Punya 96.000 Hektare Lahan

Gempita Sumbar Tolak Impor Jagung


Kamis, 08 Februari 2018 - 03:57:45 WIB
Gempita Sumbar Tolak Impor Jagung Ketua Gempita Sumbar, Nurkhalis berfoto bersama petani di ladang jagung yang dikelola secara bersama.

PADANG, HALUAN – Kebijakan impor jagung yang diambil Kementerian Perdagangan menuai kritik banyak pihak. Di Sumbar, senator dan para petani dengan tegas menolak kebijakan tersebut karena dianggap tak berpihak pada petani.

Sekarang, Sumbar sedang gencar-gencarnya menanam jagung. Bahkan, Gerakan Pemuda Tani (Gempita) Sumbar saja sudah menanam jagung di 34.000 hektare dari 96.000 lahan. “Gempita jelas menolak rencana impor di tengah gairah tinggi petani untuk menanam jagung. Pemerintah semestinya memikirkan bagaimana agar petani sejahtera dan menjaga harga, bukan main impor saja,” terang Kordinator Wilayah Gempita Sumbar, Nurkhalis, Rabu (7/2) malam.

Baca Juga : Diduga Bakar Kantor Bupati, Seorang Oknum PNS Ditangkap

Dituturkan Nurkhalis, Sumbar akan panen jagung besar-besaran.  Dikatakannya juga, pada tahun 2018 target untuk penanaman jagung seluas 300.000 hektare wajib tanam. Yang sudah di SK-kan pemerintah seluas 96.000 hektare. "Dari 96.000 hektare tersebut, dalam garapan Gempita sendiri seluas 34.000 hektare siap tanam," kata Kholis.

Hal senada diungkapkan senator asal Sumbar DPD RI Emma Yohana. Secara tegas Emma menyebut, Sumbar menolak impor karena produksi jagung sudah melebihi dari kebutuhan. “Lahan pertanian jagung di Sumbar ada lebih kurang seluas 85 ribu hekter dengan produksi 600 ribu ton. Dengan produksi 600 ribu ton jagung tersebut, Sumbar tidak membutuhkan jagung impor,” terang Emma Yohana saat Komite II DPD menyampaikan sikap terkait rencana impor jagung yang akan dilakukan pemerintah, di Media Center Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (6/2).

Baca Juga : Cabuli Siswi Kelas VI SD, Pria BN Ditangkap Polisi

"Kita ingin menyampaikan kegelisahan masyarakat, terutama petani dengan kebijakan pemerintah mengimpor beras dan jagung ini. Sebagai  wakil daerah, kami berkewajiban untuk menyampaikan pemerintah," papar Emma.

Dia menilai kebijakan pemerintah mengimpor beras dan jagung suatu hal aneh dan tidak memperhatikan nasib petani. "Kenapa pemerintah tidak memberikan perhatian dan memberi modal. Sangat aneh. Impor beras dan jagung ini perlu disikapi bersama. Apa impor ini dibutukan atau ada kepentingan lain"," kata Emma mempertanyakan.

Baca Juga : Pedagang Daging Nyambi Jual Sabu di Pasar Raya Padang

Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menerbitkan Persetujuan Impor (PI) jagung sebanyak 171.660 ton untuk kebutuhan industri dalam negeri. Persetujuan impor ini diberikan pada lima perusahaan pemilik Angka Pengenal Importir Produsen (API-P).Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memastikan, impor jagung takkan mengganggu pasar petani lokal. Pasalnya jenis jagung yang diimpor bukanlah untuk pakan ternak maupun yang tersedia di Indonesia. "Tidak ada impor jagung untuk pakan yang diproduksi di Indonesia. Bertahun-tahun impor jagung untuk kebutuhan industri yang tidak ada diproduksi di Indonesia, itu tetap terjadi," ujar dia di Kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (7/2). (h/sam/mg-ren)

Editor: Bhenz Maharajo

Baca Juga : Innalillahi, Bocah Fauzan Tewas Terbakar Bersama Rumahnya

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]