Mentawai 11 Kali Diguncang Gempa, Badrul Mustafa: Ancaman Megatrush Mentawai Masih Besar


Jumat, 06 April 2018 - 09:19:47 WIB
Mentawai 11 Kali Diguncang Gempa, Badrul Mustafa: Ancaman Megatrush Mentawai Masih Besar Sceenshot

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas 1 Padang Panjang mencatat selama Kamis (5/4), daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai telah 11 diguncang gempa dengan kekuatan yang beragam.

Gempa pertama terjadi pada pukul 00:16 WIB dengan kekuatan 4.3 SR, selanjutnya diikuti gempa-gempa yang berkekuatan di bawah 5 SR, hingga pukul 19:00 WIB. Totalnya telah terjadi sebanyak 11 kali gempa bumi.

Baca Juga : Diharapkan Jadi Rumpon Ikan, Kapal Ikan Asing Ilegal Ditenggelamkan

11 gempa bumi tersebut berada di sekitar Kepulauan Mentawai, dan dua diantaranya merupakan gempa bumi yang dirasakan, yaitu yang terjadi pada pukul 00:16 WIB dengan kekuatan 4.3 SR dan dirasakan di pulau Siberut serta gempa yang terjadi pada pukul 06:46 WIB dengan kekuatan 4.8 SR dirasakan di Siberut, Tua Pejat, dan Sipora. Namun dampak kedua gempa tersebut tidak ada laporan kerusakan.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas 1 Silaing Bawah, Kota Padang Panjang Rahmat Triyono mengatakan, gempa bumi dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng di samudera Hindia sebelah barat Kepulauan Mentawai. Dalam hal ini, jalur subduksi lempeng tektonik India - Australia dan Eurasia di Indonesia memanjang dari pantai barat Sumatera sampai ke selatan Nusa Tenggara.

Baca Juga : Demonstran Kompak Desak Kejati Usut Sejumlah Kasus Dugaan Korupsi

Triyono menginformasikan, sebelum gempa pada pukul 06.46 WIB ini, telah terjadi juga sekitar lima kali gempa kecil, namun getarannya tidak dirasakan masyarakat. Untuk itu masyarakat kepulauan Mentawai dihimbau agar tetap tenang mengingat gempa bumi yang terjadi tidak berpotensi tsunami.

Melihat fenomena ini, Pakar gempa Universitas Andalas, Badrul Mustofa mengatakan, pergerakan megathrust Mentawai masih mengancam wilayah pesisir pantai Provinsi Sumbar. Sebabnya, masyarakat Sumbar harus menyiapkan diri dengan kemungkinan adanya gempa besar yang melanda Sumbar kapan saja.

Baca Juga : Kapal Asing Pencuri Ikan Ditenggelamkan, Perkakasnya Jadi Rebutan Nelayan

Kekuatan maksimalnya adalah sekitar 8,5 SR. Meskipun tidak bisa dipastikan kapan gempa itu akan datang, ulas Badrul, persiapan menghadapi kemungkinan bencana itu harus dilakukan. Baik secara fisik maupun non fisik.

Dituturkan Badrul, secara fisik pemerintah daerah harus menyediakan bangunan-bangunan yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat evakuasi. Kemudian memastikan bangunan yang ada di tengah masyarakat berdiri sesuai dengan standar. Mengenai bangunan yang sesuai standar ini, menurut dia yang harus diperhatikan adalah pemilihan material dan lokasi pendirian bangunan.

Baca Juga : Diduga Turut Korupsi, Seorang Tenaga Pendamping Kelurahan Buron

"Karena struktur tanah setiap daerah itu berbeda, standar bangunan tiap daerah itu juga berbeda. Kota Padang ada standar bangunannya, Kita Bukittinggi ada pula standarnya, begitu pula daerah lain.Tinggal lagi si pendiri bangunan apakah itu pemerintah, swasta, atau masyarakat untuk mengikuti standar tersebut," ujarnya, Kamis (5/4).

Kemudian, untuk persiapan non fisik, Badrul menuturkan, masyarakat harus diberi pengetahuan jauh-jauh hari, sebelum terjadinya gempa, apa yang harus dilakukan. Berapa kekuatan gempa, apakah ada kemungkinan potensi tsunami, dimana tempat evakuasi sementara dan bagaimana cara mencapai tempat evakuasi.

Hal ini, jelas dia, hanya akan bisa sampai ke masyarakat saat sosialisasi dilakukan oleh pemerintah.

"Sosialisasi ini tidak bisa hanya dilakukan sekali-sekali saja. Pemerintah daerah secara berkesinambungan harus menyampaikan ke masyarakat untuk selalu siaga," ucapnya. (h/len)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]