Yayasan Indonesia-Jerman Kerja Sama Bidang Pendidikan


Selasa, 20 Februari 2018 - 02:00:39 WIB
Yayasan Indonesia-Jerman Kerja Sama Bidang Pendidikan BUPATI Limapuluh Kota saat berdialog dengan konsultan yayasan Indonesia-Jerman, Lilly Wisatova di kediaman bupati beberapa hari yang lalu. ZUL

LIMAPULUH KOTA, HALUAN - Bupati Kabupaten Limapuluh Kota, Irfendi Arbi ditawari kerja sama dari Yaysan-Indonesia-Jerman untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah ini. Kerja sama tersebut, termasuk dibidang pendidikan dan pelatihan bagi pelaku UKM serta e-budgeting.

Pemkab Limapuluh Kota, terus berupaya untuk memberdayakan perekonomian masyarakat termasuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di daerah ini. Selain menuntut setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk membuat berbagai gebrakan dan inovasi, juga senantiasa berusaha mencari peluang kerjasama dengan berbagai pihak.

. Hal itu disampaikan Bupati Irfendi Arbi, ketika menerima kunjungan dan berdialog dengan Consultan Yayasan Indonesia-Jerman Dipl. Ing. Lilly Wasitova, pengurus Yayasan Fajar Hidayah, Mirdas selaku mitra lokal untuk Sumatera Barat, beserta rombongan di pendopo rumah dinas Bupati Irfendi, Labuah Basilang, Payakumbuh, baru-baru ini.

“Kita menyambut baik dan sangat berterimakasih dengan tawaran kerjasama dari Yayasan Indonesia-Jerman ini, guna melakukan pendidikan dan pelatihan UKM di daerah ini. Karena disadari sebagian besar UKM kita memang butuh peningkatan SDM,” jelas Irfendi Arbi.

Pelatihan dan pendidikan SDM dan UKM, tidak saja akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan masyarakat pelaku usaha di Kabupaten Limapuluh Kota semata, akan tetapi diharapkan juga hendaknya mampu menyokong pariwisata unggulan di Luak Limopuluah ini.

Dikatakan, kalau UKM yang dibina itu bergerak di bidang kuliner, sudah tentu ada ke inginan kuliner tersebut bisa mendukung pariwisata daerah ini. Diantaranya, Lembah Harau. Begitu juga kalau UKM yang dibina itu bergerak di bidang kerajinan, tentunya berharap produksi kerajinan itu bisa menjadi cenderamata yang dijual di lokasi objek wisata.

Disamping UKM, Irfendi juga mengharapkan Yayasan Indonesia-Jerman bisa pula memberdayakan petani gambir di Kabupaten Limapuluh Kota yang hingga harga produksinya masih dikuasai secara sepihak oleh pedagang atau toke. “Kalau kerjasama nanti berkanjut. Kita ingin Yayasan Indonesi-Jerman bersama Yayasan Fajar Hidayah, juga melakukan pendampingan atau pendidkan dan pelatihan untuk peningkatan pendapatan petani gambir,” harap Irfendi.

Pihak pemkab sendiri, lanjutnya, akan segera mempelajari tawaran kerjasama ini untuk berikutnya ditindaklanjuti dengan MoU. Khusus untuk kerjasama dan pembimbingan di bidang e-Bugeting pada Pemkab Limapuluh Kota, menurut Irfendi nantinya perlu pencocokan dengan e-bugeting dan e-planing yang sudah dimulai di Limapuluh Kota jauh hari sebelumnya.

E-Bugeting dan e-planning sudah dimulai. Dalam hal ini barangkali tinggal mencocokannya dengan apa yang sudah dilaksanakan,” ujar Irfendi sembari menyebut, untuk urusan e-Bugeting tersebut, Limapuluh Kota memang harus melangkah lebih cepat dan tidak ingin tertinggal dari daerah lain.

Sebelumnya Consultan Yayasan Indonesia-Jerman Dipl Ing. Lilly Wasitova, menjelaskan, tawaran kerjasama e-bugeting dan UKM dengan Pemkab Limapuluh Kota, untuk melaksanakan pembimbingan. pihaknya akan mendatangkan tenaga ahli dibidangnya dari Jerman, atau tenaga ahli asal Jerman yang ada di Indonesia dan tenaga ahli yang sebelumnya kuliah di Jerman.

“Sebelum menentukan apa yang akan dikerjasamakan, tentunya kita perlu mengidentifikasi bidang yang ingin dilakukan percepatan. Jadi tidak harus berupa peningkatan sumberdaya manusia untuk peningkatan pruduktiftas UKM, namun bisa saja sektor perkebunan seperti gambir,” ungkap Lilly.

Menurut Lilly, apa yang menjadi unggulan di daerah ini, memang itulah yang ingin di- brand forming (pembentukan merek) saat ini. Memang seharusnya begitu, Kalau gambir itu produk unggulan, seharusnya itu yang di brand forming. Sebab yang menjadi pilihan kita itu salah satunya adalah unggulan atau ikon daerah, untuk dibuat menjadi lebih baik,” terang Lilly menjawab wartawan.

Menyoal tentang waktu pelaksanaan, lebih lanjut Lilly mengatakan, untuk satu siklus pelatihan tergantung bidang yang dipilih. Kalau yang lebih simpel bisa 3-6 bulan. Khusus kulineri, ujar Lilly, lebih komplek dan bisa saja memakan waktu hingga satu tahun. Pelatihnya bisa diminta untuk hadir selama dua tahun hingga tiga tahun. (h/zkf)

 





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM