Komik di Indonesian Art Award (IAA) 2018 Bukan Komik Sekadar!


Kamis, 12 April 2018 - 19:50:01 WIB
Komik di Indonesian Art Award (IAA) 2018 Bukan Komik Sekadar! Foto Komik (Donny Anggoro)

Oleh: Donny Anggoro

Ada yang menarik dari hajatan Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI) di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, yang berlangsung pada 8—18 April 2018. Dengan mengusung tema “Dunia Komik”, hajatan  Indonesian Art Award (IAA) 2018 kali ini berbeda dari pameran seni rupa atau komik kebanyakan. Bertema “Bahasa Budaya Cerita Gambar”, kolaborasi antara animasi digital, seni instalasi, seni rupa, dan komik memberikan keunikan tersendiri sekaligus beragam informasi dan makna lain yang mungkin baru kali ini terkuak kepada publik.

Baca Juga : WhatsApp Bisa 'Mati Suri' Tak Lama Lagi? Begini Faktanya

Menurut Hikmat Darmawan, salah satu tim kurator, tema ini berawal dari amatan Jim Supangkat, ketua curator, yang merasa seni rupa modern (kontemporer) sebenarnya tengah mengalami krisis sehingga perlu ada sikap kritis, salah satunya dengan menghidupkan perhatian pada komik.

“Seniman kontemporer banyak mengambil tema atau terinspirasi dari komik, lantas komiknya sendiri jadi apa? Sedangkan hasil karya seni rupa kontemporer perlahan terkesan ganjil, asyik sendiri. Dalam perkembangan selanjutnya Pak Jim mengajak Mas Iwan Gunawan dari Fakultas Seni Rupa IKJ, dan saya (Hikmat) untuk menggodok tema ini lebih dalam. Pembahasan selanjutnya terdapat bahwa komik pun jalan sendiri, sehingga untuk tahun ini disepakati untuk membuat semacam pergeseran sehingga komik diperlakukan sebagai seni rupa,“ ujarnya.

Baca Juga : WhatsApp Dibajak Pelaku Kejahatan, Ini Tips Menghindarinya

“Kami membuat undangan dan lomba terbuka kepada siapa saja yang berminat selain ada juga beberapa nama yang kami undang secara khusus. Yang mengirimkan karya tak terbatas bukan kepada komikus saja. Dan hasilnya bukan hanya media kertas atau semacam tumpukan buku komik yang disusun secara artistik seperti pameran komik biasa, komik-komik ini tertuang di berbagai media, mulai dari kanvas, kaleng bekas, kayu, patung, kaleng kerupuk, ember, cat besi, bahkan kasur kapuk. Ya, tiap komikus dibebaskan memiliki kiblat pada bahasa komik dan media yang mereka gunakan,” tuturnya.

“Kami dikejutkan dengan masuknya 411 karya komik yang siap dinilai pada tahap awal penjurian. Diseleksi lagi menjadi 350—60 karya, sampai 160 untuk dinilai juri yang melibatkan masyarakat penikmat seni, sampai diputuskan 129 karya yang layak pameran. Padahal sempat muncul juga keraguan apa iya nanti ada yang mengirim, sementara ada juga beberapa nama yang kami undang khusus ternyata tak mengirimkan karya karena kesibukan. Kurang lebih sejak Juni 2017 hingga Maret 2018 persiapan pameran ini dilangsungkan. Nyatanya, ada lebih dari 50 persen peserta nama baru dengan karya-gagasan unik, segar, profesional,” ucap Hikmat.

Baca Juga : Badai Luar Angkasa Pertama Kali Terdeteksi di Bumi

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]