Quo Vadis Sepakbola Sumbar


Selasa,09 Januari 2018 - 23:10:14 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Quo Vadis Sepakbola Sumbar Rakhmatul Akbar (Wartawan Olahraga)

Oleh: Rakhmatul Akbar (Wartawan Olahraga)

 

Tahun 2017 bak lembaran hitam bagi sepakbola Sumbar. Puncaknya, saat satu-satunya tim elite di kancah sepakbola nasional asal Sumbar, Semen Padang FC terlempar ke level kompetisi kelas dua, Liga2. Sejak itu, sepakbola di daerah yang punya sejarah panjang sepakbola di Indonesia ini seperti buram. Semua komponen seperti tertunduk layu, seperti tak tahu mesti bagaimana.

Dalam sejarah panjang sepakbola Sumbar, daerah ini bukan daerah kemarin sore yang mewarnai sepakbola di republik ini. Selain Semen Padang FC, ada juga nama PSP Padang yang pada dekade-dekade lalu, jadi rujukan sepakbola nasional. Di masa jayanya, PSP adalah lawan latih tanding tim-tim asal Eropa sana. Di tengah kondisi perpolitikan nasional belum setenang saat ini, yakni di dekade 1950-an, Pandeka Minang, julukan PSP Padang bahkan pernah meladeni tim Juara Piala Champions Eropa, Red Star Belgrade asal Yugoslavia untuk berlatih tanding. Belum lagi tim-tim elite Eropa lainnya. Begitu harumnya nama PSP Padang saat itu.

Di level nasional, PSP Padang adalah tulang punggung tim Sumbar di ajang PON (Pekan Olahraga Nasional). Hasilnya, luar biasa. Sumbar, (kala itu masih Sumatera Tengah) jadi juara III pada PON III di Medan tahun 1953 dan finalis pada PON IV Makassar tahun 1957. Itulah masa lalu sepakbola di Ranah Minang.

Di era sepakbola modern, penyuplai pemain sepakbola untuk Sumbar tak hanya tertumpang lewat PSP Padang saja. Para pemain tumbuh dari berbagai sentra, tapi capaian tak segemerlap capaian di dekade 1950-an itu. Capaian terbaik sepakbola Sumbar di ajang resmi nasional barulah lahir di tahun 2004 saat Hengki Ardiles Cs menjejak pada fase semifinal PON XVI tahun 2004 di Palembang.

Tanpa mengabaikan fase sebelum Hengki Ardiles Cs, sepakbola Sumbar perlahan seperti meredup kembali. Dan puncaknya adalah di tahun 2016-2017. Tim sepakbola Sumbar tak lolos ke PON XIX-2016 Jawa Barat, PSP Padang berkutat di level bawah kompetisi nasional dan akhirnya, Semen Padang FC ikut terjerembab.

Kini, tahun telah berganti. Tahun 2018. Tahun ini, penikmat sepakbola Sumbar, baik itu di ranah ataupun di rantau sudah kehilangan cita rasa sepakbola Sumbar. Tak ada lagi wajah sepakbola yang bisa mereka banggakan dan nikmati. Mulai dari fase junior, amatir hingga pro, semua seperti tengah berada di kubangan. Mestinya, ada upaya untuk mengantarkan bersama-sama satu kelompok, perwakilan dan tim untuk bisa menyodok di kompetisi yang lebih baik.

Bicara soal persiapan tim sepakbola PON XX di Papua tahun 2020 mendatang, Sumbar seperti kehilangan arah. PSSI yang diharapkan ntah memikirkan itu ntah tidak. Akhir tahun 2017 lalu, dilaksanakan pemilihan Ketua Asprov PSSI Sumbar. Hasilnya, terpilihlah seorang Indra Dt Rajo Lelo secara aklamasi. Keterpilihan seorang Indra Dt Rajolelo ini jelas merupakan perpanjangan tangan sepakbola Sumbar yang ditopangkan kepadanya. Ia muncul sebagai calon tunggal dengan segala bentuk kesiapannya.

Dari titik ini, Sumbar seperti tak punya tokoh lain, tokoh pembanding yang siap tampil di depan mendorong sepakbola ke pentas sepakbola yang diperhitungkan. Para pemilik suara, seperti lupa kegagalan Sumbar melenggang ke arena PON XIX Jawa Barat lalu, ada di masa Indra Dt Rajolelo memimpin Sumbar. Terlepas dari rasa hormat kita kepadanya, ia merupakan sosok yang harusnya bertanggung jawab atas kegagalan itu.

Lalu, bagaimana ke depan? Apakah mampu perjalanan sepakbola Sumbar ini ditumpangkan kepadanya seorang. Tak mungkin rasanya. Karena formulasi yang ia miliki besar kemungkinan tak akan bergeser dari formula masa lampau yang akhirnya mengandaskan mimpi anak-anak Sumbar bertarung di level PON. Saat itu, di level Porwil Sumatera 2015 Bangka Belitung saja, mereka gagal lolos fase grup.

Lalu, apakah mungkin kita masih menumpangkan harapan kepadanya, kepada seorang Indra Dt Rajolelo? Saya menyebutnya mungkin saja, karena selagi masih ada harapan, maka saat itu pasti masih ada jalan yang bisa ditempuh untuk memperbaiki keadaan untuk mencapai level yang lebih tinggi. Apa itu? Saya menyebut Genggaman Kekuasaan.

Perlu ada pengaruh dan cengkraman dari penguasa tertinggi untuk mendorong program sepakbola yang sejalan. Siapa? Gubernur. Iri rasanya ketika tetangga, Jambi, sudah memulai program tersebut. Saya terinsprirasi dari sebuah status di grup Facebook sepakbola Sumbar yang seolah menyentil penguasa Sumbar terkait pelaksanaan ajang Piala Gubernur Jambi. Pesertanya, seluruh kabupaten kota di provinsi tersebut. Konon kabarnya, mereka menggelar turnamen itu untuk menyongsong PON XX-2020 di Papua sana. Artinya, ada keterlibatan kekuasaan ini. Gubernur.

Apakah Sumbar tak punya potensi serupa? Saya lihat, ada! Apa itu, yakni menumpang pada iven tahunan turnamen sepakbola antarkecamatan, Minangkabau Cup yang kabarnya kini tengah disiapkan lagi untuk tahun 2018. Turnamen sepakbola yang diklaim sebagai turnamen terbesar di Indonesia ini mampu memunculkan potensi anak negeri. Hanya saja, dari dua kali gelaran, mimpi yang diharapkan sejak turnamen ini masih bertitel Irman Gusman Cup 2016 lalu itu belum menunjukkan buah nyata untuk sepakbola Sumbar.


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin,03 Oktober 2016 - 03:29:31 WIB

    Quo Vadis Reformasi Hukum di Era Jokowi

    Quo Vadis Reformasi Hukum di Era Jokowi Cakupan reformasi hukum sangatlah luas, yang dapat meliputi reformasi konstitusi, reformasi legislasi, reformasi peradilan, reformasi aparat penegak hukum (apgakum), penegakan hukum untuk pelanggaran HAM serta menumbuhkan bud.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM