Sastraku Sayang, Sastraku Malang


Selasa,05 Desember 2017 - 22:59:05 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Sastraku Sayang, Sastraku Malang Saut Situmorang (facebook)

Oleh Saut Situmorang (Sastrawan)

I

Saya punya pertanyaan: Kenapa, ya, gak setiap orang berani mengklaim diri “mengerti” kedokteran, atau ekonomi, lalu membuat tulisan yang “membahas” kedokteran/ekonomi, bahkan sampai mengklaim diri “pengamat kedokteran/ekonomi” atau pengetahuan-pengetahuan lain kayak hukum, kayak jurnalisme?

Tapi, kenapa hal seperti di atas gak terjadi atas “Sastra”? Kenapa setiap orang di negeri ini, apalagi “penulis”, pasti akan merasa sudah “mengerti” Sastra dan berani membuat “opini” publik tentangnya, bahkan sering gak merasa persoalan dianggap sebagai “pengamat” bahkan “kritikus” Sastra?!

Di Indonesia, seperti di negeri-negeri lain, Fakultas Sastra itu terdapat hampir di setiap universitas besarnya, bahkan bisa dikatakan, secara melebih-lebihkan bahwa “Sarjana Sastra” lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan “Sarjana” lainnya.

Maksud saya adalah bahwa sastra itu adalah sebuah ilmu pengetahuan (science, sains), sama seperti kedokteran, ekonomi, hukum atau linguistik. Makanya, sastra dipelajari secara sistematis di tempat yang disebut “Fakultas Sastra”. Makanya, mereka yang sudah tamat mempelajarinya secara sistematis begini disebut “Sarjana Sastra”. bahkan tingkat kesarjanaan ilmu pengetahuan ini mencapai level doktor, sama kayak ilmu pengetahuan lainnya itu.

Dalam kata lain, sudah disadarikah di negeri ini bahwa sastra adalah sebuah ilmu pengetahuan/sains yang untuk memahaminya diperlukan sebuah studi yang sistematis dan lama atas sejarahnya, teorinya dan tentu saja jenis-jenis karya yang disebut karya sastra?

Di sinilah persoalan besar terjadi.

Walaupun ada Fakultas Sastra dan banyak sarjana sastra bertebaran di negeri ini, tetapi sastra masih belum dianggap sebagai sebuah ilmu pengetahuan/sains seperti kedokteran, ekonomi, hukum, dan lainnya, oleh masyarakat umum Indonesia! Bahkan, tragisnya, oleh mereka yang menganggap dirinya sastrawan! Setiap orang, apalagi yang pernah mengenyam pendidikan perguruan tinggi walau nonsastra, akan merasa dirinya mampu bicara tentang sastra, mengerti apa itu sastra!

Maka, parahlah kondisi pembicaraan tentang Sastra di negeri yang tak menghormati sastra(wan) ini! Anarkisme pendapat/interpretasi dianggap bukti demokrasi! Sesuatu yang justru sama sekali tidak terjadi di Barat sana, tempat dari mana demokrasi yang diberhalakan tersebut berasal. Di Barat sana tradisi “divisi kerja” telah menyebabkan hanya para profesionallah yang dianggap “ahli atau pakar” dari bidang profesi tertentu. Sebagai sebuah ilmu pengetahuan, sastra hanya boleh dibicarakan oleh para professional sastra, yaitu para kritikus sastra dan para akademisi sastra. Tanggung jawab profesi membuat pembicaraan/pembahasan mereka atas sastra (baik dalam bentuk esei riset atau buku) merupakan sesuatu yang serius, dalam, dan berbobot.  

Di negeri ini yang bukan “orang sastra” tidak merasa ada yang aneh kalau dia ikut membicarakan Sastra walau ala pseudo-akademis, alias debat kusir. Pembicaraan dan penafsiran yang terjadi pada umumnya sangat tergantung pada kata hati belaka, karena memang begitulah Sastra itu dianggap mereka: Sesuatu yang cuma berkaitan dengan “hati”, “perasaan”, bukan ilmu pengetahuan/sains tadi. Ketidaktahuan mereka atas sejarah dan teori sastra secara umum tidak dianggap faktor penting yang harus mereka pertimbangkan dalam membicarakan sastra!

Kita masih belum lagi membicarakan sastra sebagai sebuah seni, sama seperti seni-seni lain kayak teater, seni rupa, musik, film, fotografi, tari, dan lain-lain!

Seperti seni-seni lain, seni sastra juga memiliki hukum-hukum, peraturan-peraturan, pakemnya tersendiri, ciri khas yang menjadi hakekat sastra. Ketidakpahaman atas hukum-hukum sastra inilah yang selalu membuat setiap “penulis” (yang sangat berambisius tentunya!) terheran-heran kok tulisannya gak dianggap tulisan sastra alias karya sastra! Dengan seenaknya saja segelintir penulis “fiksi pop/novel pop” mengklaim fiksi/novelnya sebagai sastra cuma karena tulisannya itu memiliki hal-hal yang MIRIP karya sastra, seperti plot dan tokoh. Bagi mereka, cuma begitulah “sastra” itu!

Kalau kita ambil perbandingan, kan gak setiap yang dibuat pakai seluloid itu akan dianggap seni film alias sinema. Gak setiap gerak yang “indah” itu Tari. Gak setiap lukisan atau patung itu seni rupa. Tapi, kok hal ini gak dianggap berlaku buat seni sastra?!

Klimaks dari kondisi yang menyedihkan ini: Sekarang sudah menjadi tren di universitas negeri kita, seperti yang sudah terjadi pada universitas negeri yang elite kayak Universitas Indonesia (Jakarta) dan Universitas Gajah Mada (Jogja), mengganti nama “Fakultas Sastra” menjadi sekedar “Fakultas Ilmu Budaya”! “Sastra” sebagai sains dan seni bukan saja sudah tidak diakui lagi statusnya oleh mereka-mereka yang justru punya kewajiban akademis untuk membelanya bahkan dijatuhkan statusnya menjadi sekedar “Ilmu Budaya”!

Kenapa Fakultas Sastra di universitas negeri di seluruh NKRI Harga Mati diganti namanya jadi Fakultas "Ilmu Budaya" tanpa ada suara protes sekalipun dari para sarjana sastra yang jadi dosen dan dekan bahkan profesor di fakultas tersebut?! Apa mereka ini cuma hidup sebagai parasit saja di dunia sastra?!

Saya menduga, popularitas “cultural studies”, terutama cultural studies versi Amerika Serikat, yang membuat hal ini bisa terjadi. Betapa menyedihkan bahwa “cultural studies” yang memang tidak mengakui keberadaan seni itu dianggap lebih relevan bagi kehidupan akademis sebuah negeri dunia ketiga pascakolonial kayak Indonesia ketimbang sebuah “ilmu pengetahuan eksklusif” seperti sastra! Dunia akademis kita yang sudah “tidak benar-benar akademis” itu mutunya (contohnya absennya tradisi kritik(us) Sastra yang pada dasarnya merupakan karya-karya kritik sastra yang dihasilkan oleh dunia akademis sastra), sekarang bahkan menjadi makin tidak akademis lagi dalam konteks Pendidikan Sastra perguruan tinggi! Ironisnya, di dunia akademis Barat saja ilmu pengetahuan alias sains “sastra” masih terus naik gengsinya dan dipelajari secara khusus sebagai sebuah “departemen/jurusan” di bawah nama “faculty of arts”!

II

Baru-baru ini di grup Facebook Apresiasi Sastra terjadi keramaian. Keramaian ini tersulut oleh isi status-status Facebook sebuah akun bernama “Narudin Pituin” yang rata-rata mengklaim dirinya sebagai “penyair” dan “kritikus sastra” paling top yang pernah muncul di Sastra Indonesia. Kata-kata superlatif yang dipakai Narudin Pituin dalam pembuatan klaim-klaim atas prestasi dirinya di Sastra Indonesia itu membuat mendidih darah para pembacanya hingga timbullah keramaian yang dimaksud.

Salah satu contoh pernyataan Narudin Pituin tentang karyanya adalah berikut ini:

“3 April 2016

Sekian buku kritik puisi telah saya baca. 1) buku kritik puisi A. Teeuw terlampau kaku secara sintaksis, dan banyak yang kering akibat terlampau fokus pada elemen-elemen bahasa secara berlebihan. Tak banyak wawasan di luar "makna tekstual deskriptif", 2) buku kritik puisi Goenawan Mohamad terganggu oleh referensi sebagai komplemen pendapat, tapi pengolahan penafsirannya (interpretasi) masih longgar di sana-sini, sekadar mengonfirmasikan informasi ekstra-estetis secara historis-referensial, 3) buku kritik puisi M.S. Hutagalung, dari segi teknik analitik cukup menggerakkan, tapi faktor analisis yang berangkat sekadar dari analisis konvensi bahasa lalu bergerak ke analisis konvensi pseudo-sastra tampak masih lemah, 4) buku kritik puisi Hartojo Andangdjaja dari segi interpretasi cukup subtil, dengan menampilkan pokok-pokok yang penting dianalisis secara lebih dalam. Keterampilannya memperbagus bahasa pengantar dengan agak rapi, membuat buku kritik puisinya punya selera, 5) buku kritik puisi Subagio Sastrowardoyo punya sensitivitas yang bagus, walaupun tak sesensitif kritik-kritik puisi Sapardi Djoko Damono yang lebih bersahaja. Hanya kadang kedalaman fungsi estetis yang ditampilkan tak sepenuhnya mencukupi meskipun didukung oleh sekian daftar pustaka terkutip, dan 6) buku kritik puisi Rachmat Djoko Pradopo bergaya Strukturalisme-Semiotika (Dinamis) cukup telaten dan sistematis. Hanya sayang, terlalu tersekat-sekat/terkesan usang dalam memberikan contoh-contoh puisi yang dianalisis. Seharusnya puisi-puisi yang dianalisis termasuk puisi-puisi modern yang lebih banyak dan luas agar lebih teruji pendekatannya. Bahkan di buku kumpulan makalah sastranya, kesan metode analisisnya terasa menjemukan karena repetitif (berulang-ulang, baik konsep analisisnya maupun pelbagai gagasan dari daftar bacaan yang mendukung proses analisis). Belum tentu pendekatan ini dapat menganalisis buku puisi yang super-cerdas, yang super-mengancam dengan memuaskan. Dengan demikian saya merasa terpanggil untuk menerbitkan lagi buku kritik modern buku puisi saya, berisi 40 analisis modern terhadap 40 buku puisi setelah kemarin menerbitkan buku kritik puisi terhadap 29 buku puisi dan 11 puisi. Jadi, buku kritik puisi berikutnya berisi analisis 40 buku puisi itu diharapkan dapat memuaskan batin dan intelektualitas para pembaca dan berusaha memberikan sesuatu yang Anda takkan temukan di dalam 6 buku kritik puisi di atas (sekadar menyebut contoh beberapa buku kritik puisi). Insya Allah, amin.”


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM