Minangkabau Summit: Peringatan HPN untuk Siapa?


Rabu, 07 Februari 2018 - 09:59:39 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Minangkabau Summit: Peringatan HPN untuk Siapa? Ilustasi.NET

Oleh: Holy Adib (Wartawan Haluan)

Menjelang akhir Januari yang lalu, Karni Ilyas kena rundung (bully) karena cuitannya di Twitter tentang kebiasaan buruk pemakaian bahasa Inggris di ruang publik.

"Kita memang aneh. Banyak peringatan, petunjuk, bahkan peringatan di tempat umum pakai bahasa Inggris. Apakah semua rakyat kita sudah mampu berbahasa asing? Bahasa Indonesia saja belum. Belajarlah ke Jepang, Korea, atau China yang bangga dengan bahasa ibunya."

Cuitan Karni itu betul, tetapi ia dirisak oleh warganet karena TV One, televisi tempatnya bekerja, dan Indonesia LawyersClub, acara yang dipimpinnya di TV One, memakai bahasa Inggris. Padahal, TV One sudah ada sebelum Karni menjadi pemimpin redaksi di sana, dan Indonesia Lawyers Club merupakan nama yang diilhami dari Jakarta Lawyers Club. Kalaupun Karni melanggar apa yang dicuitkannya, cuitannya tersebut tetap benar karena menggambarkan kebiasaan buruk pemakai bahasa Indonesia di ruang publik sejak dulu sampai kini.

Karena cuitan Karni itu, saya membayangkan betapa kagetnya Karni saat melihat nama acara puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Padang pada 8—9 Februari. Nama acara itu memakai bahasa Inggris beserta struktur bahasanya, yakni Minangkabau Summit. Summit berarti konferensi tingkat tinggi, dan Minangkabau Summit menggunakan hukum bahasa Inggris, yaitu menerangkan diterangkan (bahasa Indonesia memakai hukum diterangkan menerangkan).

Siapa yang disasar oleh panitia HPN 2018 dengan menggunakan Minangkabau Summit? Memang, 31 duta besar (dubes) akan hadir pada kegiatan puncak HPN tersebut. Apakah 31 dubes itu yang disasar oleh panitia dengan menamai acara mengggunakan bahasa Inggris? Apakah hanya karena 31 dubes itu panitia memakai Minangkabau Summit?

Peringatan HPN 2018 di Padang akan dihadiri oleh presiden, pejabat tinggi negara, dan ratusan wartawan, terutama wartawan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dari seluruh Indonesia. Seharusnya panitia HPN menghargai presiden dan rombongan serta ratusan wartawan tersebut untuk menamai acara karena jumlah mereka lebih banyak daripada jumlah 31 dubes itu.

Sebenarnya, persoalannya bukan perhitungan statistik yang demikian, melainkan menghormati pers Indonesia dengan menjunjung bahasa yang digunakan oleh pers Indonesia. Apa jadinya hari yang katanya hari pers Indonesia diperingati dengan acara yang dinamai dengan bahasa Inggris? Hasilnya adalah bahwa panitia HPN, yang di dalamnya ada pemerintahdan PWI, tidak menghargai bahasa Indonesia dan pers Indonesia. Cara menghargai bahasa Indonesia dan pers Indonesia adalah menggunakan bahasa Indonesia pada setiap penamaan rangkaian kegiatan peringatan hari yang katanya hari pers Indonesia itu. Kata siapa begitu? Kata saya! Siapa saya? Linguis? Munsyi? Tidak perlu gelar pakar bahasa untuk mengeluarkan pernyataan seperti ini. Saya merupakan warga Indonesia. Setiap warga Indonesia sudah seharusnya menjunjung bahasa Indonesia, apa pun gelar dan jabatannya.

Mengapa memperingati HPN berkaitan erat dengan bahasa Indonesia? Sejarah pers Indonesia juga merupakan sejarah bahasa Indonesia. Surat-surat kabar pada zaman sebelum kemerdekaan saja sudah menulis dengan bahasa Melayu, cikal bakal bahasa Indonesia. Masa acara yang diadakan untuk memperingati hari pers Indonesia diberi nama bahasa Inggris. Apa artinya perbuatan itu kalau bukan tidak menghargai pers Indonesia?

Pertanyaan berikutnya: dengan apa seharusnya Minangkabau Summit itu diganti?

Minangkabau Summit yang dimaksud oleh panitia HPN merupakan pertemuan presiden, pejabat tinggi negara, kepala daerah seluruh Indonesia, pelaku usaha, insan pers, dan dubes negara sahabat dalam bentuk kegiatan dan temu bisnis potensi pembangunan. Summit berarti konferensi tingkat tinggi. Oleh karena itu, Minangkabau Summit bisa diubah menjadi Konferensi Tingkat Tinggi Minangkabau. Kalau terlalu panjang untuk judul acara, nama itu bisa disingkat menjadi KTT karena konferensi tingkat tinggi sudah sangat lazim disingkat menjadi KTT, seperti KTT ASEAN dan KTT Asia-Afrika.

Namun, acara HPN di Padang merupakan acara nasional sehingga tidak cocok menggunakan kata summit karena summit merupakan kata yang digunakan untuk acara internasional. Mengapa demikian? Cobalah periksa kamus. Merriam-Webster Dictionary mendefinisikan summit sebagai ‘conference of highest-level officials (such as heads of government)’, Oxford Dictionary mengartikan summit sebagai a meeting between heads of government’, dan Cambridge Dictionary memaknai summit sebagai ‘an important formal meeting between leaders of governments from two or more countries’. Definisi summitpada tiga kamus tersebut memperlihatkan bahwa summit merupakan pertemuan antarkepala negara/pemerintahan. Berdasarkan makna kamus, summit hanya cocok dipakai untuk pertemuan internasional, bukan pertemuan nasional.

Bagaimana dengan kehadiran puluhan dubes negara sahabat pada peringatan HPN? Para dubes tersebut hadir pada peringatan HPN bukan sebagai peserta, melainkan sebagai tamu. Peringatan HPN bukan acara yang membahas negara para dubes tersebut. Bedakan kehadiran kepala negara atau perwakilan kepala negara pada acara yang memakai kata summit atau KTT, seperti KTT Asia-Afrika, KTT IORA, dan KTT ASEAN.

Prof. Dr. Anton Moeliono, munsyi dari Universitas Indonesia, menyarankan padanan summit sebagai rembuk atau pertemuan nasional. Saran tersebut disampaikannya melalui artikel yang terbit di Kompas pada 6 November 2009. Pada artikel berjudul “National Summit?” itu, Anton mengkritik pemerintah karena memakai bahasa Inggris pada pertemuan nasional yang semua pesertanya adalah orang Indonesia.

Jadi, nama acara Minangkabau Summit bisa dipadankan menjadi Rembuk Minangkabau atau Pertemuan Minangkabau, yang artinya kurang lebih ‘pertemuan atau rembuk pejabat tinggi negara di Minangkabau’. Jika ada yang ingin memadankan Minangkabau Summit sebagai KTT Minangkabau dengan alasan perluasan makna kata konferensi tingkat tinggi atau summit, saya kira hal tersebut tidak menjadi masalah. Persoalan utamanya adalah pemakaian bahasa Inggris pada pertemuan nasional, sedangkan Asian-African Summit, pertemuan internasional, saja lazim disebut KTT Asia-Afrika di Indonesia.

Kewajiban memakai bahasa Indonesia

Pertemuan nasional yang dihadiri oleh presiden dan pejabat tinggi negara wajib memakai bahasa Indonesia, termasuk dalam menamai acaranya. Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Pada pasal 32 UU itu dinyatakan, bahasa Indonesia wajib digunakan dalam forum yang bersifat nasional atau forum yang bersifat internasional di Indonesia.

Panitia HPN, yang di dalamnya termasuk pemerintah dan PWI, seharusnya mematuhi undang-undang. Apa jadinya jika pemerintah dan wartawan, yang konon merupakan intelektual, tidak mematuhi undang-undang yang dengan mudah bisa dilaksanakan? Apa susahnya menamai acara dengan nama bahasa Indonesia? Apa untungnya memakai bahasa Inggris untuk menamai acara yang diadakan di Indonesia dan dihadiri oleh orang Indonesia?

Akhirulkalam, saya kembali membayangkan apa yang dipikirkan oleh Karni Ilyas saat menghadiri acara puncak peringatan HPN pada 9 Februari. Dengan nama acara Minangkabau Summit, mungkin saja Karni bertanya, “Acara peringatan HPN ini untuk siapa?”

 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 21 Maret 2017 - 16:15:47 WIB

    Ayo Berbahasa Minangkabau

    Ayo Berbahasa Minangkabau Kamis, 16 Maret 2017, situs www.cendananews.com › Lintas Nusa › Sumatera Barat memberitakan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (melalui Dinas Kebudayaan Sumatra Barat) akan membuat kebijakan tentang penggunaan bahasa.
  • Sabtu, 21 Mei 2016 - 04:26:31 WIB

    Bahasa Minangkabau di Ambang Kepunahan?

    Bahasa Minangkabau di Ambang Kepunahan? Bahasa menunjukkan bangsa. Pribahasa ini memiliki makna, dengan bahasa dapat mengetahui asal-usul seseorang. Sedangkan dalam gurindam Minangkabau menyatakan, nan kuriak iolah kundi, nan merah iolah sago, nan baiak iolah budi,.
  • Sabtu, 23 Januari 2016 - 04:14:08 WIB

    Perempuan Minangkabau

    Perempuan Minangkabau Perempuan selalu men­ja­di topik yang tidak kunjung usai di­bahas, diteliti dan di­per­bin­cangkan, tak terke­cua­li pe­rempuan Minangkabau. Pe­­­rempuan dalam susunan ma­syarakat adat Mi­nang­ka­bau memiliki .

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM