Bangunlah  Mentawai, Bukan Pembangunan  di Mentawai


Rabu, 15 November 2017 - 00:36:40 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Bangunlah  Mentawai, Bukan Pembangunan  di Mentawai Banjir sering melanda banyak perkampungan di pulau Siberut. YCM

Bangunlah  Mentawai, Bukan Pembangunan  di Mentawai

PADANG, HALUAN-Membangun, termasuk berinvestasi,  di Kepuluan Mentawai, tidak bisa serampangan dengan melindas  keunikan dan mengabaikan  pontensi khasnya. Keunikan dan kekhasan itulah  sesungguhnya modal tak berhingga milik kabupaten ini  agar  sejajar dengan yang lain.

 Demikian pandangan beberapa akademisi  Universitas Andalas Padang  dalam diskusi dengan media dan pegiat sosial  di Padang, Selasa (14/11).
"Saya melihat masyarakat Mentawai hidup mandiri, mengapa kita tak membangun Mentawai mengikuti keunikannya. Visi pembangunan Mentawai harus mencerminkan keunikannya. Mereka ada sagu, keladi dan pisang, dengan tiga itu masyarakatnya sudah bisa hidup," kata . Syafruddin Karimi, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.

Menurut Prof. Syafruddin Karimi aspek keunikan pembangunan Mentawai  harus diperhatikan. Keunikan itu berupa ekosistem dan budaya masyarakat Mentawai. Itulah sumber kekuatan ekonominya."Dengan segala keunikan tersebut, pembangunan harus dimaknai membangun Mentawai, bukan pembangunan di Mentawai," tegasnya.
Namun investasi pengelolaan sumber daya alam, cenderung tanpa  kesetaraan (keadilan).  Selalu  pemerintah dan investor  di posisi kuat, sementara masyarakat berada di posisi lemah.
"Karena itu investasi dimana-mana akan membawa dampak karena tidak selevel dan yang dominan adalah investor, siapapun investor perilakunya begitu. Makanya konsep pembangunan Mentawai itu keunikannya, dengan syarat basis masyarakat masih sepakat dengan itu," katanya.
Sedangkan  Prof. Afrizal, dosen Fisip Unand menyebutkan, investasi harus melindungi kearifan lokal dan menguntungkan  masyarakat lokal.
Afrizal mengatakan, argumen membangun keberlanjutan komunitas juga harus kuat sebab konsep modern saat ini membangun tidak hanya untuk keberlanjutan lingkungan. Paradigma konservasi baru, menyelamatkan alam dan manusia harus selaras. "Salah satu yang penting, untuk hak komunitas, basis hak itu harus jelas," ujarnya.
Sementara itu, dosen Biologi FMIPA Universitas Andalas, Dr. Ardinis Arbain  berpendapat,   kekayaan khas Mentai tak terinilai, ada  lebih   250  jenis tanaman obat di Mentawai, bahkan banyak yang  sudah diidentifikasi bahan aktifnya. "Juga banyak  primata endemik yang sangat unik. Kita ingin membangun Mentawai bukan membangun di Mentawai," saranya.
Sedangkan Direktur Yayasan Citra Mandiri Mentawai, Rifai dipenghujung diskusi ini mengatakan,  penegasan para akademisi Unand Padang tersebut ,  harus dijadikan rujukan  bahwa kebijakan dan program di Mentawai harusnya bersifat alternatif dari pilihan mainstream selama ini seperti HPH ,HTI dan perkebunan monokultur. "Model pembangunan tersebut tidak tepat dijalankan di Mentawai. Disinilah perlunya pemerintah pusat dan pemerintah daerah duduk bersama membicarakan pilihan kebijakan dan program yang tepat tanpa harus mengedepankan egoisme. Kalau perlu libatkan pakar untuk menyusun konsepnya. Sebelum konsep rampung, semua perizinan yang berakibat pada kerusakan serius pada lingkungan dan sosial hendaknya dihentikan sementara," tegasnya. (h/dn/*)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM