Yousri Nur Raja Agam, “Presiden” Indonesia Lima Menit


Senin,12 Februari 2018 - 20:25:50 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Yousri Nur Raja Agam, “Presiden” Indonesia Lima Menit BERBINCANG DENGAN PRESIDEN—Presiden Indonesia, Jokowi, berbincang dengan Yousri, wartawan senior, pada puncak acara Hari Pers Nasional di Padang, Jumat (9/2). (Biro Pres)

Laporan: Holy Adib

Presiden Indonesia “bertambah” satu orang pada 9 Februari 2018. Pada hari itu, Presiden Indonesia, Jokowi, menyerahkan “mandat” kepada seorang wartawan untuk menjadi “presiden” selama kurang lebih lima menit. Pergantian “kepala negara” tersebut disaksikan oleh 24 pejabat tinggi negara, 31 duta besar negara sahabat, ratusan wartawan, dan masyarakat Padang.

Peristiwa “bersejarah” itu terjadi dalam acara peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Padang. Jokowi meminta seorang wartawan naik ke panggung. Dari banyak wartawan yang mengacungkan tangan, Muhammad Yousri Raja Agam, wartawan Surabaya yang telah 40 tahun berkarier di dunia jurnalistik, terpilih untuk maju ke panggung.

Pada saat itulah, Pantai Padang, tempat acara tersebut dilaksanakan, menjadi saksi bisu Jokowi menyerahkan “tampuk kepemimpinan negara” kepada Yousri. Saat itu, Jokowi ingin menjadi wartawan dan mewawancarai presiden karena dia sering mendapatkan pertanyaan yang susah dari wartawan. Oleh sebab itu, ia bertukar peran dengan Yousri.

“Saya tuh sering, ya, ditanya wartawan dan kita belum siap. Sering kita gak siap. Oleh sebab itu, pada kesempatan yang baik ini, saya minta Pak Yousri jadi Presiden, saya yang jadi wartawan. Nanti saya tanya. Gantian. Mumpung pas Hari Pers. Bapak jadi presiden, saya jadi wartawannya,” ujar Jokowi disambut gelak tawa seribuan tamu di sana.

Yousri tertawa mendengar hal tersebut. Sejenak kemudian, ia menjadi “presiden” dan bertanya kepada Jokowi.

“Baik, Saudara wartawan. Apa yang mau ditanyakan?” ucapnya bertanya kepada Jokowi.  

Jokowi lalu menjawab, ”Saya gak berani tuh dengan wartawan seperti itu, ‘apa yang mau ditanyakan?’ Kelihatan yakin sekali. Ini jadi presiden bagus nih Pak Yousri ini,”

Setelah itu, Yousri dan Jokowi tanya jawab beberapa. Dalam tanya jawab tersebut, Jokowi beberapa kali memanggil Yousri sebagai presiden.

“Sekarang saya tanya ke Pak Presiden: media apa yang paling menyebalkan. Yang (membuat) Bapak sering jengkel. Jawab blak-blakan, Pak Presiden,” ujar Jokowi kepada Yousri.

Tidak lama kemudian, jabatan Yousri pun berakhir sebagai “presiden” saat sesi tanya jawab antara Jokowi dan “presiden” dadakan tersebut selesai.

“Terima kasih, Pak Yousri. Saya ambil alih lagi. Presidennya saya,” kata Jokowi.

Jokowi menyatakan bahwa ia senang karena Yousri telah blak-blakan menyebutkan nama media yang sering membikin jengkel, yakni Rakyat Merdeka. Atas hal itu, Jokowi menghadiahi Yousri sebuah sepeda.

Siapa Yousri?

Saat di atas panggung, Yousri memperkenalkan diri kepada Jokowi. Ia mengatakan bahwa ia wartawan di Surabaya dan telah 40 tahun menjadi wartawan. Namun, informasi singkat itu belum menjawab banyak pertanyaan masyarakat Indonesia tentang sosok “presiden”.

Yousri merupakan orang Minang dengan suku Sikumbang. Kedua orang tuanya berasal dari Padang Lua, Kecamatan Banuhampu, Agam, Sumatra Barat, tetapi ia lahir di Bengkalis, Riau, pada 20 Oktober 1950. Sejak lahir, ia tidak pernah tinggal di Agam karena orang tunya membawanya ke Singapura dan Malaysia. Ia baru menetap di kampung saat duduk di bangku SD.

“Saya Sekolah Rakyat di Padang Lua, SMP di SMP 1 Bukittinggi, dan SLTA di STM Kimia Tekstil di Bukittinggi,” ujarnya di Surabaya saat dihubungi Haluan melalui telepon dari Padang, Minggu (11/2).

Setelah lulus STM, Yousri kuliah di Akademi Industri Tekstil Bandung. Waktu kuliah inilah ia kali pertama menjadi wartawan dengan bergabung dengan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI), organisasi wartawan selain PWI. Setelah itu, ia menjadi wartawan pada Harian KAMI sejak 1970 hingga 1974.

Pada 1975, sesudah wisuda, Yousri pindah ke Surabaya. Di sana ia bekerja di PT Indonesia Texstile Mills. Sambil bekerja sebagai buruh pabrik itu, ia menjadi wartawan di Mingguan Berita Raya, koran buruh yang dikendalikan oleh Federasi Buruh Seluruh Indonesia (organisasi yang diketuai Agus Sudono, ketua perhimpunan buruh Islam seluruh dunia).

“Saya kemudian berhenti menjadi buruh pabrik tekstil dan fokus menjadi wartawan. Setelah keluar dari Mingguan Berita Raya, saya menjadi pemred Harian Harian Radar Kota pada 1976—1981, lalu menjadi kontributor Jurnal Ekuin (koran terbitan Jakarta) perwakilan Jatim pada 1981—1983. Saya berhenti dari koran ini karena koran ini dibredel. Kemudian, saya aktif di dua media pada 1984—1998: Surabaya Minggu dan Harian Jayakarta (media terbitan Jakarta) sebagai kontributor perwakilan Jatim. Harian Jayakarta tutup di Jakarta setelah diambil alih Suara Pembaruan). Sejak saat itu, saya membuat media sendiri bernama Majalah DOR (Data Objektif Realita), media bulanan, sebuah majalah hukum dan investagasi; danKoran DOR, media mingguan. Di dua media ini, saya menjadi pemred hingga kini. Saya juga menjadi Pemimpun Umum dan Pemred Ragamnews.com sejak 2015. Selain menjadi wartawan, saya menjadi penasihat 16 surat kabar mingguan dan dua majalah,” tutur pria bersuku Sikumbang itu.

Menjadi “presiden”

Pada puncak acara HPN di Pantai Padang, Jokowi mengangkat Yousri sebagai “presiden”. Saat itu, Jokowi meminta seorang wartawan maju ke panggung. Yousri pun mengacungkan tangan bersama sejumlah wartawan. Akhirnya, ia ditunjuk oleh Jokowi.

“Saat Presiden meminta seorang wartawan maju ke panggung, saya berani mengacungkan tangan karena saya pikir pertanyaan yang muncul nantinya berkaitan dengan wartawan,” tuturnya.

Yousri menceritakan, pertemuannya dengan Jokowi di panggung tersebut adalah pertemuan pertama. Meski demikian, ia mengaku tidak grogi karena ia menduga pertanyaan yang diajukan Jokowi adalah pertanyaan guyonan.

“Dari awal, Presiden sudah guyon. Misalnya, saat saya naik panggung, beliau mengatakan, ‘Loh ini wartawan senior ini. Saya mau yang yunior, yang datang inginnya wartawan junior’. Kemudian, waktu saya perkenalkan nama saya Muhammad Yousri Raja Agam, Presiden bilang, ‘Waduh, ada rajanya juga ini’. Makanya saya tidak grogi. Saya  justru senang luar biasa dijadikan ‘presiden’,” ucap pria tiga anak itu.

Ketika ditunjuk menjadi “presiden”, Yousri menganggap hal itu sebagai guyonan serius dari Presiden. Karena itu, ia pun berperan serius dengan mengatakan kepada Jokowi, “Saudara wartawan, apa yang mau ditanyakan?”.

“Pertanyaan seperti itu merupakan kebiasaan gubernur Jatim, Pakde Karwo. Beliau proaktif kalau bertemu wartawan. Kalau bertemu wartawan, beliau bilang, ‘Ayo, tanya apa’. Saya tidak tahu kebiasaan di Istana. Saya kira Pak Jokowi seperti Pakde Karwo yang menantang wartawan untuk bertanya. Ternyata tidak demikian,” ujarnya.

Media paling menyebalkan

Di panggung, saat “Presiden” Yousri ditanya oleh “Wartawan” Jokowi mengenai media paling menyebalkan di lingkungan Istana Presiden, Yousri menjawab bahwa media tersebut adalah Rakyat Merdeka. Ia mengaku sengaja menyebut nama Rakyat Merdeka karena tidak berani menyebut media lain.

“Saya berani menyebut Rakyat Merdeka karena pendirinya adalah Margiono, ketua PWI Pusat. Margiono adalah teman lama saya. Saya berteman akrab dengannya waktu dia jadi Pemred Jawa Pos. Saya tahu dia tidak akan marah kepada saya. Karena itu, waktu saya menyebut Rakyat Merdeka, dia mengacungkan tinju kepada saya, yang dilihat oleh Presiden, saya tertawa saja karena saya tahu dia tidak marah kepada saya. Justru seharusnya dia bangga saya sebutkan Rakyat Merdeka di atas forum seperti itu sebenarnya menjadi promosi gratis bagi Rakyat Merdeka. Alasan lainnya, Rakyat Merdeka memang koran yang tajam beritanya. Sosial kontrolnya bagus dari segi jurnalistik, sama dengan Harian Merdeka pada zaman B.M. Diah, yang berani menyoroti dengan tajam kebijakan pemerintah. Saya mengamati Rakyat Merdeka sejak dulu,” tuturnya.

Di balik cerita itu pun ternyata ada cerita lain. Yousri menceritakan, sebelum menyebut nama Rakyat Merdeka, ia ingin menyebut nama Media Indonesia atau Metro TV sebagai media paling menyebalkan bagi presiden untuk tujuan bercanda dengan Surya Paloh. Namun, ia tidak melihat pemilik kedua media tersebut, Surya Paloh, di kursi tamu. Oleh sebab itu, ia mengurungkan niatnya, lalu menyebut nama Rakyat Merdeka.

“Surya Paloh itu teman lama saya. Saya ingin bercanda dengan menyebut salah satu medianya sebagai media paling menyebalkan,” katanya.

Berniat mencandai persiden

“Jabatan” Yousri berakhir sebagai “presiden” saat Jokowi mengatakan, “Terima kasih, Pak Yousri. Saya ambil alih lagi. Presidennya saya,” kata Jokowi.

Setelah Jokowi mengambil kembali jabatannya itu, Yousri sebenarnya ingin mencandai Presiden dengan mengatakan, “Loh, tadi sudah sampean kasih sama saya, kok ditarik lagi?” dengan logat Madura.

“Sebenarnya ada yang ingin saya katakan waktu itu agar presiden dan semua tamu tertawa. Tapi, saya tidak jadi mengatakannya karena saya sudah tertawa duluan. Saya sudah membayangkan guyonan itu sangat lucu,” ucapnya.

Dipanggil presiden

Setelah turun dari panggung, Yousri dipanggil presiden oleh banyak orang, termasuk orang yang tidak dikenalnya. Sementara itu, ponselnya berdering tiap sebentar. Para kolega dan keluarganya meneleponnya untuk mengucapkan selamat kepadanya dengan panggilan “presiden”.

“Saya diwawancarai wartawan dan diajak berfoto oleh orang-orang. Saya serasa menjadi selebritas pada hari itu. Di Bandara Internasional Minangkabau, di atas pesawat, dan di Bandara Sukarno Hatta, banyak orang memanggil saya ‘presiden’ dan mengajak saya berfoto. Saya tidak kenal mereka. Mereka bilang melihat saya di televisi bersama presiden. Di antara mereka, ada yang bilang saya presiden lima menit, presiden sepuluh menit. Mereka lalu mengajak saya berfoto,” tuturnya.

Tidak bercita-cita jadi presiden

Setelah dua hari menjadi “presiden”, Yousri masih merasa menjadi “presiden” dan masih teringat panggilan “presiden” kepadanya. Kalau saja waktu kecil ia punya cita-cita menjadi presiden, keinginannya itu sudah “terwujud”. Namun, ia tidak pernah bermimpi menjadi presiden.

“Saya tidak pernah mimpi jadi presiden. Dari kecil, saya berbakat menjadi wartawan. Waktu SMP dan SMA di Bukittinggi, saya sering mengirim tulisan ke koran Aman Makmur terbitan Padang. Dulu saya punya tustel. Saya sering memotret. Waktu banjir di Bukittinggi, saya mengirim foto banjir ke koran Singgalang yang waktu itu terbit dua kali seminggu. Waktu itu pemrednya Pak Nazif Basir, suami Elly Kasim. Foto banjir yang saya kirim itu terbit di Singgalang. Waktu sekolah saya juga sering mengirim berita kabar dari kampung ke Gelora Banuhampu, media yang diterbitkan oleh perkumpulan perantau Banuhampu di Bandung,” tuturnya.

 


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM