Kongres Nasional VII Pergemi, Tahun 2030 Lansia Capai 40 Juta Jiwa


Senin, 02 Oktober 2017 - 11:09:53 WIB
Kongres Nasional VII Pergemi, Tahun 2030 Lansia Capai 40 Juta Jiwa BERSAMA MENKES -- Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek berfoto bersama para penari lansia dan panitia, usai membuka Kongres Nasional VII Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia, Sabtu (30/9).  MELATI OKTAWINA

PADANG, HARIANHALUAN.COM- Saat ini jumlah lansia yang ada di Indonesia mencapai sekitar 20 Juta jiwa. Diperkirakan tahun 2030 jumlah lansia meningkat dua kali mencapai hingga 40 Juta jiwa.

 “Kita tidak hanya menghadapi bonus demografi saja, tetapi juga akan mengalami ledakan jumlah lansia pada 2030,” ujar Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek saat membuka Kongres Nasional VII Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia, di salah satu hotel di Kota Padang, Sabtu (30/9). Kongres ini digelar Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (Pergemi) Cabang Padang bekerjasama dengan Perhimpunan Kedokteran Psikosomatik (PKPI) Padang, serta sub bagian Geriatri dan sub bagian Psikosomatik Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Unand

Dikatakan Menteri Kesehataan, persoalaan peningkatan jumlah lansia harus mulai dipikirkan saat ini. Sebab ledakan jumlah penduduk lansia akan membutuhkan infrastruktur kesehatan yang memadai. Termasuk kebutuhan tenaga kesehatan yang memfasilitasi para pasien lansia.

Dijelaskan Nila, untuk mempersiapkan dalam menghadapi peningkatan jumlah lansia, seluruh pemangku kebijakan terutama dibidang kesehatan harus fokus terhadap kondisi ini. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, dari seluruh rumah sakit di Indonesia sebanyak 2.703 unit, hanya 0,5 persennya atau 14 rumah sakit yang memiliki klinik geriatri untuk perawatan lansia terpadu. Angka tersebut, masih sedikit untuk memfasilitasi ledakan jumlah penduduk lansia.“Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk lansia dalam satu dekade mendatang, seluruh infrastruktur kesehatan untuk lansia sudah harus memadai. Sebab, tahun 2030 tidak akan lama lagi. Siap tidak kita menghadapi hal ini," ujarnya kepada Haluan, usai membuka kegiatan kongres tersebut.

Selain itu, Nila juga menyayangkan pelayanan untuk lansia belum maksimal dan terpadu. Sebab, seorang pasien lansia masih harus berobat dari satu poli ke poli lain. Kemudian menerima obat dari satu dokter spesialis ke dokter spesialis lain. Hal tersebut dianggap tidak efisien baik bagi pasien atau bagi pihak rumah sakit dan BPJS Kesehatan yang membayarkan klaim pasien.

"Kalau bisa layanan untuk lansia harus disatukan. Kasihan mereka, kadang untuk jalan saja butuh tenaga banyak," ujarnya.

Menurut data Kemenkes, hampir separuh lansia di Indonesia mengidap hipertensi. Kondisi hipertensi disebutkan Nila, akan berujung pada stroke bila tidak ditangani secara dini oleh tenaga medis. “Minimal lansia usia 60 tahun keatas sudah memiliki satu penyakit, rata-rata hipertensi,”sebutnya.

Ditambahkan Nila, sebenarnya pendekatan penyembuhan lansia yang paling ampuh adalah melalui keluarga. Karena bisa memberikan efek psikologi yang positif bagi lansia. Namun, kenyataannya saat ini, keluarga tidak lagi memperhatikan kebutuhan lansia, sehingga hal ini semakin memperparah keadaan lansia.

 “Apalagi dalam keluarga karir, tidak jarang orang tua yang lansia justru ditinggalkan di rumah. Anak atau menantu saat berada di rumah pun sibuk, sehingga lansia tidak terurus. Kejiwaan mereka bisa terganggu, dan kasus seperti ini yang sangat banyak kita temukan dilapangan,"tuturnya.

Selain itu, unit kesehatan seperti Posyandu lansia pun digalakkan di kampung-kampung agar pelayanan kesehatan lebih memasyarakat. Ia juga menyebut, upaya peningkatan kesejahteraan lansia tersebut, mengacu kepada peraturan pemerintah nomor 43 tahun 2004 tentang pelaksanaan upaya peningkatan kesejahteraan lansia.

“Pelayanan ini mencakup pelayanan keagamaan, kesehatan, prasarana umum, dan kemudahan dalam penggunaan fasilitas umum,”ujarnya.

Sementara itu Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno, setuju kalau lansia memang rawan mengalami gangguan psikologi. Alasannya tidak lain, karena kurangnya perhatian yang diberikan oleh keluarga termasuk anak-anaknya.

"Itu psikologisnya cenderung kembali seperti anak-anak. Mereka butuh perhatian besar. Kita sebagai keluarga harus meluangkan waktu untuk menemani mereka. Apakah untuk sekedar ngobrol," katanya.

Ditambahkan Irwan, dalam mengurus lansia sangat dibutuhkan kesabaran. Sebab, fisik lansia sudah tidak kuat, dan kebanyakan sudah menderita berbagai jenis penyakit.

Sementara Ketua Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (Pergemi) Siti Setiati mengatakan, Lansia seharusnya bisa dirawat di rumah sakit tersier. Selain itu lansia harus dapat perlakuan khusus seperti deteksi dini, preventif, dan rujukan. "Biar usia senja tapi tetap sehat sehingga mereka tetap produktif dimasa senja," ungkapnya. (h/mg-mel/atv)

 

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]