RENCANA KEK MENTAWAI

Menolak Serahkan Lahan, Menjaga Kelangsungan Hidup


Rabu, 07 Maret 2018 - 08:59:02 WIB
Menolak Serahkan Lahan, Menjaga Kelangsungan Hidup Sceenshot

Julius menyerahkan lahan di Karaimak, namun dia tak tahu persis luasnya. "Itulah tanah yang kami punya yang didapat dari Suku Sakeletuk hasil lulut tulou (denda adat), Karaimak itu hanya kami yang punya. Lokasi Karaimak itu lewat Tutut Bukku nanti akan melewati tanah kaum Sagugurat setelah itu baru sampai di Karaimak batasnya Muara Karaimak sampai sagu yang ditanam oleh nenek moyang , itulah batasnya," katanya.

Untuk penyerahan itu, Julius mendapat bayaran Rp2 juta per bulan selama 5 tahun. Namun dia tak tahu, apakah setelah kontrak 5 tahun habis, tanah akan kembali padanya atau sepenuhnya milik perusahaan. Hak yang didapat pemilik tanah dalam kesepakatan itu selain uang Rp2 juta, kata Julius, lima orang dari masing-masing suku akan bekerja di perusahaan. Selain itu pengelola wisata wajib membuat talud penahan ombak mulai dari Dusun Peipei sampai ke Dusun Kirip, membangun jalan umum sepanjang garis tanah yang diserahkan, memberikan kebebasan kepada masyarakat sekitar destinasi pariwisata untuk menikmati lingkungan destinasi pariwisata, membina pemuda sekitar destinasi pariwisata, mendukung pembangunan rumah ibadah di seluruh wilayah Kecamatan Siberut Barat Daya dan memberi beasiswa pendidikan sebanyak dua orang per suku. Jika pengelola tidak memenuhi kesepakatan, maka perjanjian tersebut batal.

Baca Juga : Pantauan Perkembangan Covid-19 di Sumbar: Positif 114, Sembuh 92, dan Meninggal Dunia 1 Orang

"Kami ada tiga bersaudara, saya, Petrus dan Kristian, masing-masing kami mendapat uang Rp2 juta, kemudian ada keponakan yang kuliah di Padang mendapat beasiswa per bulan Rp1 juta," katanya.

Julius menerima uang kompensasi tanah sejak Oktober 2015 sampai sekarang namun jika dilihat surat perjanjian, baru dilakukan pada Agustus 2016.

Baca Juga : Update Zonasi Covid-19 di Sumbar Minggu Ke-57, Kabupaten 50 Kota Jadi Zona Merah

"Mengenai soal pemilik tanaman itu urusan pihak perusahaan lagi dengan pemilik tanaman bagaimana nilai ganti ruginya bukan urusan kita lagi," ujarnya.

Sementara Sikebbukat Saeppu Taileleu, Ishak Saeppu (54) menuturkan, dari Bat Mabukku sampai di Muara Peipei sampai di Malaigat Leleu adalah milik Suku Saeppu, kalaupun banyak yang mengklaim ada Sailok Koat, Sapaipajet atau yang lain, mereka adalah suku Saeppu yang menemukan tanah.

Baca Juga : Antisipasi Karhutla, Sumbar akan Tambah Alat Gurdian

"Penemunya adalah Suku Saeppu, kami hanya penerus saja, dulu yang menemukan nenek moyang kami. Bahwa tanah itu dari Mongan Peipei sampai di Karaimak itu milik Saeppu," tegasnya seperti yang ditulis Rus Akbar di situs Mentawaikita.com, yang menjadi corong perjuangan bagi masyarakat Mentawai.

Menurut ceritanya dari Muara Peipei itu sampai Tutut Bukku awalnya milik suku Saleilei kemudian berganti tanah dengan Suku Saeppu. "Tanah kami dulu di Mandai masih di daerah Taileleu sedangkan Saleilei dari Muara (Mongan) Peipei sampai Tutut Bukku. Dulu Saleilei pergi mubattau (jaring penyu) di Makakaddut (areal Muara Peipei) di tanah mereka namun tidak dapat, begitu juga kami pergi mubattau ke Mandai, juga tidak mendapatkan jaring kami, tapi setelah Saleilei pergi ke Mandai dapat jaring penyu mereka, begitu juga setelah kami pergi di Makakaddut (Peipei) jaring kami dapat, maka para sikebbutkat siburu (leluhur) mereka buat pergantian tanah," jelasnya.

Baca Juga : Kualitas Udara di Sumbar Masih Kategori Sangat Baik

Tanah dari Muara Peipei sampai Tutut Bukku dari Mongan Karaimak sampai Tutut Bukku milik mereka, Ishak juga mengakui masih bersaudara dengan Saeppu dari Paipajet. "Sebenarnya Saeppu dari Paipaijet ini setelah kami tinggal di sini mereka pergi pergi ke Paipaijet. Memang bukan kami pisahkan Paipaijaet, itu tetap saudara kami," ujarnya.

Di tanah Saeppu banyak warga yang berladang mulai warga Taileleu sampai orang Peipei. Ishak mengaku sejauh ini belum pernah menyerahkan tanahnya ke perusahaan.

"Kami Suku Saeppu yang di Taileleu ini sibakkat polak tidak ada menyerahkan tanah, tidak ada penyerahan mulai dari Muara Peipei sampai ke Tutu Bukku tidak ada kami lepaskan," katanya.

Ishak mengaku dari Muara Peipei sampai Tutut Bukku itu sudah ada sebagian masyarakat yang membeli tanah mereka, sebagian lagi hanya menumpang menanam kelapa.

"Kami tidak ada pelepasan, tidak ada penyerahan kami ke pariwisata, tidak ada dihibahkan kepada pemerintah. Kalaupun sudah dijual kelapa tapi kami tidak tahu," ujarnya.

Diakui Ishak, sukunya ada menghibahkan tanah tapi untuk lokasi fasilitas umum seperti rumah sakit, kantor camat, sekolah.

"Tapi kalau wisata tidak ada, saat ini sedang bergejolak, kami tidak tahu hari yang akan datang, mungkin akan terjadi konflik antara kami. Meski ada tanah yang diserahkan Saeppu Paipaijet di Karaimak kami tidak tahu dan tidak pernah menyerahkan, saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti apakah antara kami atau yang pengelolanya," katanya. (h/ben)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]