Dr. Pramono, Orang Jawa Penyelamat Naskah Kuno Minangkabau


Jumat, 29 Desember 2017 - 21:32:35 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Dr. Pramono, Orang Jawa Penyelamat Naskah Kuno Minangkabau Pramono mendigitalkan salah satu naskah Minang. FOTO KOLEKSI PRIBADI

Laporan Holy Adib

Di Sumatra Barat (Sumbar) terdapat banyak naskah kuno (manuskrip) Minangkabau abad ke-18--20. Diperkirakan ada sekitar 2.000 naskah Minang di Sumbar. Namun, yang sudah ditemukan sekaligus dipreservasi baru sebanyak 1.300 naskah. Dari 1.300 naskah itu, sebagian besar kondisinya rusak dan mendekati kerusakan karena berusia ratusan tahun, setidaknya demikian kondisi naskah yang sudah dilihat oleh filolog dari Universitas Andalas (Unand), Dr. Pramono.

Sebagai warisan budaya tertulis, kata Pramono, naskah-naskah itu merupakan khazanah budaya yang penting. Di dalam naskah terkandung beraneka ragam teks yang dapat digunakan untuk penelitian keagamaan, falsafah, kesejarahan, kesusastraan, kebahasaan, persoalan adat-istiadat, perundang-undangan, dan kajian-kajian dengan sudut pandang yang lain. Sayangnya, kekayaan tersebut belum maksimal digali oleh banyak peneliti di negeri ini. Ditambah lagi banyak naskah yang sudah rusak dan mendekati kerusakan. Banyak faktor yang menyebabkan kerusakan itu terjadi, terutama faktor sikap pemilik naskah, umur naskah, cuaca dan bencana alam. Faktor lain yang juga sangat mengancam keberadaan naskah itu adalah adanya praktik jual beli naskah yang dilakukan oleh pewaris naskah dengan pihak luar negeri. Karena itu, perlu dilakukan preservasi naskah.

“Ada dua bentuk preservasi, yakni digitalisasi (penyelamatan isi naskah) dan konservasi (penyelamatan fisik naskah). Ada 1.300 naskah Minang yang sudah digitalisasi, sedangkan yang dikonservasi sudah 200 naskah. Saya pribadi sudah mendigitalisasi 800 naskah dan mengonservasi 100 naskah,” ujar Sekretaris Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara itu di Padang, Jumat (29/12).

Pramono mengutarakan, 1.300 naskah itu sebagian besar merupakan koleksi surau-surau tarekat yang tersebar di berbagai tempat di Sumatera Barat sebagai hasil dari tradisi intelektual di kalangan ulama-ulama Minangkabau pada masa lampau.

“Seribuan naskah itu sebagian besar masih tersebar di tangan masyarakat sebagai koleksi pribadi dan atau kaum. Hanya sebagian kecil saja yang tersimpan di lembaga formal. Museum Nagari Adityawarman merupakan lembaga yang memiliki koleksi terbesar di Sumatera Barat, yakni sekitar 70-an naskah; disusul Ruang Labor Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (60-an naskah); Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat (30-an naskah); Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol (10-an naskah),” ucap bapak tiga anak itu.

Naskah milik pribadi

Pramono mengutarakan, sebagian besar naskah Minangkabau kepemilikannya bersifat pribadi, maka keberadaannya sangat dipengaruhi oleh sikap pemiliknya. Sikap pemilik naskah dapat dikategorikan dalam empat kelompok. Pertama, pemilik naskah yang masih menganggap naskah-naskah yang dikoleksinya sebagai benda keramat. Kedua, pemilik naskah yang tahu bahwa naskah-naskah miliknya bernilai ekonomi dan dapat diperjualbelikan. Ketiga, pemilik naskah yang tidak paham bahwa naskah merupakan benda penting dan harus diselamatkan. Keempat, pemilik naskah yang paham dan terbuka terhadap upaya pelestarian dan penyelamatan naskah-naskah yang dimilikinya.   

Masih banyaknya masyarakat, kata Pramono, yang menganggap naskah-naskah yang dimilikinya sebagai benda keramat, mengakibatkan peneliti sulit untuk mendapat akses terhadap naskah. Kendati isinya tidak pernah diketahui dan dimanfaatkan oleh khalayak umum, tetapi naskah baru dapat dilihat jika melalui syarat-syarat tertentu.

Oleh karena dianggap keramat, maka naskah biasanya disimpan di tempat-tempat yang agak sulit dijangkau, seperti di atas pagu atau di dalam kotak yang tidak pernah dibuka. Untuk jenis koleksi seperti ini, biasanya peneliti menggunakan pendekatan kultural dan memakan waktu yang lebih lama.

“Sebagai peneliti, saya dan tim biasanya memaklumi dan berjuang dengan berbagai macam pendekatan untuk “mengambil hati” pemilik naskah. Memang waktu yang dibutuhkan untuk mengambil hati ini cukup lama. Bahkan, ada kalanya untuk dapat membuka akses salah satu surau yang menyimpan puluhan naskah diperlukan waktu hingga dua tahun. Menariknya, jika sudah diperbolehkan untuk mengakses koleksi naskah-naskahnya, dan melihat bagaimana kami memperlakukan naskah, maka pemilik naskah menjadi senang dan akan mengeluarkan seluruh koleksinya,” tuturnya.



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM