Polisi Diminta Hati-hati Buat Pernyataan


Kamis, 16 November 2017 - 09:14:00 WIB
Polisi Diminta Hati-hati Buat Pernyataan Ilustasi/Haluan

PADANG, HARIANHALUAN.COM—Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah Sumatra Barat (Sumbar) meminta polisi tidak kalut menghadapi kasus terbakarnya Mapolres Dharmasraya. Hal itu sehubungan pernyataan Kapolres Dharmasraya, AKBP Rudy Yulianto saat siaran langsung di televisi swasta dan menyebut salah satu ciri-ciri teroris yang membakar Mapolres Dharmasraya adalah meneriakkan takbir.

Dalam siaran langsung, AKBP Rudy Yulianto ditanyai oleh pembawa acara, selain kertas berisikan seruan jihad, apalagi yang menjadi dasar polisi menyebut kalau kedua pelaku pembakaran Mapolres Dharmasraya adalah teroris. AKBP Rudy lalu menjawab, salah satunya pelaku meneriakkan takbir.

“Dalam proses, kami pelaku meneriakkan takbir kemudian menyatakan saya yang membakar, kemudian mengatakan bertanggungjawab terhadap pembakaran, mengatakan thogut. Setelah dilumpuhkan, dalam badan tersangka ditemukan surat bolak-balik yang intinya berisi kalimat-kalimat jihad. Kemudian barang bukti yang disita, sangkur, busur, sepuluh anak panah, kemudian seperangkat penutup wajah,” kata Kapolres.

Pernyataan itulah yang memicu reaksi para tokoh muslim. Ketua MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar mengingatkan kepolisian lebih jernih dan tidak melakukan reaksi yang meresahkan masyarakat, seperti anggapan bahwa teriakan takbir adalah ciri terorisme, dan masyarakat yang memakai panah diamankan.

“Persoalan di Dharmasraya itu sedang didalami. Sebelum persoalan didalami dengan baik, polisi tidak perlu membuat kesimpulan yang meresahkan masyarakat, seperti mengatakan takbir sebagai ciri khas teroris. Tidak ada hubungannya Islam dengan tindakan terorisme. Kalau ada orang yang mempersepsikan seperti itu, dia harus belajar memahami Islam dengan baik. Soal diamankannya jemaah yang menyimpan panah dan busur di Pesisir Selatan, jika mereka diamankan karena menyimpan panah karena pembakar kantor Polres Dharmasraya juga memakai panah, nanti ibu-ibu yang memakai pisau juga bisa diamankan kalau ada teroris memakai pisau. Itu tidak bisa disamakan. Saya berharap, reaksi polisi terhadap persoalan ini tidak menimbulkan persoalan baru,” ujarnya di Padang, Rabu (15/11). 

Bundo Kanduang Sumbar, Puti Reno Thaib, berpendapat, mengucapkan takbir tidak bisa disebut sebagai ciri khas teroris karena semua muslim di dunia mengucapkan takbir setiap hari. “Jangan menggeneralisir semuanya. Jika ada teroris yang mengucapkan takbir, lalu takbir dianggap ciri khas teroris, itu salah. Kalau takbir dikatakan ciri khas teroris, berarti semua Islam teroris. Tidak bisa generalisir begitu. Sama juga dengan diamankannya jemaah di Pesisir Selatan karena membawa panah. Itu menggeneralisir masalah,” ucapnya.

Reno Thaib menyebutkan, menggeneralisasi persoalan juga terjadi selama ini di tengah masyarakat. Ia mencontohkan, ada persepsi yang berkembang di tengah masyarakat bahwa oranng berjenggot, bergamis, dan bercelana di atas mata kaki, dianggap teroris. Menurutnya, persepsi seperti itu merupakan persepsi yang keliru.

“Ada teroris berjenggot, bergamis, dan bercelana gantung. Sementara itu, ada orang berjenggot, bergamis, dan bercelana gantung untuk melaksanakan sunah nabi. Mereka tidak bisa disamakan. Jenggot, gamis, dan bercelana gantung bukan ciri teroris,” katanya.

Sementara itu, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Sumbar, Hidayat berharap jika ada suatu kelompok masyarakat yang melakukan aktivitas berbeda dibanding yang lain, agar melaporkan kegiatan tersebut kepada RT atau RW setempat. Laporan yang diminta dilakukan adalah terkait tujuan kegiatan. Kemudian interaksi dengan masyarakat dimana aktivitas dilangsungkan diminta agar berjalan.

Hal ini diimbau untuk berjalan guna mencegah kecurigaan atau pertanyaan di tengah masyarakat. Utamanya agar kegiatan yang dilakukan oleh kelompok tertentu tidak disangkut pautkan dengan dugaan teroris. Semua ini sekaligus disampaikan Hidayat menanggapi adanya penangkapan sejumlah jamaah yang melakukan hobi memanah di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) Selasa (14/11) lalu.

"Jadi tak berlebihan juga jika masyarakat punya kecemasan terhadap mereka yang melaksanakan hobi memanah, atau melakukan kegiatan-kegiatan yang mirip dengan apa yang dilakukan terduga teroris sebelum melancarkan aksi mereka," ujar Hidayat, Rabu (15/11).

Dalam hal ini, lanjut dia, tak ada salahnya setiap orang atau kelompok tertentu melakukan kegiatan yang menurut mereka baik atau disenangi. Hanya saja jangan sampai itu dilakukan secara tertutup dan menimbulkan kecurigaan di masyarakat.

Kemudian pada pihak kepolisian Hidayat yang juga Ketua Komisi V DPRD Sumbar itu meminta setiap mengambil tindakan agar merujuk pada laporan intelejen. Pihak kepolisian jangan sampai salah tangkap. Jika tidak ia menilai itu bisa menimbulkan stres sosial di tengah masyarakat.

Terkait pembakaran terhadap Mapolres Dharmasraya, anggota DPRD Sumbar Dapil Sijunjung-Dharmasraya, Marlis juga meminta, pihak kepolisian mulai dari provinsi hingga kabupaten/kota agar meningkatkan kewaspadaan. Dengan kata lain deteksi dini harus dilakukan.

"Intelijen sudah harus masuk lebih dalam ke tengah masyarakat. Melakukan deteksi dini untuk kemungkinan kondisi-kondisi yang terjadi. Sehingga kondisi keamanan negara tetap bisa terjaga," ulas Marlis.

Dikatakan Marlis ini adalah musibah yang tak diinginkan, saat Dharmasraya yang merupakan daerah perbatasan sudah diserang kewaspadaan tentu harus ditingkatkan. Kepada masyarakat Marlis juga mengimbau agar cerdas menyaring informasi-informasi yang merusak tatanan sosial dan akidah. Tidak selalu yang berbau agama itu selalu benar. Menurut pelaku teror apa yang dilakukan adalah benar, namun kata dia, sesungguhnya perilaku teror itu adalah sesat. Hal ini karena apa yang dilakukan pelaku teror telah merusak,  sudah merugikan dan sudah merugikan orang lain.

"Kita tidak setuju dengan cara-cara seperti itu, walaupun mereka bertameng Islam. Tapi menurut saya itu bukan Islam yang kita anut. Islam itu adalah agama rahmatan lil 'alamin," tegas Marlis.

Dalam hal ini jika ada kegiatan-kegiatan yang mencurigakan di tengah masyarakat ia juga menghimbau agar hal tersebut dilaporkan pada aparat berwenang. Ini untuk mencegah hal-hal tak diinginkan seperti jaringan teroris berkembang di masyarakat.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Sumbar, Arkadius menyampaikan keprihatinan atas kejadian dibakarnya kantor Mapolres Kabupaten Dhamasraya oleh oknum yang diduga terlibat jaringan teroris.  Disebut Arkadius, apa yang terjadi akan berpengaruh besar pada Sumbar.

Sebab yang dibakar adalah kantor Mapolres yang notabene kantor aparat kepolisian. Bisa saja timbul perasaan tidak percaya pada pihak kepolisian di tengah masyarakat. Sebab polisi yang seharusnya melindungi masyarakat dan memberikan rasa aman juga ternyata mendapat teror. (h/len/dib)




Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 17 Juni 2019 - 23:33:48 WIB

    Saat Rayakan Ultah, Anggota Polisi Ini Malah Dikeroyok Temannya

    Saat Rayakan Ultah, Anggota Polisi Ini Malah Dikeroyok Temannya DENPASAR, HARIANHALUAN.COM – Seorang anggota Polresta Denpasar Bripka MAD (40) mengalami luka-luka setelah dikeroyok dua temannya, Minggu (16/6) dini hari sekitar pukul 01.00 wita. Pengeroyokan terjadi di saat pesta ulang t.
  • Selasa, 11 Juni 2019 - 20:58:02 WIB

    Polisi Ungkap Alur Rencana Pembunuhan Empat Tokoh Nasional

    Polisi Ungkap Alur Rencana Pembunuhan Empat Tokoh Nasional HARIANHALUAN.COM, JAKARTA --Lewat pengakuan tersangka Iwan yang diputar melalui video dalam keterangan pers,  Polisi mengungkap alur rencana pembunuhan empat tokoh nasional dan seorang pimpinan lembaga survei, Selasa (11/6)..
  • Selasa, 11 Juni 2019 - 13:17:04 WIB

    Narkoba Disimpan Dalam Boneka, Pedagang di Saok Laweh Diciduk Polisi

    Narkoba Disimpan Dalam Boneka, Pedagang di Saok Laweh Diciduk Polisi AROSUKA, HARIANHALUAN.COM - Upaya serius pemberantasan tindak penyalahgunaan Narkoba di wilayah hukum polres Solok terus digencarkan. Hal ini terbukti dengan penangkapan dua orang terduga pelaku penyalahgunaan narkoba, di se.
  • Sabtu, 08 Juni 2019 - 13:45:32 WIB

    Polisi Buru Maling Uang Rp1,2 M dan 9 Sertifikat di Rumah PNS

    Polisi Buru Maling Uang Rp1,2 M dan 9 Sertifikat di Rumah PNS JAKARTA,HARIANHALUAN.COM-Tim Polres Depok masih  memburu maling yang menyikat uang Rp 1,2 Miliar dan 9 Sertifikat Tanah dari rumah Budianto, seorang PNS di Depok yang ditinggal mudik lebaran..
  • Sabtu, 08 Juni 2019 - 12:52:36 WIB

    Bentrok Perguruan Silat, Polisi Cari Pembunuh Ramos Horta

    Bentrok Perguruan Silat, Polisi Cari Pembunuh Ramos Horta JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Kepolisian Resort Kupang, Nusa Tenggara Timurmemeriksa sejumlah saksi terkait kasus bentrokan dua perguruan silat di Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang yang menyebabkan satu k.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM