Gaduh, Penumpang Lion Air Tujuan Padang Ditangkap


Senin,12 Maret 2018 - 10:48:11 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Gaduh, Penumpang Lion Air Tujuan Padang Ditangkap Sceenshot

 

PADANG, HARIANHALUAN – Seorang penumpang pesawat Lion Air rute Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng (CGK) menuju Bandara Internasional Minangkabau, Padang (PDG) diamankan pihak Otoritas BIM, Minggu (11/3). Penumpang berinisial FAR ditangkap setelah membuat kegaduhan selama penerbangan, menyebut ada bahaya serta memakai pelampung tanpa sebab.

Eko Pujianto, Airport Manager of Lion Air Group at Minangkabau International Airport dalam siaran persnya menyebut, peristiwa bermula ketika penerbangan 30 menit setelah lepas landas dari Cengkareng menuju BIM. FAR yang berada di kursi 10D berinisiatif membuka kemudian memakaikan baju pelampung kepada penumpang 10C yang merupakan nenek FAR. “Dia juga membuka baju pelampung untuk dirinya,” terang Eko Pujianto.

Mengetahui situasi tersebut, pimpinan awak kabin bernama Dessy Febriyanti menanyakan alasan apa sehingga membuka pelampung. Tapi FAR malah ke dapur pesawat bagian depan dan menginformasikan kepada penumpang lain untuk segera menggunakan baju pelampung. FAR juga meminta agar pesawat kembali lagi ke Cengkareng. Menurut FAR, dirinya bisa melihat dan merasakan adanya bahaya jika penerbangan dilanjutkan.

Pimpinan penerbangan Kapten Agus Ahadi lalu mendengarkan keterangan dari FAR, selanjutnya meminta FAR kembali duduk dan tenang. Sesaat kemudian, FAR kembali ke dapur dengan tetap bersikap meminta kru untuk tidak meneruskan perjalanan. Hal inilah yang membuat panik penumpang lainnya. Petugas beberapa kali mencoba menenangkan suasana yang gaduh akibat ulah FAR.

Posisi dari baju pelampung yang dibuka sudah dirapihkan oleh crew lainnya, tetapi berulang kali FAR membuka dan menggunakannya. Kejadian ini dilakukan FAR enam kali berulang-ulang.  FA1 tetap menenangkan FAR dan menyampaikan kondisi aman serta berjalan normal. Sementara, cabin crew lainnya yang bertugas menjelaskan kepada seluruh penumpang, penerbangan dalam keadaan baik.

Pada saat posisi pesawat akan mendarat, FAR kembali berulah dengan menunjukkan ketakutan dan mengakibatkan penumpang lain menjadi panik. Dia berdiri dan memanggil awak kabin untuk menghampirinya. Seluruh awak kabin lalu memastikan kenyamanan, bagaimana situasi dan keadaan di area penumpang, dengan tetap menginformasikan tidak terjadi hal lain seperti yang disampaikan FAR.

Setibanya di BIM, petugas segera memberitahu kondisi yang terjadi dalam penerbangan kepada tim operasional. Petugas di darat (ground crew) yang bernama Agus Hermawan dan petugas keamanan langsung mengamankan FAR dan membawa ke otoritas bandar udara untuk diproses lebih lanjut. “Perilaku FAR membuat keresahan dan menimbulkan kepanikan saat penerbangan berlangsung.  Awak kabin memiliki tanggung jawab untuk membuat penumpang nyaman selama perjalanan. Menghadapi kondisi tersebut, koordinasi dan komunikasi tercipta dengan baik antar kru pesawat,” papar Eko.

Dijelaskan Eko, Lion Air bekerjasama dengan pihak terkait dalam memberikan layanan yang terbaik dan meminimalisir dampak yang timbul dari penanganan seorang penumpang ini pada penerbangan berikutnya. Lion Air menegaskan kepada seluruh pelanggan, untuk tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan saat di darat serta sedang mengudara. Tindakan yang dilakukan oleh penumpang indisipliner akan mendapatkan sanksi tegas dan memiliki konsekuensi hukum.

Eko Pujianto merujuk Pasal 54 UU Nomor 1/2009 tentang Penerbangan, menyebutkan bahwa setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan dilarang melakukan perbuatan yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan, pelanggaran tata tertib dalam penerbangan, pengambilan atau pengrusakan peralatan pesawat udara yang dapat membahayakan keselamatan. Penumpang juga dilarang melakukan perbuatan asusila yang mengganggu ketenteraman atau. pengoperasian peralatan elektronika yang mengganggu navigasi penerbangan. Ancaman hukuman terhadap pelanggaran Pasal 54 UU Nomor 1/2009 tentang Penerbangan, dalam Pasal 412 menyatakan dipidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.

 “Keselamatan, keamanan serta kenyamanan penumpang dan kru pesawat merupakan prioritas utama bagi Lion Air Group. Lion Air telah mengantongi sertifikat IATA Operational Safety Audit (IOSA). Lion Air Group berhasil menyelesaikan audit internasional mengenai keselamatan penerbangan, sehingga layak disejajarkan dengan airlines kelas dunia. Audit IOSA dirancang untuk menilai manajemen operasional serta sistem kontrol maskapai,” kata Eko. (h/ben)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM