KEK Harus Punya Dasar yang Kuat


Kamis, 08 Maret 2018 - 09:05:55 WIB
KEK Harus Punya Dasar yang Kuat Sceenshot

PADANG. HARIANHALUAN.COM – Rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kabupaten Kepulauan Mentawai  di Desa Pasakiat Taileleu Kecamatan Siberut Daya oleh  PT Putra Mahakarya Sentosa harus memiliki dasar yang kuat. Harus ada memorandum of understanding yang clear antara pemodal besar, (karakter umum investor KEK), masyarakat dan policymaker.

Hal ini disampaikan pengamat ekonomi Unand, Sari Lenggogeni saat dimintai tanggapannya soal rencana pengembangan KEK di Mentawai. Katanya, sebagai kawasan yang memberikan kemudahan bagi investor baik dari segi fiskal maupun non fiskal jika entry point pembangunannya melalui pengesahan dewan KEK sudah dapat dilakukan tahun depan. Tentu idealnya ini dilihat jika pembangunan sudah berjalan lancar, dan  investasi dalam negeri/asing terealisasi dengan angka yang tinggi.

Baca Juga : Tabrakan dengan Mobil, Seorang Pengendara Motor Tewas

“Kenyataannya tentu tidak semudah itu, apakah kebijakan kemudahan-kemudahan yang diberikan kepada investor seperti insentif dan tax holiday dan segala sesuatu prosedur dan informasi akan berjalan semulus mungkin. Kita ketahui bersama bahwa atmosfir iklim investasi untuk investor sangat mempengaruhi realisasi dari investasi itu tersebut,” terangnya pada Haluan, Sabtu (3/3).

Menurut alumni SMA 1 Padang ini policymaker dimaksudkan agar investasi tidak mengenyampingkan kesejahteraan masyarakat lokal sehingga tujuan pembangunan pariwisata berkelanjutan tercapai.

Baca Juga : Remaja 11 Tahun Hanyut Terbawa Arus saat Mandi-mandi di Pantai Padang

“Investor KEK Mentawai saya dengar sudah memiliki komitmen terhadap hal ini,” imbuhnya.

Dikatakannya, pertumbuhan ekonomi pariwisata diprediksikan akan dirasakan 3-4 tahun mendatang. Untuk Sumbar jika saat ini, Sari menilai dari neraca satelit pariwisata atau input output table-nya industri pariwisata sudah roughly berkontribusi sekitar 10 persen dengan trade record investor khusus Mentawai diprediksinya bisa mendongkrak angka tersebut.

Baca Juga : Pasca Gempa 5,8 Magnitudo, Warga Peipei Siberut Barat Daya Mengungsi

“Akan tetapi, segmentasinya untuk gol SEC B+ keatas. Karena pembangunannya berskala industri besar, market nya juga premium, dan  menjadi kawasan yang high value bukan high impact. Dan memang untuk KEK memang market seperti itu yang kita harapkan,” tambahnya.

Ke depan, ia berharap ada peraturan perundang-undangan yang juga memperhatikan kawasan laut sebagai potensi ekonomi pariwisata yang saat ini terabaikan. Berapa banyak opportunity lost yang muncul dengan membiarkan industri wisata kawasan darat termaginalkan oleh industri wisata kawasan laut dengan tidak berkontribusi pada pajak, misalnya kapal pesiar yang mensubstitusi resort daratan tapi tidak berkontribusi pada perekonomian di destinasi maritim.

Baca Juga : Ini Penjelasan BMKG Terkait Gempa 5,8 SR Mentawai

“ Untuk Kawasan Mandeh saya belum bisa berkomentar karena saat ini masih terkendala dengan beberapa issue, jadi perlu waktu yang lebih lama dari KEK Mentawai untuk menyelesaikan current condition,” lanjutnya.

Sementara itu, Praktisi Pariwisata Zukhrizul menerangkan KEK itu merampas tanah ulayat dengan cara di beli oleh APBD dan di serahkan ke kapitalis. Ditambah lagi support amenitas lainnya seperti aksesibility, air, listrik dll dg zero invesment dan juga adanya komitment tidak bayar pajak dalam jangka waktu tertentu.

“Kenapa pemerintah tidak dorong pengusaha lokal atau warga pemilik tanah itu sendiri yang dibangun setelah di buatkan akses jalan dan kemudahan perizinan serta pembinaan berkelanjutan,” tukasnya. (h/win)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]