017.

Sebelumnya dalam dakwaan JPU disebutkan terdakwa Irawan Gea memerintahkan seorang tukang bernama Jefalino Andika, untuk mengambil dan mengumpulkan batu karang yang ada di sekitar untuk pembangunan resort.

Kejadian ini ketika Irawan Gea membuat perjanjian sewa lokasi di Muaro Duo, pada 29 September 2014. Sewa lokasi itu memiliki jangka waktu selama dua tahun dengan sewa sebesar Rp35 juta, dan didaftarkan ke notaris pada 29 September 2014. Selanjutnya terdakwa bersama dua rekannya mendirikan PT Suwarnadwipa Wisata Mandiri berdasarkan akta notaris pada 6 November 2014.

Kemudian terdakwa memerintahkan seorang tukang Jefalino Andika, mengambil batu karang yang ada di sekitar resort PT Suwarnadwipa Wisata Mandiri. Berdasarkan dakwaan disebutkan batu karang itu digunakan untuk membangun cottage, gazebo, shower, dapur, plang merek, dan selokan penahanan gelombang.

Dari keterangan ahli yang dimasukkan dalam berkas dakwaan, diketahui terumbu karang yang digunakan adalah 163,64 meter kubik. Dimana perbuatan tedakwa disebut jaksa telah menimbulkan kerugian ekonomis perikanan sebesar Rp2,5 miliar lebih, dan kerugian biaya perawatan terumbu karang mencapai Rp1,87 miliar.

Jaksa menjerat perbuatan terdakwa melanggar pasal 86 ayat (1), Juncto (Jo) pasal 12 ayat (1) Undang-undang 31 tahun 2004 tentang Perikanan, Jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.  (h/mg-hen)

 

Edditor: Rivo Septi Andries

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]