Soal Novel Baswedan, Presiden Didesak Bentuk TGPF


Kamis, 12 April 2018 - 09:54:24 WIB
Soal Novel Baswedan, Presiden Didesak Bentuk TGPF Warga yang tergabuung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Sumatera Barat Antikorupsi memakai topeng bergambar Novel Baswedan di Tugu Monumen Gempa, Rabu (11/4). Mereka mendesak Presiden Jokowi untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), menyelesaikan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK) Novel Baswedan. IRHAM

PADANG, HARIANHALUAN.COM — Puluhan aktivitas yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Sumatera Barat Antikorupsi berkumpul di Tugu Monumen Gempa, Rabu (11/4) malam. Mereka mendesak Presiden Jokowi untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), menyelesaikan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

“Kami mendesak Presiden untuk merealisasikan TGPF yang sempat dijanjikan. Namun hingga sekarang belum juga diwujudkan,” kata Perwakilan Masyarakat Sipil Sumbar Anti Korupsi Hendriko Azhar kepada Haluan, Rabu (11/4).

Baca Juga : Positif Corona di Sumbar Bertambah 87 Orang, Total 29.467 Kasus

Dikatakan Dosen Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta ini, satu tahun sudah perkara kasus ini belum juga terselesaikan. Sepertinya polisi sebagai institusi negara sekalipun, dirasakan tidak berniat menyelesaikan kasus ini secara serius. Padahal, lanjutnya negara ini sudah memiliki cukup bukti dan kecanggihan peralatan yang dipunyai untuk menyelesaikan kasus ini. Hingga kini, otak dan pelaku penyiraman tersebut masih belum terungkap.

“Kami menggagas aksi ini agar kita tidak lupa. Karena kecenderungan kita gampang sekali melupakan masalah-masalah kemanusian. Kami menuntut penyelesaian,”jelasnya.

Baca Juga : Deklarasi Tolak KLB, Tegaskan Demokrat Solid dan Tegak Lurus dengan AHY

Menurutnya, kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, merupakan ancaman serius terhadap upaya pemberantasan korupsi di Tanah Air. Pemerintah harus bersikap tegas dalam mengusut serta mengungkap aktor intelektual di balik serangan tersebut.

Penyerangan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan, terjadi tepat 1 (satu) tahun yang lalu. Pada 11 April 2017, Novel disiram air keras oleh orang tidak dikenal saat pulang dari menjalankan salat subuh di masjid tak jauh dari kediamannya.

Baca Juga : Kunjungan ke BLK Padang, Wagub Audy: Ini Menakjubkan Sekali!

Aksi ini diduga kuat erat kaitannya dengan kasus korupsi e-KTP yang tengah diusut KPK. Teror terhadap Novel merupakan ancaman terhadap agenda pemberantasan korupsi. Orang atau kelompok yang melakukan teror terhadap novel ini tentu memiliki tujuan agar proses hukum terhadap kasus yang sedang ditangani KPK terhenti.

“Kasus Novel ini, setidaknya membuktikan bahwa negara telah gagal dalam memberikan rasa aman dan perlindungan bagi siapa pun yang bekerja untuk melawan korupsi di Indonesia,”katanya.

Baca Juga : Putra-Putri Terbaik di Indonesia Siapkan Diri, Penerimaan Polri Segera Dibuka

Disebutkannya, aksi ini juga sekaligus peringatan tak hanya untuk pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah Provinsi Sumbar yang masih banyak kasus-kasus korupsi yang perlu diselesaikan dengan baik hingga saat ini.

“Ini sebagai bentuk kegelisahan kawan-kawan yang ada di Sumbar, dan juga nasional dalam melihat kasus penyidik senior KPK,”tuturnya.

Aksi menuntut keadilan untuk Novel Baswedan ini dimulai dari pukul 19.00 WIB hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Koalisi Masyarakat Sipil Sumatera Barat Antikorupsi melakukan musikalisasi puisi, dan membacakan tuntutan untuk segera menyelesaikan kasus ini. (h/mg-mel)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]