Derai Air Mata di Stasiun Kereta Bukittinggi


Selasa, 05 Desember 2017 - 10:59:27 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Derai Air Mata di Stasiun Kereta Bukittinggi Seorang ibu yang mengendong anaknya, berusaha menghalangi proses pembongkaran. Gatot.

“Jelas Ini sangat mengecewakan. Selama ini, usulan untuk musyawarah mufakat belum ada, tapi sudah di eksekusi. Untuk itu warga dipersilahkan untuk menuntut ke Pengadilan” Benni Yusrial, Ketua DPRD Bukittinggi.

BUKITTINGGI HARIANHALUAN.COMPembongkaran puluhan rumah yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Divre II Sumbar di Emplasemen Stasiun Bukittinggi, Senin (4/12) diwarnai kericuhan. Kaum ibu dan mahasiwa menentang penggusuran. Tapi apa daya, tenaga yang mereka miliki tidak kuasa menahan. Penggusuran tetap dilaksanakan. Satu persatu, bangunan dirobohkan. Ada isak tangis mengiri eksekusi itu.

Sambil menggendong anaknya yang berusia dua tahun, Amelia nekat mendekati alat berat yang tengah bekerja merobohkan bangunan. Ibu rumah tangga ini mendesak agar alat berat berhenti melakukan pembongkaran. Warga penyewa aset PT Kereta Api Indonesia (KAI) lainnya pun histeris bahkan jatuh pingsan saat mencoba menghalangi pembongkaran rumah-rumah warga oleh alat berat. “Jangan dibongkar,” ujarnya. Namun terlambat, alat berat sudah bekerja.

Kumar Chan, Ketua Organisasi Penyewa Aset Kereta Api Indonesia (Opakai) menyebutkan, warga menuntut penuntasan ganti rugi sebelum rumah mereka dibongkar. Pembongkaran bangunan dan rumah-rumah yang dilakukan secara sepihak akan berdampak pada ratusan warga. Jika pembongkaran tetap dilakukan, warga mengancam akan menginap di jalan raya. "Ini akan dibangun hotel dan balkondes. Kalau untuk reaktivasi kereta api untuk sarana transportasi publik warga tidak menolak. Dari 157 pengontrak dengan PT KAI secara resmi 80 persen merupakan warga miskin. Penggusuran secara brutal seperti ini bisa jadi kami memindahkan warga ke jalan raya karena tidak ada uang untuk menyewa atau mengontrak tempat," kata Kumar Chan.

Meski dihalangi dan mendapat penolakan warga, pembongkaran tetap berjalan. Ratusan personel gabungan Polri, TNI, dan Satpol PP yang disiagakan di lokasi melakukan pengawalan ketat untuk melancarkan pembongkaran bangunan yang berdiri di atas lahan PT KAI ini. Manajer Aset PT KAI Divisi Regional 2 Sumbar Dedi mengaku pembongkaran yang dilakukan sudah melalui proses dan SOP yang berlaku. PT KAI telah melakukan beberapa kali penundaan pembongkaran dan telah memberikan uang kerahiman sesuai aturan.

Pembongkaran pun dilakukan setelah adanya surat peringatan (SP) 1, SP 2, dan SP 3, hingga surat pemberitahuan pembongkaran. Pengosongan lahan milik KAI yang disewakan ke warga ini dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan seluas 41.569 meter persegi yang merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri BUMN Rini Soemarno ke Bukittinggi pada 26 Februari 2017. Ini dilakukan untuk mendukung sektor unggulan daerah ini yaitu sektor pariwisata.

Namun, proses pembongkaran bangunan terpaksa dihentikan sekitar pukul 12.00 WIB. Penghentian itu sehubungan dengan permintaan dari DPRD Bukittinggi untuk dapat menunda pembongkaran bangunan 1X24 Jam, supaya warga dapat memindahkan barang barang mereka.

Kepala Divisi Regional II Sumbar PT KAI  Sulthon mengatakan,  pembongkaran bangunan terpaksa ditunda 1 x 24 jam, sesuai dengan permintaan dari anggota DPRD Bukittinggi. “Besok (hari ini-red) pembongkaran kita lanjutkan pada pukul 12.00 WIB. Penundaan yang kami lakukan sehubungan dengan permintaan dari DPRD Bukittinggi supaya warga dapat mengevakuasi barang-barangnya. Oleh karena itu  kami menghormati anggota dewan di sini," sebut Sulthon.



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM