Minim Pengawasan, Rokok Ilegal Masih Dijual Bebas di Sumbar


Kamis, 01 Maret 2018 - 11:02:52 WIB
Minim Pengawasan, Rokok Ilegal Masih Dijual Bebas di Sumbar Ilustasi/Haluan

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Penyebaran rokok ilegal di Sumbar tidak hanya menyasar daerah-daerah pinggiran yang kurang termonitor aparat, tapi juga marak di kawasan kampus. Penjualannya pun dilakukan secara terang-terangan. Selain dipasok dari Jawa, rokok tanpa cukai itu banyak dipasok dari Batam, Kepri.

Pantauan Haluan sepanjang Jalan M Yunus, tepatnya dekat Universitas Islam Negeri (UIN), dari enam toko yang didatangi, empat menjual rokok ilegal. Kondisi serupa juga ditemukan di kawasan sekitar Universitas Negeri Padang. Disasarnya kawasan sekitar kampus berkemungkinan dikarenakan banyak mahasiswa perokok, yang ingin tetap merokok dengan harga terjangkau.

Baca Juga : AS dan Rusia Makin Panas, Biden Peringatkan Putin Soal Navalny

Seorang mahasiswa berinisial NH, sejak dulu sebelum kuliah dia sudah terbiasa mengisap rokok merek Profil dan Luffman. Mahasiswa lainnya, RR menyebut, rokok ilegal banyak diminati masyarakat karena harganya murah dan rasanya yang tak kalah dengan rokok kebanyakan. "Sejak dulu saya sudah mengisap rokok ini, kalau pulang kampung pasti saya beli hingga satu slof, sebab di kampung harganya lebih murah," ungkap NH, mahasiswa asal Agam.

Terkait penjualan rokok ilegal, seorang penjual di sekitaran Kampus UPI, Padang menyebut, sejauh ini tidak ada pelarangan penjualan rokok ilegal oleh pemerintah. Rokok tanpa bea cukai itu juga banyak diminati mahasiswa. "Selain masyarakat kelas ekonomi rendah, ada pula mahasiswa yang membeli rokok ini. Mahasiswa adalah konsumen terbanyak," kata Murni sambil memperlihatkan rokok merek Luffman Mild dan Profil.

Baca Juga : Kasus Positif dan Kematian Covid-19 di Pakistan Tembus Rekor

Di kedai atau toko-toko yang menjajakan rokok tanpa bea cukai di banderol seharga Rp6.000 hingga Rp18.000 per bungkus. Kualitas rasa diakui narasumber lebih nikmat, bahkan yang lebih penting harganya lebih memanjakan kantong.

Ambil Tindakan Tegas

Baca Juga : Perawat Florida Terancam Bui 5 Tahun, Usai Ancam Bunuh Kamala Harris

Anggota Komisi II DPRD Sumbar, Komi Chaniago meminta selain tindakan tegas dari penegak hukum, peredaran rokok ilegal di Sumbar hendaknya dilaporkan ke pusat. Sebab dari informasi yang disampaikan media rokok ilegal yang masuk ke Sumbar di produksi di provinsi lain, yakninya di Jawa Timur.  "Kalau saya perhatikan ini sudah berskala nasional, jadi bukan semata-semata lagi tanggung jawab pemerintah Sumbar. Harusnya pemerintah pusat mencari dimana tempat produksinya itu," ucap Komi, Rabu (28/2).

Untuk rokok ilegal yang sudah terlanjur diedarkan di Sumbar, Komi meminta aparat kepolisian melacak sumber-sumbernya dan akan kemana saja akan diedarkan. Kemudian, Dinas Perdagangan dan Bea Cukai diharapkan memperketat pengawasan atas barang-barang yang tidak resmi itu. “Bukan pemerintah saja, masyarakat juga ikut serta mengawasi. Kalau ditemukan ada indikasi peredaran barang ilegal, masyarakat harus andil melaporkan," imbuhnya lagi.

Baca Juga : Ikuti Langkah AS, Giliran Ceko Usir 18 Diplomat Rusia

Persoalan masuknya barang ilegal ke Sumbar, dikatakan Komi, harus mendapat perhatian bersama karena ini akan membahayakan. Utamanya terhadap kesehatan para pengguna barang tersebut. "Rokok yang legal saja membahayakan untuk kesehatan, apalagi yang ilegal. Kita tidak tahu kandungan didalamnya apa, jadi semua pihak memang harus bersama-sama mencegah barang tersebut beredar di Sumbar," ucap anggota DPRD Sumbar dari Dapil Pariaman-Padang Pariaman itu.

Anggota DPRD Sumbar dari Fraksi Demokrat, M Nurnas juga menyebut, kontrol terhadap barang ilegal harus dilakukan secara masif. Baik melalui pengawasan pintu masuk jalur laut, udara ataupun darat. Hampir senada dengan Komi, Nurnas mengatakan untuk mencegah masuknya produk ilegal ke Sumbar, Bea Cukai, BPOM dan jajaran Polda serta pihak terkait lainnya harus bersama-sama memperketat pengawasan. "Jika tanpa cukai, jelas- jelas ini merugikan negara. Kemudian, seperti diketahui menurut orang kesehatan setiap rokok itu sudah jelas-jelas mengandung racun, itu yang legal, untuk yang ilegal kandungannya bisa saja lebih berbahaya dari yang legal," kata Nurnas.

Lemahnya pengawasan menjadi alasan kenapa rokok yang peredarannya merugikan negara itu bisa bebas saja diperjualbelikan di Sumbar. Pencegahan yang dilakukan melalui sejumlah penangkapan belum menyentuh akar permasalahan. Hal itu terbukti dengan begitu mudahnya mendapatkan rokok ilegal. Minimnya sosialisasi lewat media massa terkait bahaya dan merek rokok ilegal juga membuat masyarakat tidak teredukasi. Seharusnya, dengan ancaman yang begitu menakutkan, pemerintah sudah gencar bersosialisasi ke tengah masyarakat.

Senin (26/2) sore, petugas menggerebek sebuah rumah di Komplek Salingka II, Kelurahan Bungo Pasang, Kecamatan Koto Tangah, Padang. Dari penggerebekan, 1.280 slof rokok ilegal berbagai mereka disita. Tiga pelaku peredaran juga ditangkap. Rokok yang sedianya akan didistribusikan ke sejumlah daerah di Sumbar itu dianggap ilegal karena tidak memiliki pita cukai. Ada pula rokok kedaluwarsa yang diperbaharui pitanya oleh tiga pelaku yang ditangkap.

Kasi Pelayanan Cukai Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean (TMP) B Teluk Bayur Feri Surfianto menjelaskan, sepanjang tahun 2017 KPPBC Teluk Bayur telah menyita lebih dari 11 juta batang rokok ilegal. Sementara untuk para tersangka yang ditangkap itu akan dihukum maksimal lima tahun kurungan. “Terkait antisipasi peredaran rokok ilegal di pasaran, pihaknya terus melakukan edukasi kepada masyarakat dan melakukan operasi” papar Feri. (h/len/mg-rei)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]