Desainer Suntiang Kontroversi Minta Maaf


Selasa, 10 April 2018 - 15:19:03 WIB
Desainer Suntiang Kontroversi Minta Maaf Suntiang (Dok haluan)

PADANG, HARIANHALUAN.COM –  Desainer kawakan Anne Avantie menyatakan permohonan maaf atas penyertaan tutup kepala menyerupai suntiang Minangkabau, dalam karyanya yang dikenakan artis Sofia Latjuba pada salah satu pagelaran fashion beberapa waktu lalu. Anne mengaku hal tersebut mutlak kekeliruan yang ia lakukan. Sehingga ia merasa bertanggung jawab untuk meminta maaf kepada seluruh masyarakat Minangkabau.

Permintaan maaf tersebut disampaikan Anne melalui sepucuk surat yang ia tulis di Jakarta pada Senin (9/4). Surat tersebut kemudian diunggah oleh Kepala Biro Humas Setdaprov Sumbar Jasman Rizal, di akun Facebooknya. Jasman menyatakan kepada wartawan, berkaitan dengan permohonan maaf tersebut, Pemprov Sumbar mungkin tak akan melanjutkan upaya somasi atas kejadian tersebut.

Lebih lanjut, dalam surat panjang itu Anne Aviantie menjelaskan, polemik pemaduan suntiang dengan kebaya rancangannya berawal dari lepas kontrol dan komunikasi antara dirinya dengan orang-orang yang membantunya memasangkan suntiang tersebut kepada Sofia Latjuba. Sebelum kejadian, ia meminjam beberapa hiasan rambut, termasuk suntiang, untuk melihat apakah ada bagian suntiang yang bisa ia kolaborasikan dengan aksesoris lainnya.

Namun karena padatnya kegiatan yang ia kelola malam itu, termasuk menyambut kehadiran Ibu Wakil Presiden Mufidah Jusuf Kalla, Ibu Sinta Nuriah Wahid, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti,  ia pun tidak sempat memberikan instruksi apa pun kepada orang-orang yang membantunya malam itu, termasuk untuk memasangkan suntiang.

“Awalnya rencana saya merangkainya dengan hiasan lain dari bunga. Semua terjadi karena kurangnya komunikasi antara saya dan yang terlibat dalam memasang suntiang itu. Namun sekali lagi ini sudah terjadi dan saya mohon maaf,” tulisnya menjelang akhir tulisan.

Sebelumnya, ketua Penasihat Bundo Kanduang Sumbar Nevi Irwan Prayitno menyayangkan rancangan busana dari disainer terkenal tersebut. Bahkan, untuk mencegah terjadinya kejadian serupa, pihaknya berencana melakukan somasi kepada disainer bersangkutan.

Namun, atas permintaan maaf langsung dari Anne Avantie, Kabiro Humas Jasman Rizal menyebutkan rencana somasi mungkin tidak jadi dilakukan. "Somasi itu untuk menuntut maaf dari Anne Avantie. Sebagai orang beragama, kalau yang bersangkutan sudah minta maaf atas kesadaran sendiri tanpa paksaan dan tulus, tentu somasi dipertimbangkan untuk tidak dilanjutkan," kata Jasman.

Sementara, Wakil Ketua DPRD Sumbar, Arkadius Datuak Intan Bano mengatakan, suntiang sebagai identitas pengantin wanita Sumbar sangat tidak tepat dipadankan dengan pakaian terbuka. Dituturkan Arkadius, harusnya Anne Avantie tidak berbuat seperti itu.

Memasangkan suntiang dengan pakaian wanita yang menampakkan aurat. Ia menyampaikan, kebebasan berekpresi adalah suatu yang dibolehkan, tapi jangan menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal dari kebudayaan suatu daerah.

"Maka dari itu secara pribadi dan mewakili kelembagaan DPRD saya mendukung sikap bundo kanduang provinsi Sumbar bersama istri-istri bupati/walikota dan istri gubernur mengambil langkah somasi guna mengingatkan Anne Avantie," ujar Arkadius saat berbincang dengan Haluan, Senin (9/4).

Arkadius juga setuju dengan usulan Ketua LKAAM Provinsi Sumbar, M Sayuti Datuak Rajo  Penghulu yang mendesak agar pakaian Minangkabau sebagai kekayaan daerah dipatenkan.

"Tak hanya sekadar masalah pakaian, kita setuju semua kearifan lokal dan produk lokal Minangkabau dipatenkan oleh pemerintah daerah. Hal ini agar kekayaan intelektual, produk atau kearifan lokal yang kita miliki tidak disalahgunakan oleh pihak lain," tukasnya.

Sebelumnya, Ketua Bundo Kanduang Provinsi Sumbar, Puti Reno Raudah Thaib juga menuturkan, pakaian penganton perempuan minang boleh dimodifikasi tapi tak boleh lari dari koridor yang telah ada.

"Mau dimodifikasi silakan, tapi jangan mengurangi nilai. Pakaian pengantin Minangkabau itu sudah ada acuan adat dan acuan agamanya. Meski setiap daerah di Minangkabau punya ciri khas berbeda, kuncinya tidak boleh menampakkan aurat," papar Raudah.

Bagi perancang busana yang melakukan modifikasi terhadap pakaian pengantin Minangkabau, Raudah Thaib mengimbau agar berpedoman pada acuan yang telah ada tersebut. Tidak asal dimodifikasi sesuai keinginan selera saja. Ditambahkannya, jika dimodifikasi tanpa melihat pada acuan yang ada, itu sudah tidak bisa disebut pakaian Minangkabau.

"Meski bentuknya mirip, kalau melanggar acuan, bukan pakaian Minangkabau lagi namanya," ucap Raudah. (h/len/isq)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]