KEK Mentawai di Bappenas


Jumat, 23 Maret 2018 - 09:24:08 WIB
KEK Mentawai di Bappenas Sceenshot

RENCANA pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mentawai selangkah lagi terwujud. Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang beberapa waktu lalu jadi batu sandungan, tuntas dilaksanakan. Dokumennya bahkan sudah dikirim ke Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kemenko Maritim.

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Dengan rampungnya pembahasan Amdal, impian agar Mentawai segera melepaskan status sebagai daerah tertinggal sudah di depan mata. KEK dianggap sebagai jurus paling jitu dalam upaya mensejajarkan Mentawai dengan daerah lainnya. Keraguan banyak orang akan jadi penontonnya warga asli Mentawai dalam perjalanan KEK juga telah dicarikan solusinya. Para pemangku jabatan memastikan warga asli Mentawai adalah orang pertama yang menikmati keberhasilan dari pembangunan.

Baca Juga : BMKG Prediksi Gelombang Tinggi Hingga 3 Meter di Perairan Sumbar Sampai Besok

Sudah dikirimnya dokumen Amdal ke pusat disampaikan Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit dan Bupati Mentawai, Yudas Sabaggalet saat pertemuan dengan unsur pimpinan Haluan di Pendopo Bupati Mentawai, Rabu (21/3) pagi.

“Amdal KEK Mentawai sudah clear dibahas. Beberapa hal yang krusial seperti pemberdayaan masyarakat telah dicarikan jalan keluar terbaiknya. Dokumen Amdal sudah dibawa gubernur ke Jakarta untuk diserahkan ke Bapenas serta Kemenko Maritim. Tinggal menunggu saja lagi,” terang Nasrul Abit.

Baca Juga : Sempat Terhenti, Pembangunan Monumen Bela Negara Segera Dilanjutkan

Menepis kegamangan banyak khalayak yang khawatir nantinya KEK akan dinikmati segelintir orang, sehingga masyarakat Mentawai hanya akan jadi penonton, Wagub memastikan, tujuan kawasan ekonomi khusus semata untuk mengangkat martabat Mentawai. Sekaligus mengelola Mentawai yang sebenarnya memiliki banyak potensi.

“Tidak ada niat untuk menjual Mentawai. Niatnya bagaimana Mentawai itu bisa bangkit, masyarakatnya sejahtera sehingga keluar dari status tertinggal,” tutur Nasrul Abit yang sejak dilantik rajin berkeliling pulau-pulau terluar di Mentawai.

Baca Juga : Mahfud MD Ingin Pembangunan Monumen Bela Negara di Sumbar Cepat Selesai

Nasrul berharap semua elemen mendukung KEK Mentawai sebagai wujud kepedulian terhadap daerah yang secara pemerintahan dulunya masuk ke Kabupaten Padang Pariaman. “Sekarang masanya menyatukan tekad untuk membawa Mentawai ke perubahan yang lebih baik. Percayalah, 10 tahun atau lebih nantinya, Mentawai akan menjadi daerah yang jauh lebih baik. Kepentingan KEK ini bukan kepentingan Pemprov saja, bukan Pemkab Mentawai saja. Tapi Indonesia,” tegas Nasrul.

KEK Mentawai diperkirakan menelan biaya hingga Rp11 triliun yang dilakukan hingga 2030. Dana sebanyak itu, akan diguyur untuk menyulap lahan seluas 2.600 hektare. Selain akan dilengkapi dua bandara untuk dua jenis kelas, juga akan dibangun pelabuhan tempat sandar kapal ukuran sedang di Kawasan Mabiku, Kecamatan Siberut Barat Daya. Pengelolaannya dilakukan oleh pihak swasta.

Baca Juga : Hadiri Rapat Kerja Kepala Sekolah, Sabar AS Paparkan Ide Majukan Dunia Pendidikan

Bupati Mentawai, Yudas Sabaggalet dalam pertemuan juga menegaskan kalau KEK bukanlah wadah menghilangkan identitas masyarakat Mentawai. Namun sebaliknya, dengan KEK, budaya, alam dan adat Mentawai akan dijaga dengan baik, serta dikenalkan ke dunia luar.

“Identitas Mentawai akan tetap melekat sampai kapan pun. KEK bukan menghilangkan itu. Malah lebih terjaga. Saya pastikan jati diri Mentawai tidak akan tergerus. Kalau ada yang bertanya, kenapa akhirnya KEK itu di Mentawai, itu karena budaya, alam dan adatnya. Tidak mungkin itu dihilangkan,” sebut Bupati.

Terkait daya serap tenaga kerja, Yudas memastikan, masyarakat Mentawai akan menjadi prioritas. Tidak hanya kelas buruh, tapi juga pengelola. “Sekarang kita sedang menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM). Anak-anak Mentawai disekolahkan, dikuliahkan keluar agar bisa bersaing dengan tenaga yang bukan orang Mentawai asli. Setamatnya nanti, mereka bekerja di fasilitas yang ada di dalam KEK. Tidak sebagai pekerja kasar, tapi di manajemen. Hal ini sejalan dengan impian saya untuk menjadikan Mentawai bermartabat. Agar masyarakat Mentawai nantinya bisa menepuk dada di tengah keramaian,” tutur Yudas lagi.

Diketahui, Yudas adalah pencetus berdirinya Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM), yang selama ini menjadi corong bagi masyarakat Mentawai dalam menyuarakan ketidakadilan. Politisi PDIP kelahiran Desa Madobak, Kecamatan Siberut Selatan pada 24 Februari 1964 juga merupakan aktor yang menjadikan Mentawai mandiri dan terpisah dari Kabupaten Padang Pariaman. Dengan kredibelitas yang dimilikinya, Yudas meyakinkan masyarakat Mentawai, para aktivis jika dirinya memiliki nawaitu membangun Mentawai, bukan menjual atau menggadaikannya ke asing.

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]